Pak Ujang menepuk bahu Sean pelan sambil mengangguk. "Den Darius udah datang. Saya pamit balik ke pos aja, ya, Den. Tolong jagain Den Darius. Kasian dia. Kayaknya akhir-akhir ini lagi banyak pikiran." Sean membalas anggukan pak Ujang dengan senyuman. Kemudian mencoba memapah Darius yang terkapar di lantai ke dalam kamarnya---setelah terlebih dahulu bersusah payah mencari kunci itu dari dalam saku celananya. "Gila! Ternyata badan lo yang segede bagong ini kalau lagi enggak sadar makin tambah berat aja ya, Dee? Uuh." Darius mencoba tersenyum dalam setengah kesadarannya pada Sean yang terengah-engah. "Thanks, Bro." "Mulut lo bau banget, Anjir. Mabok apaan sih lo? Baunya kayak ramuan pembalut cewek campur menyan sama tapai singkong!" gerutu Sean. Darius mengikik. "Enggak tahu. Gue be

