"Bisakah kau berhenti melakukan ini? Kamu membuat kami takut," kata salah seorang dari mereka dengan gemetar.
"Tentu kalian harus takut. Jika kalian ingin aku berhenti untuk melakukan ini maka jawab pertanyaanku dengan jujur. Jika sampai ada yang kalian tutupi karena tidak ingin benda ini berjalan di leher kalian kan? Kalian mengerti?"
Mereka berdua mengangguk. Juan kemudian melanjutkan kembali interogasinya kepada mereka.
"Sejak kalian duduk di sini ini, kalian mencuri-curi pandang ke arahku. Kalian menatapku dengan tatapan sinis. Bahkan sesekali kalian seolah membicarakanku di belakang. Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Apa kalian merasa aku pernah punya masalah dengan kalian? Sampai kalian melakukan tindakan yang membuatku tidak nyaman."
Sebelum mereka menjawab Juan memegangi senjata tajam miliknya yang sudah tertancap di atas meja. Membuat mereka berdua harus menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Juan.
"Sebenarnya kami merasa heran sejak tadi. Kami memang membicarakanmu tapi bukan untuk merendahkanmu atau apapun itu yang terlintas di dalam pikiranmu. Kami semata-mata hanya ingin memastikan kabar burung yang beredar di luar sana. Kami pembeli setia di tempat ini tentu jika ada sesuatu yang berkaitan dengan tempat ini kami ikut penasaran."
"Begitu, ya? Kalau memang benar begitu apa yang membuat kalian penasaran tanda tanya emangnya ada berita apa di luaran sana sampai membuat kalian ingin mencari jawabannya di sini. Lagipula aku seperti asing dengan wajah kalian. Kalau benar kalian sering ke tempat ini seharusnya aku mengenali kalian dengan mudah."
"Begitupun kami yang baru melihatmu. Biasanya kami dilayani oleh dua anak remaja. Kami mengira kalau keduanya sudah tidak bekerja di tempat ini. Digantikan olehmu yang bekerja di sini."
"Kalian mengenal dua remaja yang ada di sini. Aku menjadi sangat tertarik untuk mendengar cerita kalian. Aku harap kalian bukan bagian dari mata-mata yang sedang mengintai di tempatku."
Tangan Juan memegangi pundak mereka. Menepuk-nepuk pundak mereka berdua. Membuat mereka semakin dalam ancaman.
"Kami bukan bagian dari siapapun. Kami hanya orang biasa yang memang suka datang ke tempat ini. Sejak tempat ini ramai hingga sepi seperti sekarang."
"Lalu berita apa yang beredar di luar? Aku ingin mengetahuinya. Jika kalian benar-benar pengunjung setia tempat ini. Tentu kalian akan memberitahukannya."
Mereka berdua kembali mengangguk.
"Ada orang yang mengatakan pada kami ketika kami hendak berjalan ke tempat ini. Katanya tempat ini akan segera ditutup karena ada suatu masalah. Tempat ini bermasalah dan sebaiknya tidak didatangi oleh siapapun. Pria tersebut meminta kami untuk tidak datang ke sini. Awalnya kami mengira itu hanya akal-akalan dari pria tersebut. Hingga pria tersebut memberikan ini kepada kami. Ia meyakinkan kami jika tidak ingin berada dalam masalah dan berurusan dengan para mafia. Maka sebaiknya kami menghindari tempat ini."
Mereka menyerahkan kepada Juan poster yang sama seperti yang diberikan Arthur. Ia kemudian merobek poster tersebut saking kesalnya. Dirinya jadi bahan pertaruhan oleh para mafia.
"Kalian benar-benar mengatakan ini, kan? Bukan rekayasa semata?! Kalian benar-benar bukan bagian dari mereka?!"
"Tidak sama sekali. Kami bisa memastikan itu. Kami juga awalnya mengira itu hanya omong kosong. Sampai kami dibuat takut begitu pria tersebut memberitahu kami agar waspada dan meminta kami menjauhi tempat ini."
"Kalian kenal pria tersebut? Bagaimana rupanya? Kalian bisa memberitahuku?"
"Pria tersebut tidak kami kenal. Tapi dari penampilannya, pria tersebut terlihat mencolok dan mudah dikenali. Mungkin saja ia masih ada tak jauh dari tempat ini. Pria tersebut seperti ditugasi oleh seseorang untuk mempengaruhi orang-orang untuk datang ke tempat ini. Sangat disayangkan ketika kami datang tempat ini banyak mengalami perubahan. Lebih baik dari sebelumnya tapi justru sepi pengunjung. Pikir kami kalian akan tutup setelah berita tersebut beredar luas. Ternyata tempat ini tetap buka."
"Aku bisa percaya ucapan kalian untuk saat ini. Terima kasih karena sudah banyak memberitahuku tentang informasi di luar sana. Maaf membuat kalian tidak nyaman dengan beberapa pertanyaan yang aku ajukan. Aku akan mencari tahu selebihnya sendiri. Jika kalian orang biasa dan bukan bagian dari mereka, kalian kupastikan aman. Tapi jika sebaliknya, maka kalian tahu resikonya. Kalian mengerti?"
"Iya, kami mengerti," kata mereka sembari menelan ludah. Keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Pertanyaan yang Juan lontarkan cukup membuat mereka ketakutan.
"Silahkan kalian lanjutkan. Selamat menikmati."
Juan kemudian pergi dari meja mereka. Ia memasukkan kembali senjata tajam ke dalam sakunya. Dirinya kemudian menghampiri kedua temannya yang sejak tadi berdiri dari balik meja bartender. Menyaksikan Juan menginterogasi.
"Ada apa?" Tanya Juan.
"Siapa yang kau tanya-tanya sejak tadi?"
"Seseorang yang mengaku kalau mereka pengunjung setia tempat ini."
"Mereka memang orang yang sering datang ke sini. Aku yang melayaninya. Kau apakan mereka?" ujar Sanchez setelah memastikan kalau kedua pembeli itu merupakan pelanggan setia tempat tersebut.
"Jadi memang benar mereka berdua sering datang ke sini? Aku tidak tahu. Aku kira mereka hanya mengklaim dirinya sendiri untuk menghindari pertanyaan yang hendak aku ajukan. Lagipula mereka yang memancing ku sejak tadi untuk menghampiri mereka. Tatapan tajam mereka ke arahku membuatku sama sekali tidak nyaman. Kalau memang mereka sering datang ke tempat ini. Kenapa aku tidak pernah melihat wajah mereka? Kapan mereka datang?"
"Lain kali seharusnya kau bertanya dulu. Mereka memang pembeli yang kerap datang ke tempat ini. Mereka datang ketika kau sedang istirahat di kamar. Selalu begitu kedatangan mereka. Maka ketika mereka datang di waktu yang kebetulan kau tak sedang beristirahat. Tentu membuatmu merasa asing dengan wajah mereka. Memangnya apa yang kau tanyakan pada mereka? Mereka punya informasi apa?"
Sanchez menyayangkan tindakan yang dilakukan Juan. Terkesan mengintimidasi pembeli yang datang. Padahal pembeli tersebut memang kerap datang hanya tak pernah berbarengan dengan Juan.
"Tatapan mata mereka mengundang tanda tanya di kepalaku. Aku menghampiri mereka karena penasaran dengan apa yang mereka berdua lakukan. Mereka seolah membicarakanku. Begitu aku tiba ke sana. Mereka hanya ingin mengkonfirmasi tentang berita yang beredar di luar sana. Rupanya tempat ku ini sepi karena ada orang yang memprovokasi."
"Mereka mengatakan itu padamu? Siapa yang memprovokasi? Apa yang orang tersebut lakukan sampai berhasil membuat tempat mu ini sepi dari pengunjung?"
"Sama seperti yang diberikan oleh Arthur tempo hari kepada kita. Sebuah poster dan ucapan dengan nada terbilang menakut-nakuti. Seorang pria bertindak seperti pemberi peringatan. Meminta orang-orang yang akan datang untuk menjauhi tempat ini. Jika tidak mereka akan berurusan dengan para mafia. Hal itu tentu membuat orang-orang akan berpikir dua kali untuk datang ke sini."
"Kau tahu siapa dalangnya?"
Bersambung