Part 08

1411 Kata
Di lain tempat  Bima sedang meneguk segelas minuman keras di sebuah bar, ia melakukan ini hanya karena ia banyak pikiran. "Lagi!". Ucapnya dan seorang bartender langsung menuangkannya wiskikedalam gelas kosong Bima. "Lagi!". Dan lagi lagi bartender itu segera  menuangkan wiski kedalam gelas  "Lagi! " Kali ini bartender itu tidak segera menuangkannya lagi " Heeehhh!. Kau tuli?!. Ku bilang lagi!" Hardiknya. Bima membuat keributan sampai akhirnya seorang wanita datang menghampiri Bima. "Berikan yang dia pinta!" Ucap wanita itu lantang "Maaf mbak. Tuan ini sudah menghabiskan sepuluh botol wiski mbak " ujar bartender tersebut, benar saja sudah banyak botol kosong berjejer dihadapan Bima, namun pria itu terus meminta bartender mengisi gelasnya. Tak lama wanita tersebut pergi, dan datang lagi membawa segelas minuman, minuman itu telah dicampur dengan obat perangsang, wanita tersebut sering kali b******a dengan pria yang berbeda-beda setiap malamnya. Bima langsung mengambil gelas tersebut lalu meminum isinya sampai tak tersisa, kemudian wanita tersebut menyuruh dua orang bartender membopong Bima yang sudah tak berdaya ke salah satu room disana, Wanita itu tersenyum smirk. Beberapa bartender yang tak suka pada wanita tersebut karena sering kali berhubungan badan dengan pria-pria yang tak berdaya akhirnya berinisiatif menelepon kerabat dekat Bima. Keberuntungan masih berpihak pada Bima saat itu. Ponsel yang ia gunakan tertinggal di atas meja, akhirnya si bartender menelepon kontak yang bernama Nanda memberi tahukan bahwa Bima sedang dalam bahaya. Bima masih belum sadarkan diri dari  pingsannya, wanita itu terus menatap Bima dengan seringaian. "Sebentar lagi aku memiliki mu sayang" ucapnya berbisik ditelinga Bima, lalu melumat bibir Bima dengan penuh nafsu. "Hentikan!. Jangan sentuh dia!, Dia suamiku!" ucap Nanda lantang. "Angkat dia bawa ke mobil!". Titah Nanda dan dengan sigap dua orang bodyguard mengangkat Bima dan membawanya pulang kekediaman Atmajaya.  "Beraninya kau menyentuh suamiku, dasar jalang!" Maki Nanda pada wanita tersebut Plaakkk... Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi mulus wanita itu, dia terus mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan Nanda. Ia mengacak rambutnya frustasi, ia tak pernah gagal melakukan aksinya, tapi kali ini, dia harus terima kegagalannya. Bima tersadar, ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, terasa panas dan b*******h saat ini. Dengan memegangi kepalanya Bima berjalan sempoyongan ingin masuk ke kamar mandi. Dia ingin mengguyur tubuhnya dengan air. Namun karena masih dalam pengaruh alkohol, dia tidak bisa,menjaga keseimbangan tubuhnya. Akhirnya ia terjatuh kelantai, ia mencoba bangkit dan lagi-lagi tangannya tak sengaja menjatuhkan vas bunga. Praankk.... Vas bungan hancur berkeping-keping di atas lantai. Sedangkan di waktu yang bersamaan Rara baru saja tiba dirumah, dia terkejut mendengar suara benda terjatuh dari lantai atas. Rara mempercepat langkahnya, pertama yang ia periksa adalah kamar tidur miliknya. Bersih semua masih sama benda-benda di sini masih tersusun pada tempat semula. Aarrrggghh... Suara Bima kesakitan. Rara berlari ke kamar milik Bima " kak Bima " panggil Rara. Hening tak ada jawaban. Tok... Tok... Tok... Tak ada sahutan dari dalam kamar. " Kak, kakak kenapa ? " Tanya Rara setengah berteriak.  Karena tak ada jawaban Rara berinisiatif membuka pintu kamar Bima Ternyata tak dikunci, Rara masuk perlahan, penerangan lampu dikamar Bima sangat minim , lalu ia mencari saklar lampu untuk menerangi ruangan tersebut. Ceklek... " Ya Allah, kakak " pekik Rara lalu menghampiri Bima. Dilihatnya pecahan kaca berserakan dimana mana dan Bima tersungkur kelantai. " Kak... Kakak kenapa "  ucapnya mencoba menyadarkan Bima " Kak bangun,,tolong... Bibi.. tolong..." Teriaknya sambil menggoyangkan tubuh Bima Tak lama bibi dan beberapa penjaga datang mengangkat Bima keranjangnya . " Ya Allah, kak Bima sakit " merasakan suhu tubuh Bima tinggi ia segera mengambil air hangat untuk mengompres. Rara meletakkan handuk kecil yang telah ia basahi de atas dahi Bima. " Panas... Hah... Hah... Panas " racau Bima, perlahan melepaskan beberapa kancing kemejanya. Tarikan nafas Bima mulai tak beraturan, matanya memerah ia juga terlihat begitu gelisah. "Kakak kenapa minum obat ya?." Tanya Rara dengan polos. Karena pengaruh obat perangsang itu telah beraksi tanpa sadar Bima memeluk Rara kemudian menciumi bibir Rara. "Kak... Kak iiihh... Kakak kenapa?"  mendorong tubuh Bima Bima kembali memeluk Rara nafasnya memburu, Rara yang menyadari situasinya saat ini berbahaya ia segera melepas pelukan Bima. Rara berlari ingin keluar, namun sayng ia terlambat Bima sudah lebih dulu mengunci pintu kamar tersebut dan kuncinya dilempar ke sembarang arah. Bima menyeringai kemudian ia kembali mendekati Rara dan mendorong tubuh mungil Rara menuju ranjangnya. "Kak lepas, hiks... hikss " ucap Rara sambil menangis "Kakak mau apa hiks?" tanyanya lagi. Melihat Bima yang semakin dekat dengannya "Gue mau lo'' ucap Bima dengan tqtapan yang berkabut nafsu "Gak kak Jang...mmmpphh ...mpphh " Bima terlebih dahulu membungkam bibir Rara dengan sebuah ciuman. Sedangkan tangannya melepas kemeja yang ia genakan lalu melemparnya sembarangan. Dengan kasar Bima menarik baju yang Rara genakan saat itu. Baju terlepas menampilkan lekuk tubuh Rara yang indah . "Jangan kak. Aku adikmu aku mohon,"  ucap Rara memohon. Rara berusaha kabur akan tetapi tenaganya masih kalah besar dengan tenaga Bima. Bima kesetanan kembali membuka pakaian Rara, sambil terus memperdalam ciumannya. Bima mengunci kedua tangan Rara di atas agar ia lebih leluasa melakukan yang ia mau. Tangis Rara semakin menjadi saat Bima menarik underwear miliknya. " Jangan!. Ampuni aku hiks hiks.... Tolong" Lirihnya, ia merasa telah berteriak sekuat tenaga tapi nyatanya ia tak sanggup berteriak. Bima menatap tubuh adiknya dengan penuh nafsu, sedangkan Rara menatap jijik pria dihadapannya itu. "Ya Allah apa ini takdirku diperkosa kakak tiriku?. Hiks...hikss.."  lirihnya "Sakit!, Jangan!" ucapnya kala Bima berusaha menerobos kepemilikan nya. Ia pasrah ia tak mampu berteriak lagi. Seelah enam puluh menit bergulat dengan keringat dan juga tenaga Bima akhirnya akan sampai pada puncaknya Ia semakin mempercepat gerakannya, sedangkan Rara hanya diam menatap kosong dengan deraian air mata yang terus menetes. Gerakan yang begitu kasar dan beberapa kali hentakan membuat Rara merasakan kesakitan yang teramat. Sakit yang dirasakannya saat ini tak seberapa dengan sakit dihatinya, Bima terus bermain diatas tubuh Rara hingga benar-benar tak sadarkan diri, malam itu Bima benar-benar seperti orang kesetanan, ia kembali melakukan hal b***t tersebut hingga beberapa kali pada adiknya, meski sang adik tengah tak sadarkan diri. ___________ Pagi datang menjemput, sinar matahari masuk membangunkan sang pemilik kamar, Bima terbangun beberapa kali mengerjapkan matanya, memfokuskan pandangannya. Arrghhh.... Bima berusaha bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit karena pengaruh alkohol itu masih ada. Ia hendak kekamar mandi tetapi, sesaat kemudian ia terkejut melihat dirinya tanpa busana, dan pakaian yang ia genakan sudah berserakan dilantai, ia memunguti pakainya satu persatu sambil menahani sakit kapalanya. Deng.... "Pakaian wanita?, robek?" gumamnya menemukan pakaian wanita yang telah koyak. Kemudian ia membulatkan matanya mendapati seorang wanita yang menutupi dirinya dengan selimut sedeng menangis pilu. Ia mendekati wanita itu, dengan ragu ia membalik tubuh wanita tersebut. Deg.... "Rara!", Ngapain kamu disini?" Pekiknya ia terkejut melihat apa yang ada di kamarnya, ia bertanya tanya apa yang terjadi. " Kamu kenapa Ra?, Siapa yang nyakiti kamu Raa?,, Bilang sama aku!" Bima ingin memeluk Rara namun tangis Rara malah menjadi. Ia melihat keranjang tempat tidurnya. "Darah?. Apa maksud semua ini Ra?" Bima berujar setengah berteriak, sedangkan Rara hanya bisa menangis tak sanggup menjawab "Raa, jangan bilang aku... aku... aku su....sudah kamu ... kaaa....mmmu ngomong Ra!" lirihnya lalu ia menangis. "Aku mau keluar" ucap Rara datar  "Ra,, aku belum bisa ngerti ini semua" ujar Bima masih bingung "Seperti yang kamu liat, ternyata kamu lebih b*****t dari Huda"  ucapnya sinis "Buka kuncinya anjing!" Ucapnya setengah berteriak, ini kali pertamanya Rara berbicara kasar. "Di...dimmm..mann..na kuncinya " ia kebingungan mencari kunci yang tak ada di tempatnya. "Ck... kamu yang membuangnya semalam b*****t " ketusnya " Tunggu sepertinya ada dilaci kunci cadangannya " ucap Bima mencari dilaci nakasnya. Rara berdiri ia hendak melangkah namun bangian intimnya sangat sakit. "Aauu,, kenapa sakit sekali perasaan tadi subuh gak begini sakitnya" gumam Rara dalam hati Melihat Rara yang hanya berdiam berdiri di sudut kamarnya, nergegas Bima menghampiri nya. " Gak bisa jalan Ra ...? Maaf aku..." ucap Bima penuh penyesalan "Tutup tubuhmu aku jijik" ucap Rara sinis Ia baru sadar bahwa sedari tadi ia tak menggenakan pakaian sama sekali, kemudian ia bergegas mengambil handuk di almari nya. " Maaf Ra, aku gendong ya " ucap Bima berhati-hati Mau tak mau Rara menerima nya karena area terlarangnya sangat sakit sehingga ia sangat kesulitan jalan. " Raaa, maaf aku gak sadar dengan semua yang kulakukan "  ujar Bima " Keluar!!, Aku jijik keluar kamu!! " Hardik nya kemudian. " Ra aku bakal tanggung jawab atas apa yang aku lakukan sama kamu " Bima berusaha meyakinkan Rara " Gak perlu!. Keluar!" Bentak Rara lagi " Kalau kamu hamil gimana "ucap Bima " Kamu gila...! Keluar kataku " ucapnya setengah berteriak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN