Jangan pergi kak!

1147 Kata
Sara sedang menunggu di rumah ditemani Adit, meskipun raut wajahnya yang tampak tenang tapi dalam hati perempuan itu juga mencemaskan putra kesayangannya itu. Mendengar suara mobil yang berhenti di garasi rumah Sara dan Adit segera pergi keluar rumah untuk menghampiri suami dan anak-anaknya. Alangkah terkejutnya saat melihat wajah Halan yang penuh dengan memar. Ia Sara segera menghampiri Halan sambil menangkup wajah putranya itu untuk memastikan apakah masih ada luka yang lain. Ia bertanya pada sang suami tentang siapa orang yang berani memukul putranya itu. Maulana hanya menjawab dan meminta Sara bertanya sendiri pada anak sulungnya itu. Maulana segera berjalan menuju rumah yang dibuntuti oleh seluruh anggota keluarganya. “Pa, maksud papa apa ? pa,”teriak Sara yang membuat semua orang berhenti di ruang tamu. “Anak kesayangan kamu ini tadi berada di kantor polisi karena terlibat perkelahian di tempat kerjanya dan asal kamu tahu dia (menunjuk Halan) sudah dua bulan tidak melakukan pratek koasnya,” terang Maulana. “ Apa, Halan apa benar yang dikatakan papa kamu itu?,” tanya Sara pada Halan mencari kebenaran. “Halan jawab mama nak,” titah Sara sedikit memaksa. “Seandainya Gia tidak kasih tahu papa tentang semua ini mungkin kita akan terus dibohongi sama dia, mau kamu itu apa Halan sampai berani bohongi kita?,” ujar Maulana. “Dia bekerja di sebuah club malam sebagai seorang pelayan yang melayani tamu VIP dan akan mendapatkan tips lebih jika melakukan apa yang diminta para tamu itu, kamu ngerti maksud papa kan ma, papa tidak habis pikir kenapa kamu mau melakukan itu, apa yang kamu,” tambah Maulana lagi. “Ini karena aku gak mau jadi dokter, aku gak mau jadi dokter pa, aku ingin jadi chef pa” ujar Halan dengan suara lantang dan membuat terkejut yang ada di ruangan itu. “Apa kamu bilang gak mau jadi dokter maksudnya apa?” ujar Sara terkejut mendengar ucapan Halan. “Kenapa kamu gak pernah mau cerita sama papa Halan,”tanya Maulana. “Apa papa pernah tanya sama aku, apa papa pernah perhatian sama aku, yang papa bela hanya Gia, yang papa pikirkan hanya Gia, yang papa bela hanya Gia, lalu apa salah jika aku mencari pekerjaan sendiri untuk memenuhi kebutuhanku sendiri kenapa kalian marah,”ucap Halan emosi. Maulana tercekat mendengar amarah putranya itu. Ia membenarkan perkataan Halan dalam hatinya. Benar adanya jika dirinya selama ini hanya memperhatikan Gia karena sikap sang istri yang selalu berbeda pada putrinya itu. Sementara Sara terkejut mendengar ucapan putranya itu langsung menampar Halan. “Kamu melakukan ini hanya untuk diperhatikan Papa,” ucap Sara emosi “Lalu kamu anggap apa semua perhatian mama ke kamu selama ini hah,” Sara semakin geram. “Yang mama berikan bukanlah perhatian melainkan sebuah keharusan, kewajiban dan peraturan yang harus Halan patuhi dan penuhi, mama harus tahu bahwa Halan tidak akan pernah bisa memenuhi apa yang mama mau karena Halan bukan mama,” ujar Halan semakin emosi. “Memang benar Halan melakukan ini untuk menarik perhatian papa tapi Halan juga ingin menunjukkan sama mama juga papa bahwa Halan punya bakat lain yang akan membuat kalian bangga,”tambah Halan lagi. “Keluar kamu dari rumah ini sekarang!,” pinta Sara tegas pada putranya itu “Tidak ada yang berhak mengusir siapapun dari rumah ini apa kamu paham Sara,” ujar Maulana mendengar ucapan istrinya itu. “Halan sudah tidak butuh pembelaan dari siapapun lagi jika memang mama mau Halan pergi baik akan segera Halan kabulkan malam ini juga,” ujar Halan tegas dan segera menuju kamarnya. Halan segera masuk kamarnya dan membereskan semua barang dan pakaian kemudian dimasukkan ke dalam koper. Gia memohon padanya untuk tetap berada di rumah di rumah sambil menangis tersedu-sedu dan meminta maaf. Begitu juga Adit yang tampak memohon dengan sangat pada kakak tertuanya itu sambil berusaha mengembalikan barang yang sudah dimasukkan ke koper di tempat semula. “Kak, maafin Gia ya kalau seandaninya Gia gak kasih tahu tempat kerja kakak sama papa mungkin gak jadi kayak gini,”ujar Gia penuh sesal. “Iya kak, kalau kakak pergi aku gimana kak?,”tanya Adit sendu. “Kak maafin Gia, maafin Gia,” ujar Gia semakin tersedu memegangi kaki sang kakak Merasa kasihan pada kedua adiknya yang sudah memohon dengan sangat akhirnya hati Halan luluh. Ia mengajak Gia untuk berdiri dari jongkoknya kemudian mengajak Adit untuk ikut duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia menjelaskan bahwa keinginannya menjadi seorang chef itu sudah cukup lama dan kali ini dirinya mendapatkan kesempatan untuk meraih apa yang ia inginkan itu. Halan juga bercerita bahwa dirinya mendapatkan beasiswa penuh untuk studinya namun pihak kampus tidak memberikan biaya tambahan untuk biaya hidup di sana. Hal inilah yang menjadi alasan bekerja sebagai pelayan karena untuk mengumpulkan biaya hidup untuk sekolah nanti. Tiba-tiba papa mereka datang lalu berjalan gontai ke pinggir ranjang putranya itu. “Ambil ini!,” pinta Maulana pada Halan sambil menyodorkan kartu ATM. “ATM untuk apa pa?,” tanya Halan bingung. “Dalam ATM ini ada uang sekitar tujuh puluh juta , kamu pakai itu untuk beli keperluan kamu nanti di sana dan ingat kamu juga harus cari kerja di sana jangan mengandalkan dari ATM ini saja paham,”terang Maulana pada putranya itu. “Tapi pa uang ini bukannya tabungan papa untuk naik haji kenapa papa kasih ke Halan?,” tanya Halan bingung. “Anggap ini tanda maaf dari papa karena kurang memperhatikan kamu tapi janji satu hal,” ucap Maulana sambil tersenyum. “Apa pa, Halan harus janji apa?,” tanya Halan penasar. “ Jangan pernah berani balik ke rumah sebelum mendapatkan gelar chef paham,”ujar Maulana yang membuat ketiga anaknya tersenyum lebar. “Iya pa Halan janji bakalan jadi chef,” ujar Halan sumringah. Gia dan Adit yang kembali teringat akan kejadian perginya kakak mereka itu merasa bersalah. Adit yang paham maksud kakak perempuannya itu mencoba menghibur. “Udahlah kak gak perlu disesali semua kejadian yang dulu, coba kakak ambil positifnya aja seandainya jika kejadian malam itu gak terjadi mungkin kak Halan gak bisa mewujudkan mimpinya dengan tenang tidak sembunyi-sembunyi lagi kan,” ujar Adit “Iya kamu benar Dit, mungkin sekarang Kak Halan merasa tertekan karena harus menjalani apa yang tidak mau ia lakukan,” ujar Gia sendu. “Omongan kamu itu memang kadang ada benernya,” ujar Gia. “Bukan kadang lagi kak, memang udah sering omongan aku itu selalu ada benarnya kak,” ujar Adit hingga membuat Gia menepuk ringan lengannya. Suara dering Handphone milik Adit membuyarkan lamunan kedua adik kakak itu. Adit segera membuka pesan yang masuk dari sang Kakak tertua. “Alhamdulilah kak Halan diterima kak persentasinya kata kliennya mereka suka sama makanan yang kak Halan buat dan mulai bulan depan kak Halan diangkat jadi chef tetap di resto mereka kak,” terang Adit sumringah “Yang bener Dit mana sini,” merebut Handphone sang adik. “Alhamdulilah,”ujar Gia HIsteris dan senang setelah membaca pesan itu seraya memeluk Adit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN