Bab 20. Rencana Membangun Perusahaan

1180 Kata

Malam harinya, kami makan malam di restoran milik Alex. Sebelumnya aku tak menyangka kalau restoran dekat kantor ternyata pemiliknya Alex. Memang setiap kali datang ke sana, aku tak pernah melihat Alex. Ya mungkin kebenaran saja aku tak melihatnya. Setelah mengenakan dress yang cocok untuk dinner, tak lupa memolesi make-up tipis. Alex sedari tadi sedang menunggu di ruang tengah. Aku yang menyuruhnya keluar kamar dulu supaya tidak diganggu. Bagaimana tidak kesal, kalau dipanggil-panggil terus. Setelah memastikan semuanya oke, barulah keluar kamar, menyelempangkan tas. Handphone sengaja aku tinggalkan. Bukan tak ingin diganggu hanya saja aku tidak mau direcoki oleh pesan singkat atau telepon dari nomor yang tak dikenal. Keluar kamar, melihat Alex tengah sibuk dengan ponsel di tangan. Aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN