Memeras Juan

1022 Kata
Sudah hampir sebulan lamanya sejak pengunjung yang datang ke bank milik Juan mengalami penurunan yang drastis. Bahkan pernah satu kali dalam satu hari hanya ada 10 orang yang datang membeli minuman dari bar miliknya. Keadaan yang benar-benar menyiksa Juan secara perlahan-lahan. Penderitaan Juan tak hanya sampai di situ, iya juga masih harus membayar uang sewa kepada pemilik bar. Meskipun keadaannya sedang sulit tabungan yang jual miliki dari beberapa bulan yang lalu ketika barangnya masih ramai, masih cukup untuk membayar uang sewa. "Maaf aku harus melakukan ini padamu. Tapi kau harus membayar uang sewa seperti biasanya," kata pemilik tempat tersebut begitu datang meminta uang sewa. "Tak apa, Tuan. Anda berhak meminta sesuatu yang sudah menjadi hak anda. Kewajiban saya sebagai orang yang menyewa adalah membayarnya. Tak perduli apapun keadaannya. Tunggu sebentar, biar aku ambilkan uangnya." "Kau benar-benar sudah banyak melakukan perubahan untuk tempat ini. Aku merasa senang melihat tempatku ini kau jadikan tampak lebih baik dari sebelumnya. Aku turtu prihatin dengan keadaan yang menimpamu saat ini. Memang berurusan dengan para mafia adalah sesuatu yang lebih baik dihindari. Doaku menyertaimu agar kau bisa melalui ini semua." "Terima kasih banyak. Aku hargai itu. Ini uangnya, kau boleh hitung dulu sebelum pergi. Jika masih kurang katakan saja." Juan menyerahkan uang sewanya pada si pemilik tempat. "Jumlahnya pas tak kurang tak lebih seperti biasa. Aku pamit dulu, ya. Semoga masalah yang menimpa mu segera berakhir. Aku juga mulai merindukan tempat ini kembali ramai dan jadi perbincangan banyak orang," ujar pemilik bar berpamitan. "Iya, Tuan." Wajah Juan tampak tak seperti biasanya. Semangat yang biasanya terpancar dari auranya mulai pudar. Dirinya tampak sudah lesu hampir patah semangat. Seolah menerima kekalahannya dari para mafia. "Kau lihat, Juan, Kak? Apa yang harus kita lakukan? Aku merasa kasihan melihatnya terus-menerus begini. Semakin hari semangatnya kian hilang." "Kita tak bisa melakukan apapun, Diego. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah berdiam diri dan tidak membuat sesuatu yang akan menimbulkan masalah baru untuk Juan. Itu sudah cukup membantu Juan." "Baiklah, Kak, kalau begitu." Kedua temannya berdiskusi dari balik kamar. Merasa simpati dengan kondisi Juan sekarang. Berharap semuanya kembali normal. Mereka ingin melihat temannya kembali bersemangat. Dalam kondisi penderitaan seperti ini. Juan tetap pada pendiriannya untuk membuka tempat miliknya apapun yang terjadi. Meski para pembeli yang datang dapat dihitung jari. Mereka yang datang mulai menunjukkan gelagat yang tak biasa. Beberapa dari mereka saling berbisik satu dengan yang lainnya. Para pembeli tersebut yang tengah menikmati minuman mereka sesekali berbisik bagi tujuan melalui mereka. Juan mulai menaruh curiga kalau mereka sedang membicarakannya. Tapi ia tepis begitu saja anggapan tersebut karena tak ingin para pembelinya lari ketika tahu bahwa yang menyajikan minuman untuk mereka adalah yang sedang dicari beberapa waktu belakangan ini. "Kenapa para pengunjung itu tampak sedang berbisik-bisik seperti membicarakan sesuatu?" Kata Diego. "Aku kira hanya diriku yang menyadari kalau mereka sedang membicarakan sesuatu. Sesuatu yang kukira membicarakanku. Ternyata kau menyadari juga akan keanehan yang terjadi." "Tentu aku melihatnya mereka tampak begitu aneh. Satu sama lain saling berbisik seolah sedang menyampaikan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain wajar jika kita menaruh curiga pada mereka sepertinya mereka sedang memastikan sesuatu. Kalau aku boleh menduga mungkin saja." "Aku setuju denganmu untuk hal ini. Pria yang berada di pojok itu bersama temannya sejak tadi memang mencurigakan. Aku mencoba menepis kecurigaan ku terhadap mereka tapi sikap mereka menunjukkan sebaliknya. Aku merasa kesal jika mereka terus bersikap seperti itu." "Lalu apa yang akan kamu lakukan pada mereka? Siapakah akan menghampiri mereka dan menegurnya? Atau kau hanya diam saja membiarkan apa yang mereka lakukan." "Aku lebih memilih untuk membiarkan mereka untuk saat ini. Kita tunggu saja sampai kapan mereka akan terus seperti itu. Aku akan bertingkah biasa saja seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Sambil terus mengawasi mereka sampai mereka tidak menyadarinya." Ketika Juan tengah mencoba mengawasi pembelinya yang mencurigakan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran oknum polisi yang datang ke tempatnya. Oknum tersebut berjalan masuk seperti tak memiliki beban. "Masalah baru telah datang," kata Juan begitu melihat si oknum polisi tadi datang. "Kenapa oknum itu selalu datang di saat yang tidak tepat?" "Kau tunggu saja di dalam. Biar aku yang urus orang satu ini. Aku tidak akan membiarkannya terlalu lama di sini." Juan segera berjalan menghampiri oknum tersebut. Oknum tersebut tersenyum melihat Juan berjalan ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Ada perlu apa?" tanya Juan. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menyapa teman lama ku. Bagaimana kabarmu teman? Kau baik-baik saja?" Kata oknum tersebut. "Tidak usah banyak basa-basi. Katakan saja intinya apa maumu. Aku tidak punya banyak waktu untuk melayanimu," balas Juan ketus. "Kau memang tidak pernah berubah, ya. Selalu tidak bersikap ramah denganku. Aku sudah berikan kau peringatan. Kau masih belum kapok juga macam-macam denganku. Kau masih sanggup sepertinya melalui semua cobaan ini." "Jadi, yang menyebabkan semua ini kau?! Kau yang membuat tempatku sepi dari para pembeli?! Kau yang membuat mereka tidak datang lagi ke sini?! Beraninya kau!" Juan terpancing emosi. "Tenangkan dirimu teman. Aku turut prihatin dengan kondisi tempatmu ini. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Untuk apa aku repot-repot melakukannya? Tempatmu akan sepi dengan sendirinya karena kau berurusan dengan para mafia. Tidak kah kau menyadarinya? Wajahmu ada di mana-mana bersama anak itu. Bahkan ada hadiah yang tertera di sana bagi siapapun yang berhasil membawamu dan anak itu hidup-hidup." Oknum polisi tadi menunjukkan poster yang sama kepada Juan. "Singkirkan itu dari hadapan ku! Aku tidak peduli sama sekali dengan ini!" Juan merampas poster tersebut kemudian merobeknya. "Perlu kau ketahui temanku. Para mafia itu tidak akan membiarkanmu dan anak kecil yang kau katakan sebagai adikmu itu hidup bebas. Mereka akan melakukan segala cara agar bisa menangkapmu dan anak itu apapun resikonya. Cepat atau lambat mereka pasti melakukannya." "Cepat katakan tujuanmu! Aku tak ingin kau terlalu lama berbicara di sini! Sebelum aku berubah pikiran! Lebih baik kau katakan!" "Aku ke sini harusnya kau sudah menyadarinya. Aku meminta apa yang sudah jadi perjanjian kita. Mulutku bisa saja terbuka kapan saja jika tidak ditutup." "Beraninya kau! Belum lama aku memberikan uang itu. Sekarang kau sudah memintanya lagi! Kau benar-benar memerasku!" Juan menarik pakaian si oknum itu. Mendorongnya ke pojok. "Lakukanlah! Aku akan menerima akibatnya!" Ujar si oknum polisi ketika terdesak. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN