Kamu Tahu Salah Kamu Apa ?

1090 Kata
1 tahun setelah pengumuman Halan menjadi chef Sara sedang asyik menonton televisi tiba-tiba ada berita yang mengatakan tentang seorang pengusaha sukses dan menjadi orang terkaya no 7 di Indonesia. Rupanya orang itu adalah Aufar melihat sang cucu yang sedang asyik bermain di bawah sambil berujar. “Seandainya mama kamu itu dulu milih orang yang di tv itu dia pasti udah bahagia banget dan oma gak perlu lagi tinggal dengan opa kamu” ujar Sara berseloroh pada sang cucu. “Maksud mama apa bicara seperti itu di depan Yumi,”ujar Gia yang baru datang membawa camilan buah untuk putrinya itu. “Ya sayang aja kamu lebih memilih pria yang penghasilannya tidak jelas daripada pria yang memilki kekayaan diluar nalar kayak Aufar,”ujar Sara sinis. “Penghasilan yang tidak jelas maksud mama apa ?,” tanya Gia agak tersinggung dengan ucapan sang Mama. “Ya maksud mama suami kamu itu penghasilannya gak jelas karena dia Cuma mampu mencukupi kebutuhan rumah aja, gak mampu mencukupi kebutuhan kamu, mama dan yang lainnya coba dulu kamu pilih Aufar kita bakal hidup lebih dari cukup,”tutur Sara santai. “Cukup ma, mama boleh ,meremehkan, menghina bahkan tidak mengacuhkan Gia tapi mama tidak berhak menjelekan bahkan menghina mas Ahmad seperti itu,”ujar Gia yang kenapa hari itu ia tidak bisa menahan emosinya. “Menghina, mama hanya berujar sebuah fakta bahwa penghasilan suami kamu itu tidak cukup untuk keluarga kita bahkan membelikan kamu peralatan untuk make up saja dia tidak mampu,”ledek Sara. “Cukup ma, sebenarnya apa ma? Apa yang membuat mama begitu tidak menyukai Gia dan mas Ahmad apa salah kami ?,”ujar Gia menahan tangisnya. “Kamu mau tahu salah apa ? salah kamu adalah ada dan terlahir dari rahim ku,”ujar Sara sarkas. Sementara Gia yang mendengar hal itu merasa jantungnya tertikam pisau yang tajam. Bagaimana mungkin sang mama begitu tidak menginginkan keberadaannya. “Maksud mama,” ujar Gia terbata dan air matanya sudah jatuh tanpa aba-aba. “Gara-gara kamu ada karir yang selama ini mama bangun dengan susah payah semuanya hancur berantakan,” ujar sara emosi. “Gara-gara kamu pria yang dulu mau menjadikan mama istri memutuskan hubungan kami padahal kalau kamu tidak ada, mama akan menikah dengannya dan mungkin saat ini mama sudah menjadi ibu tiri yang baik untuk Aufar,” tambah Sara dengan mengebu-gebu. Adit yang sedang bersiap untuk bekerja keluar dari kamarnya karena terganggu akan keributan yang terjadi. Dia hendak melerai antara mama dan sang kakak namun langkahnya terhenti saat namanya disebut. Ditambah lagi ia terkejut saat sebuah kalimat yang mengejutkan hatinya. “Setelah mama kewalahan dengan kehadiran kamu, papa kamu malah menambah kesulitan keluarga kita dengan menambahkan satu anggota keluarga yang lain,”ucap sara semakin keras. “Keluarga lain, maksud mama apa?,”tanya Gia bingung “Asal kamu tahu seseorang yang selalu kamu bilang adik yang luar biasa itu bukanlah bagian dari keluarga kita melainkan anak dari keluarga papa kamu yang kedua orang tuanya sudah meninggal, jadi Adit itu bukanlah anak kandung mama dan papa kamu paham,” ujar Sara sarkas dan tajam. Mendengar hal itu Gia kaget dan entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa sakit dank ram. Pandangannya perlahan buram hingga akhirnya gelap dan hanya mendengar suara tangisan Yumi dan teriakkan Adit. Adit yang sedang menguping keributan itu juga merasa terkejut mendengar pernyataan yang keluar langsung dari sang mama. Pikirannya penuh dengan pertanyaan namun matanya menangkap sang kakak limbung dan terjatuh jika ia tidak sigap menangkapnya. Sara agak sedikit kaget melihat Adit berada dihadapannya. Adit melihat darah yang keluar dari tubuh bagian bawah sang kakak kemudian memanggil taksi online dengan telepon genggamnya . Setelah itu dengan sigap ia membopong Gia dengan bantuan sang driver taksi online itu kemudian ia menggendong Yumi dalam pelukannya. Sementara Sara hanya diam memandangi Adit yang sibuk mengurusi Gia tanpa ada rasa bersalah apapun. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Adit menelpon Ahmad dan Sang Papa. Begitu sampai di rumah sakit Gia langsung dibawa ke ruangan IGD. Ahmad yang mendapat kabar bahwa sang istri masuk rumah sakit. Ia langsung menunda siarannya dan segera menuju rumah sakit begitupun dengan Maulana yang menunda kegiatan mengajarnya. Adit yang sedang sibuk menggendong Yumi yang rewel di lorong rumah sakit langsung merasa lega saat kakak iparnya memanggil. Sesaat kemudian Maulana datang menghampiri putra dan menantunya itu. “Kenapa kakak kamu bisa sampai masuk rumah sakit Dit?,” tanya Maulana pada Adit. “Kronologi awalnya Adit kurang jelas tapi kak Gia pingsan saat dengar mama,”ucapannya tertahan dan ragu untuk mengungkapkannya. “Bicara apa mama kamu,”desak Maulana. “Saat mama bilang kalau Adit bukan anak kandung mama sama papa,” ujar Adit sendu. Tak lama suster memanggil keluarga Gia untuk datang menemui dokter. Maulana meminta Ahmad untuk ikut dengan perawat itu. Ahmad menyerahkan Yumi pada Adit dan kemudian mengikuti perawat itu menuju ruang dokter. “Jadi bagaimana keadaan istri saya Dok,”tanya Ahmad merasa khawatir. “Sebelumnya saya minta maaf dan mengucapkan turut berduka cita yang sedalamnya karena janin dalam kandungan istri anda tidak bisa saya selamatkan,” ujar dokter itu merasa menyesal. “Janin, maksud anda istri saya,”ucapannya terpotong oleh dokter. “Jadi anda tidak tahu kalau istri anda itu sedang hamil,(Ahmad menggeleng perlahan) bagaimana bisa anda tidak tahu istri anda sedang hamil Pak,”ujar dokter itu agak kecewa akan pengakuan Ahmad. “Istri anda itu sedang hamil usia kandungannya masih sangat muda mungkin sekitar 4 atau 5 minggu, saya tidak tahu apa yang terjadi tapi saya hanya bisa menduga bahwa penyebab istri anda mengalami keguguran adalah sebuah tekanan batin,” terang dokter itu. “sekali lagi saya ucapkan turut berduka cita pak,”ujar dokter itu lagi. “Terima kasih pak,”jawab Ahmad lalu meninggalkan ruangan dokter. Langkahnya terasa berat, hatinya merasa begitu bersalah karena bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa sang istri sedang mengandung hingga mengalami keguguran. Ia juga merasa bingung bagaimana menyampaikan berita duka itu pada sang istri. Sang mertua mendekati dan kemudian memeluknya. Bahunya yang bergetar begitu hebat menandakan beban yang ditanggunnya begitu berat. Maulana tanpa diberitahupun seolah paham apa yang dirasa sang menantu. “Gia itu sedang hamil pa, tapi mengalami keguguran,” ujar Ahmad terbata. “Tolong maafkan istri papa nak,”ujar Maulana tak kuasa menahan tangis berusaha kuat di depan sang menantu. “Ahmad papa mohon dengan sangat sama kamu nak, tolong bawa Gia dan Yumi keluar dari rumah kami mulai dari saat ini,”tutur Maulana terisak memohon dengan sangat pada menantunya itu. “Adit juga kak, meminta permintaan yang sama kak,”imbuh Adit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN