Sudah seminggu ini Rara mengurung diri dikamarnya, sudah seminggu ini juga ia tidak ketoko kuenya, ia masih sangat syok dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Setiap kali ia melihat pantulan dirinya di cermin ia akan marah ia merasa sangat jijik dengan tubuhnya, bagaimana bila ia hamil.
Tok... Tok.. Tokk
Pintu terbuka Bima masuk kedalam kamar Rara perlahan. Sudah seminggu ini Bima selalu mengajak Rara untuk menikah.
" Ra kamu sudah baikan "
Rara hanya diam tak ada niatan menjawab pertanyaan tersebut.
Bima menghampiri lalu meraih kedua tangan Rara, Rara yang tersadar lalu dengan cepat menarik tangannya.
" Kamu lebih menjijikan dari Huda ...!
" Iya. Maafin aku ya, aku gak sadar ngelakuin itu "
" Pergi...! "
" Rara, menikahlah dengan ku.. "
" Gak Sudi...! "
" Kalau kau mengandung..? "
" Keluar...! "
Rara melempar Bima dengan buku-buku yang ada di atas nakasnya.
" Oke oke tenang aku keluar "
Drrt... Drrt... Drrtt...
" Rara... Kapan ke toko banyak banget yang beli aku kewalahan Ra " suara cempreng di sebrang teleponnya memenuhi telinga Rara
" Besok ya Mey " ucap Rara dengan suara berat karena habis menangis
" Rara nangis ...? Huda lagi...? " Ucap Rara
" Aku kesana sekarang ya " ucap Mey .
" Enggak uss...." Belum selesai kata kata yang Rara ucap kan teleponnya telah terputus
Tak berapa lama kemudian.
" Raraaa...! ". Mey berteriak lalu menubruk tubuh mungil Rara.
" Aduh Mey, bisa mati aku kamu tubruk terus " gerutu Rara
" Kangen aku tuh Ra, Alhamdulillah Ra toko ramai buanget Raa sampe kewalahan aku " Mey bercerita dengan antusias
" Alhamdulillah Mey... Mau tambah karyawan lagi bulan ..? " Tanya Rara
" Iya yang buat kue sama yang ngantar kan pesenan, oiya Ra dapet orderan brownis 500 box Ra " ucap Mey sangat senang
" Alhamdulillah... Makasih ya Mey, kamu bantu aku jaga toko ntar hasilnya bagi 2 deh " ucap Rara
" Gak perlu Ra aku mau bantu aja hehe yang penting nyicipin kuenya hehe "
" Kamu kenapa Ra kok banyak pikiran kayaknya "
" Enggak Mey perasaan kamu aja kali " elaknya
Sesaat kemudian Bima masuk kekamar Rara ia tak tau jika dikamar Rara ada Mey yang sedang asyik bercerita.
" Raa,, makan dulu dari kemari belum makan " Bima menaruh makanan di atas nakas, ia tersentak saat menyadari bahwa dikamar ini juga ada Mey.
" Eeeh,, Mey makan Mey " ucapnya kikuk berusaha senetral mungkin.
Rara hanya diam dan membuang muka saat ada Bima di kamarnya.
" Aku pamit . Mey jaga Rara "
Sesaat setelah Bima pergi Mey menjadi begitu heboh.
" Raa, mas Bima perhatian banget, mau deh punya pacar kaya dia "
" Ckk... Jijik Mey gak usah sebut nama si b*****t itu " ketusnya
" Mas Bima b*****t Ra ...? Kamu ada masalah sama masa bima...? Tanya Mey penasaran
Rara yang tersadar bahwa ia kelepasan bicara langsung mencari alasan lain.
" Oh kak Bima dengerku Huda Mey sorry gak fokus "
" Jauh Ra. Bima sama Huda " celetuk Mey
" Kamu tumben sembab gini ...? Habis nangis " tanya Mey hati hati
" Enggak aku cuman kangen mamah " lirihnya
" Telepon Ra ... "
Rara pun mengiya kan usulan sahabatnya.
kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon ibunya
Tuuuut...tuuuut ...tuuut
Nada sambungan terdengar tak lama kemudia teleponnya diangkat.
" Halo anak mama yang cantik, kakak apa kabar sayang " sapa suara disebrang telepon
" Alhamdulillah,, Rara baik mah, mamah apa kabar ...? Gimana lancar semua kan kerjaan nya di sana ...? "
" Iya dong sayang lancar. Gimana kak Bima nak kamu gak bandel kan ? " Ucap mamah ny
" Enggak mah kak Bima baik banget " Rara tersenyum masam menceritakannya
" Ya sudah sayang nanti mamah telepon lagi ya, love you jaga diri di sana selama mama gak ada nurut sama kakakmu " ucap jbunya mengingat kan .
" Iya mah "
Kemudian sambungan telepon terputus.
Sesak rasanya d**a Rara seakan ada benda berat puluhan kilo yang menimpa dadanya, entah rasanya sangat sakit, berkali kali Rara memukuli dadanya agar berkurang rasa sakitnya.
Tanpa terasa ia terisak, ia tak tahan lagi menahannya ia segera menumpahkan air mata nya agar ringan terasa bebannya.
" Hiks... Hiksss.. hikss,,, huuaaaa ... "
" Eeh Rara kenapa,, Raa ... Rara kenapa " ucap Mey kebingungan karena Rara yang tiba-tiba menangis, ia dengan segera memeluk Rara dan memenangkan nya.
" Kamu kenapa Ra... Kenapa begini...? " Ucap Mey cemas
" Gak papa hiks.. hikss.. aku cuman perlu sandaran, Mey jangan tanya aku kenapa karena aku gak bisa jawab " ucapnya sambil tergugu.
" Iya maafin aku, aku gak bakal tanya lagi tapi kalok kamu mau cerita aku siap denger " ucap Mey lalu menghapus jejak-jejak air mata dipipi Rara .
" Jangan nangis kalok kamu nangis kamu jeleknya nambah " hibur Mey sambil tersenyum
" Makasih udah ada buat aku ya Mey "
" Iya Ra " ia kembali memeluk Rara
Krrucuk... Krrucuk..
" Meeyyy...! " Berteriak kemudian tertawa mendengar perut Mey berbunyi
" Cacingnya nakal Ra, aku emang belum makan sih hihi " Mey cengengesan
" Aku makan yang dibawakan mas Bima boleh Ra " ujar Mey yanpa malu
" Boleh sayang, ayo kebawah sekalian makan bareng "
Akhirnya mereka berdua makan bersama di dapur, Mey memakan nasi yang Bima ambilkan untuk Rara .
Mereka makan dengan khidmat tanpa ada suara yang keluar dari mulut, entah sangking kelaparan atau memang tak ada topik pembicaraan.
Setelah selesai makan Mey pun pamit kembali ke toko kue .
▪️▪️▪️▪️
Pagi ini Rara sudah rapi ia menggenakan kemeja bermotif floral dipadukan dengan rok berwarna hitam diatas lutut ia juga menggenakan high heels tas selempang , Rara tampil beda hari ini.
Ia turun untuk sarapan, dimeja makan sudah ada Bima yang menikmati sarapannya, Rara tak menghiraukan nya ia duduk dengan santainya berusaha bersikap senormal mungkin.
" Gak terlalu kebuka apa Ra pakaian mu " celetuk Bima
" Makan saja makananmu tak perlu kau urus urusan ku " balasnya sinis. Lalu menyuapkan makanan kemulutnya.
" Gak baik gadis keluar dengan pakain seperti itu Ra "
" Kamu siapa ku haa...? Cukup kau rusak masa depan ku jangan lagi rusak hari ku, ngerti pak Bima Atmajaya...? " ujarnya sinis lalu meninggalkan meja makan.
Bima segera menyusul keluar rumah dilihatnya Rara tengah berbincang di telepon, Bima diam diam mencuri perbicangan keduanya.
" Iya Van di depan aja jemputnya "
......
" Ini aku udah di luar nunggu kamu "
......
" Novan...! " Langsung berlari memeluk Novan , Novan merasa aneh dengan sikap Rara hari ini
" Ihh tumben peluk peluk biasanya dipeluk gak mau Ra " Celetuk Noven
" Udah ah mending kita jalan aj Van "
Novan segera membukakan pintu mobilnya.
Dengan senang hati Rara masuk kedalam mobil Novan, sedangkan di balik pintu Bima menatap tak suka melihat kedekatan Rara dan novan
................
" Maaf kalok aku bikin kamu gak nyaman tadi Van " ucap Rara kikuk
" Ehh gak papa kali raa, malah seneng aku kamu mau peluk aku " ucap Novan sambil terkekeh
" Ouh iya kamu kapan berangkat ke Jogja Van...? "
" Besok Ra, hari ini habisin waktu bareng aku ya Ra, soalnya lama baru ketemu " ucap Novan sambil terus memandang Rara
" Ke toko sebentar ya, kita pamiy sama Mey "
" Oke ...! Cantik "
" Hmmm..."
" Kamu cantik hari ini Ra " ucap Novan memperjelas kata katanya
Seketika wajah Rara memamas, oh tidak wajahnya mirip seperti tomat saat ini.
" Kenapa Ra...? Gak sukak ya...?
" Enggak, sukak ehh aku..a " Rara gugup menjawab pertanyaan tersebut.
" Ra mau gak jadi pacar aku ...? " Ucap Novan tiba-tiba
" Novan... Becandamu kelewatan Van ini hati bukan game " ucap Rara tak percaya mendengar ajakan Novan.
" Aku serius Ra " ucapnya sambil menatap lekat kearah rara
" Aku gak pantes buat kamu Van " lirihnya
" Aku bakal tunggu kamu sampe aku pantas buatmu " ujar novan
" Aku Van bukan kamu " ketus Rara Novan terkekeh mendengarnya Rara yang kesal
Mobil yang ia kendarai sampai ditoko kue nya
" Rara..! " Suara cempreng Mey menyambut kedatangan mereka
" Pagi bu... " Beberapa karyawan toko
" Mey gue bawa Rara seharian ini boleh ya Mey " tanpa basa-basi Novan meminta izin pada Mey
" Boleh mas Novan Alexander, tapi inget martabak telor, bakso, martabak manis rasa coklat keju, ah es Boba " ucap Mey mengeluarkan rentetan pesananya
" Kamu Mey gadaikan aku sama makanan tega kamu ya " celetuk Rara
" Hehe Mey juga perlu makan Rara " ucap Mey cengengesan
" Makan terus Mey kamu " Rara pura pura kesal kemudian memanyunkan bibirnya
Hari ini Rara menghabiskan banyak waktu bersama Novan dari nonton, berbelanja, main di wahana permainan anak-anak lalu makan hari ini rasanya ia bisa melupakan hal buruk yang telah terjadi padanya.