Gagal Menipu Juan

1009 Kata
Juan tak melanjutkan aksinya memberikan pelajaran pada si oknum tersebut. Ia menurunkannya dan melepaskan tangannya dari kerah baju si oknum. Keadaan bar yang sedang ada pembeli lah yang membuatnya mengurungkan aksinya. Jika bar dalam keadaan sepi, tentu ia akan senang hati memberikan pukulan bertubi-tubi. "Aku tahu kau tidak dapat melakukannya. Makanya jangan sesekali kau mencari gara-gara denganku," ujar si oknum sombong. "Aku tidak melakukannya bukan karena takut padamu. Aku sama sekali tak takut dengan pengecut sepertimu. Aku hanya menghargai para pembeli yang ada di sini. Mereka datang untuk menikmati minumannya bukan ingin diganggu dengan kegaduhan," bisik Juan kepada si oknum. "Tetap saja kau tidak berani melakukannya. Sekarang berikan uang tutup mulutnya. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Masih banyak tempat yang harus kudatangi. Urusanku bukan hanya di sini." "Pergilah! Tidak ada yang menahanmu di sini. Kau bisa pergi kapanpun kau mau. Aku tidak akan melarangnya." "Berikan uangnya, baru aku akan pergi. Tidak ada uang aku tidak akan pergi." "Uang? Kau meminta sesuatu yang tak akan kuberikan padamu?" "Kalau begitu kau harus menerima resikonya. Aku akan buka suara dan memberitahukan semuanya kepada para mafia itu. Kau pasti akan dalam masalah." "Lakukan saja! Aku sama sekali tidak takut. Bila perlu biar aku yang antar kau sekalian pergi ke tempat para mafia itu. Biar mereka tidak usah repot-repot mendatangi tempat ini. Aku bisa menyerahkan diriku sendiri." Juan menyikapi ancaman oknum tersebut dengan santai. Tak ada sedikit pun ketegangan di dalam dirinya. Oknum polisi itu tercengang. Juan tak lagi mempan dengan ancaman yang ia berikan. Ia lantas memutar keras otaknya agar bisa kembali memeras Juan. "Aku peringatkan kau sekali lagi! Aku akan mengatakan semuanya kepada para mafia itu. Kau akan menerima akibatnya! Lihat saja!" Oknum tersebut mengulang ancamannya. "Lakukan saja. Aku menunggu sambil duduk manis di sini. Kau bisa mengatakannya kapanpun kau mau. Sekarang kau bisa pergi dari sini. Kau tidak akan bisa memeras ku lagi!" "Awas kau!" Oknum tersebut pergi dengan rasa kesal bercampur malu. Ia tak berhasil untuk memeras Juan yang kedua kali. Ancamannya berhasil dipatahkan dengan mudah oleh Juan. Bahkan Juan terkesan menantang balik si oknum untuk membuktikan ucapannya. Melaporkan ia dan Sanchez kepada para mafia. Juan tahu jika si oknum tak akan berani melakukannya. Gertakannya sudah terbaca dan diantisipasi dengan baik olehnya. "Sepertinya orang itu datang untuk meminta sesuatu lagi darimu, ya? Apa kau memberikan yang ia minta?" Tanya Diego. "Ia datang untuk meminta uang tutup mulut lagi. Aku tidak memberikannya. Baru beberapa waktu lalu ia meminta uang itu kini ia sudah datang lagi memintanya kembali. Tentu tak akan ku berikan. Keadaan kita sedang sulit, orang-orang seperti itu datang hanya untuk mempersulit." "Lalu bagaimana dia bisa pergi dari sini? Tadi juga ada suara agak ribut. Kau melakukan sesuatu padanya?" "Aku mengusirnya tapi tak berhasil pada awalnya. Ia tetap memaksa sambil mengancam untuk membuka mulut. Aku bukan orang yang mudah ditipu dua kali olehnya. Ia ku pojokkan, ingin ku hantam wajahnya dengan beberapa pukulan. Tapi tak jadi. Sebab masih ada pembeli yang sedang menikmati minuman mereka." "Kau memberikan pelajaran pada orang itu?" "Aku tidak suka menyebutnya pelajaran. Sebab orang sepertinya tidak akan mau belajar dari kesalahan. Aku lebih suka menyebutnya sebagai kenang-kenangan." "Kau yakin orang tersebut tidak akan membuka mulutnya? Setelah tidak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan." "Kalau pun ia bersuara. Aku juga tidak takut sama sekali. Bahkan aku cenderung menantangnya sekalian untuk berbicara dan mengadukan semuanya kepada para mafia. Jika perlu aku antara ke tempat mereka agar para mafia itu tak usah repot-repot datang ke sini menangkap ku. Aku sendiri yang akan menyerahkan diri pada mereka. Itu pun kalau pria tersebut berani. Tapi sepertinya ia hanya menggertak." Perbincangan terus berlanjut di antara Juan dan Diego. Mereka berdua terus membicarakan tentang oknum polisi tersebut. Hingga Diego merasa risih dengan tatapan dari salah satu pembeli yang terus menatap ke mereka. Meski sesekali, tapi tatapan dari pembeli tersebut begitu tajam dan terkesan sinis. Diego yang tak tahan ditatap seperti itu kemudian mengadukannya pada Juan. Meminta Juan agar memastikan kenapa para pembeli itu menatapnya dengan tatapan seperti itu. "Kau lihat dua pembeli yang ada di pojok sana Juan. Pembeli yang tadi kita bicarakan? Salah satu dari mereka sesekali menatap ke arah kita dengan tatapan tajam dan terkesan sinis. Aku rasa kau perlu memeriksanya. Sebelum mereka pergi dari tempat ini," uajr Diego. "Aku sependapat denganmu. Meski kita sedang berbincang sejak tadi. Ekor mataku mengarah ke mereka. Salah satu dari mereka memang sejak tadi memperhatikan kita. Aku mulai geram dengan hal itu. Kau tunggu saja di sini. Biar aku periksa." "Iya, Juan. Aku akan masuk ke kamar menemani kakakku. Kabarkan saja apa yang terjadi. Berhati-hatilah." Juan kemudian berjalan menghampiri meja pembeli tersebut. Ia tak langsung menegur mereka. Dirinya berlalu melewati meja itu seolah ingin menguping pembicaraan mereka. Tapi tak berhasil, ia tak mendapatkan informasi apapun. Dirinya merasa perlu menegur para pembeli itu ketimbang berspekulasi terus menerus. Menduga-duga apa yang sedang para pembeli itu lakukan. Menatap terus ke arahnya sejak tadi. "Permisi Tuan-tuan. Apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya Juan dengan ramah. "Tidak terima kasih. Kami tidak memerlukan apapun," jawab salah seorang dari mereka. "Aku rasa kalian memerlukan sedikit bantuan. Aku memiliki menu spesial untuk kalian berdua. Aku yakin kalian akan suka dengan menu yang akan kuberikan pada kalian. Jika kalian tak keberatan." "Apa itu? Tapi kami benar-benar tidak memerlukan itu sepertinya. Apa yang kami pesan sudah lebih dari cukup. Anda bisa meninggalkan meja kami. Jika kami memerlukan sesuatu tentu kami akan memanggilmu dan memesan lagi." Juan tak menyerah begitu saja. Ia kemudian mengambil tindakan yang membuat mereka berdua seketika terkejut. Juan menancapkan pisau di atas meja mereka sambil memegangi pundak salah satu dari mereka. Sebuah ancaman sedang Juan berikan agar mereka mau berbicara dan menceritakan semuanya. "Sudah cukup basa-basinya. Sepertinya kita harus berbicara dengan serius. Aku akan menanyakan beberapa hal pada kalian. Aku harap kalian bisa diajak bekerja sama untuk menjawab pertanyaan itu," ujar Juan sambil menatap dengan tatapan mematikan. Ia tak memberi celah untuk mereka pergi. Keduanya masuk dalam permainan Juan. Keduanya menelan ludah begitu melihat sikap Juan mengancam mereka. Tak satupun dari mereka dapat bergerak selain karena keinginan dari Juan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN