Hujan sudah reda beberapa waktu yang lalu. Damar mengantarkan Berlian sampai ke depan rumahnya. Belum sempat Berlian mengucapkan terima kasih, tatapan beberapa pasang mata membuatnya ciut seketika. Berlian menggaruk tengkuknya sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Berlian menoleh kepada Damar yang kini mengikuti arah pandangannya. Namun, Damar terlihat biasa saja dan tidak menghiraukan tatapan Berlian. Sebelum Damar menyalakan mesin motornya kembali, suara teriakan Radit membuat Damar menoleh. "Sini!" teriak Radit lalu menghampiri Damar dan Berlian yang masih berada di depan gerbang putih rumah Berlian. Gerbangnya tidak terlalu tinggi, hanya sebatas d**a orang dewasa. "CLBK nih?" goda Radit tertawa menaik-turunkan kedua alisnya. "Cinta lama belum kelar, eak!" seloroh Radit heboh se

