Pelanggan Pertama

1550 Kata
"Aku hanya khawatir tak ada yang datang untuk minum di bar milikku," ujar Juan sambil menunjukkan kecemasannya. "Kenala kau harus cemas dan takut? Kami saja sudah datang ke tempat ini dan mencoba minuman buatanmu. Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Kau sudah mendapatkan pengunjung yang datang. Mendapatkan orang yang mau minum buatanmu. Kau sudah mendapatkannya bukan? Kenapa kau masih harus mencemaskannya?" ujar Artur menjelaskan pada Juan agar tak perlu menjadi risau. Sebab mereka sudah datang dan menemani Juan. Juan tersenyum lebar karena mengerti maksud yang Artur katakan padanya. Ia mencoba untuk tetap tenang apa pun resikonya. Lagipula teman-temannya sudah datang ke tempatnya. Seperti yang dikatakan oleh Artur. Untuk apa ia masih me risaukan tidak ada yang datang. Orang-orang yang dekat dengannya sudah datang semua. Itu sudah lebih dari cukup. Meski sudah dijelaskan dan ditenangkan oleh Artur. Juan tetap saja tak bisa menutupi kegelisahannya. Ia berjalan ke sana ke mari untuk menutupinya. Ia pun berjalan keluar dari bar untuk sekedar menghibur dirinya. Di luar bar ia menenangkan dirinya dengan membakar beberapa batang cerutu. "Mungkin memang aku harus menerima kenyataan kalau. Mereka tak akan datang ke sini untuk minum di tempatku. Beginilah memang pada akhirnya. Aku gagal untuk kesekian kalinya. Sepertinya aku harus membuat perayaan atas kegagalanku," ujar Juan merasakan dirinya gagal. Ketika tengah merasakan kesedihannya. Ada seseorang yang menyusulnya keluar bar. Ternyata orang tersebut adalah Diego. Ia sejak Juan di luar, membututinya keluar. Ia ingin menemani Juan dan menghiburnya. Berharap Juan merasa lebih baik jika ada seseorang yang menghiburnya dan memberikan semangat. "Kau tidak apa-apa, Juan? Aku merasa kau sedang mengalami kesedihan," kata Diego. Juan terkejut begitu mendengar suara Diego. Tak menyangka ada dirinya sejak tadi. Juan segera mengusap matanya yang tak mengeluarkan air mata apapun. Lalu berbalik badan ke arah Diego. "Kau? Sejak kapan di sana? Apa kau mendengar semua keluh kesahmu barusan?" tanya balik Juan. Ia takut Diego mendengar dirinya yang berkeluh kesah terhadap keadaan. "Hanya sedikit saja. Aku baru keluar ketika kau tengah berbicara lalu tak lama berhenti. Apa itu termasuk aku mendengar keluh kesahmu?" kata Diego. "Huhft! Ya sudah abaikan saja. Anggap saja kau tidak mendengar apa pun, Diego. Aku hanya merasa kelelahan saja. Membuka usaha seperti ternyata cukup melelahkan." "Aku tahu! Kau pasti akan merasakan kelelahan itu. Untuk itulah aku dan kakakku datang ke tempat ini lagi. Kami akan membantumu. Karena aku berpikir kau akan mengalami hari yang panjang dan melelahkan ketika membuka bar di hari pertama. Kau pasti membutuhkan bantauan kalau tidak kau akan kewalahan. Belum juga banyak pelanggan lain yang datang kau sudah kelelahan. Berarti dugaanku benar dan aku datang di waktu yang tepat." "Iya, kau memang benar dengan segala dugaanmu, Diego. Aku memang benar-benar kelelahan dengan semua ini. Aku harus mendapatkan bantuan darimu dan kakakmu. Tapi masalahnya sekarang adalah pelanggan yang membuat kita benar-benar lelah itu tidak ada. Bagaimana aku bisa mewujudkan dugaanmu dan pemikiranmu itu. Kalau pengunjungnya saja tidak ada." Juan frustasi dengan keadaan. "Tenanglah Juan. Aku pun berada di posisi sepertimu. Ketika aku merasa dunia tak memihak pada dirimu hari ini. Tapi aku tak menyerah dan berputus asa begitu saja. Aku hanya bersabar dan menunggu. Memangnya kenapa kau harus menyerah? Apa kau sudah mencoba segalanya? Mencoba yang terbaik sebelum kau menyerah? Jika kau belum melakukan semuanya. Maka, jangan pernah berpikir untuk menyerah," ujar Diego. Juan yang dinasehati oleh Diego tampak semakin tak karuan. Ia memahami nasihat baik dari Diego. Tapi keadaan yang membuat dirinya menolak masukan dari Diego untuk sementara waktu. Yang ia butuhkan adalah pelanggan yang datang bukan kata-kata motivasi tak berguna. Sebab ia butuh makan bukan butuh omongan. Tak berselang lama setelah Diego mengatakan hal tersebut pada Juan. Perkataannya berbuah kenyataan. Sambil menunjuk ke arah datangnya pengunjung, Diego memberitahu Juan. Juan pun sontak bersemangat meski masih tak percaya dengan perkataan Diego. "Sudah kukatakan kau harus bersabar dan menunggu. Jangan menyerah begitu saja. Lihatlah mereka yang kau tunggu sekarang sudah tiba. Para pelangganmu sudah berdatangan. Kau harus segera bersiap untuk menyambut mereka," ujar Diego seraya menunjuk ke arah para pelanggan yang datang. Juan yang tak percaya seketika menoleh ke arah yang dituju Diego. Ia melihat dua orang laki-laki tengah berjalan lurus ke arahnya. Ia masih tak percaya kalau mereka akan masuk ke bar nya dan menjadi pelanggan selanjutnya. Ketika kedua pria itu benar-benar berhenti tepat di depan bar, Juan bertanya untuk memastikannya. "Apa tempat ini sudah buka? Kami ingin membeli minuman di sini," tanya salah seorang pria itu. "Apa kalian hendak membeli minuman di sini?" tanya balik Juan yang ingin memastikan. "Tentu. Untuk itu kami bertanya apakah tempat ini sudah buka?" "Sudah buka, tapi tempat ini tidak menjual minuman beralkohol. Apa itu tidak masalah?" tanya sekali lagi Juan. Ia tak ingin pelanggannya pergi setelah mengetahui tempatnya tak menjual alkohol. "Iya tidak apa-apa. Kan ada tulisan yang tertera kalau tempat ini tidak menjualnya. Apa kami boleh masuk?" Juan sangat senang ketika tahu mereka tetap ingin masuk meski ia sudah menjelaskan kalau tempatnya tak menjual minuman beralkohol. Juan lantas kegirangan hingga mengantarkan mereka masuk. Hal tersebut juga disambut baik oleh Diego. Ia turut bersuka cita ketika Juan merasa bahagia. "Mari silahkan masuk. Tempat ini sudah dibuka, kok!" Juan mempersilahkan mereka masuk. "Terima kasih banyak Diego. Kau memang benar-benar membantuku. Aku hampir menyerah tadi. Kini semangatku kembali bahkan dua kali lipat lebih bersemangat dari sebelumnya," kata Juan pada Diego. "Aku turut senang mendengarnya. Sekarang layanilah dulu pelangganmu. Biar kalau ada pelanggan lainnya aku yang layani dari luar sini." "Terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkanmu." Juan menemani kedua pelanggannya masuk ke dalam bar. Begitu melihat Juan membawa pelanggan baru, Sanchez dan Artur seketika terkejut. Mereka segera menghabiskan minumannya dan bangkit dari tempat duduk. Mereka tak enak dengan Juan dan pelanggan barunya. Untuk itu mereka segera meninggalkan meja mereka. "Kalian hendak ke mana? Duduklah. Aku sedang melayani mereka. Kalian tak perlu geser kemana pun. Kalian juga tamuku dan pelangganku. Kalian berhak mendapatkan pelayanan yang sama," kata Juan berbisik pada kedua rekannya. "Ta-tapi bagaimana dengan mereka? Apa mereka tidak terganggu?" "Tidak ada yang terganggu. Aku akan memberikan pelayanan terbaikku," kata Juan. Kedua pelanggannya duduk di tempat yang mereka pilih. Juan kemudian bersiap untuk menulis pesanan mereka setelah memberikan daftar menu pada mereka. "Kami pesan yang terbaik saja dari tempat ini. Kami ingin sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya di tempat lain. Siapa tahu tempatmu ini memiliki hal tersebut. Kami yakin sekali kau memilikinya. Bisa hidangkan untuk kami?" kata salah seorang dari mereka. Meminta minuman terbaik yang ada di bar milik Juan. Juan menyanggupi apa yang mereka pesan. Ia kemudian membawa kembali daftar menunya dan mulai mempersiapkan minuman spesial untuk mereka. Dengan penuh kehati-hatian ia membuat minuman tersebut. Dari kejauhan kedua temannya hanya bisa menyaksikan. Sambil ikut merasakan ketar-ketir. Khawatir pelanggan tersebut akan kecewa dengan hasil. Mereka hanya bisa mendoakan agar Juan berhasil memberikan pelayanan terbaiknya pada mereka. Juan pun keluar sambil membawa dua gelas berisi minuman. Ia melangkah dengan sangat berhati-hati. Begitu tiba di depan meja keduanya, Juan menghidangkan dua gelas minuman tersebut pada mereka. Mereka tampak sangat antusias untuk mencicipinya. Gelas berisi minuman dengan hiasan stoberi di atasnya. Begitu mereka meminumnya. Jantung Juan berdegup dengan sangat kencang. Ia khawatir dan takut mengecewakan mereka. Begitu gelas tersebut mereka letakkan di atas meja selepas minum. Juan tak berani menanyakan bagaimana rasanya. Ia langsung berniat pergi meninggalkan meja mereka. Tapi tiba-tiba ia mendengar salah seorang dari mereka berkata tentang minuman buatannya. "Minuman buatanmu ini enak. Aku menyukainya! Ekspektasiku tidak salah kalau memang kau berhasil membuat minuman yang spesial untuk kami. Baru pertama kali aku merasakan minuman seperti ini. Ini benar-benar luar biasa. Aku mulai beprikir unutk merekomendasikan kepada banyak orang untuk memesan minuman di tempat ini." "Kau benar! Aku bahkan merasakan berada di tempat yang berbeda ketika minuman itu mengalir di tenggorokanku. Begitu selesai meminumnya aku kembali ke tempat ini. Sensasi yang benar-benar luar biasa. Kau membuatku terkesan dengan semua ini. Kau memang benar-benar hebat." "Terima kasih banyak." Juan kehabisan kata-kata untuk mengungkap betapa senangnya ia. Juan menatap ke arah teman-temannya. Ia menunjukkan kebahagiaan itu pada mereka yang juga disambut baik oleh mereka semua. Juan merasa kembali bersemangat dan berlipat-lipat semangantnya. Tak berselang lama pelanggan lain pun berdatangan ke tempat tersebut. Juan bersiap untuk memberikan pelayanan lagi pada mereka. Hingga jumlah yang datang kian ramai dan banyak. Juan sampai harus meminta bantuan pada Sanchez dan Artur. Ia tak bisa melayani sambil melayani mereka satu per satu. Mencatat pesanan mereka dan mengantarkan pesanan mereka. Ia membutuhkan bantuan dari teman-temannya. Beruntungnya ia temannya memaklumi hal tersebut dan dengan sigap memberikan bantuan. Ia jadi bisa fokus untuk membuat pesanan saja dari meja bartender. Pelanggan yang berdatangan terus ramai. Silih berganti dengan mereka yang sudah selesai minum di tempat tersebut. Pundi-pundi uang sudah mulai tampak di dalam meja kasir. Juan merasa senang usahanya mulai berjalan. Hingga waktu menunjukkan siang hari barulah tempatnya mulai agak sepi. Tak se ramai sebelumnya. Ia bisa mengajak teman-temannya duduk kembali berbincang. Suasana di dalam bar tinggal beberapa orang yang masih minum di sana. Ia mengumpulkan ketiga temannya dan duduk pada sebuah meja. Ia memberikan minuman kepada ketiga temannya agar mereka merasa lebih segar lagi dari sebelumnya. "Ini minumlah. Kalian pasti lelah sudah membantuku sampai saat ini. Terima kasih banyak, ya. Kalian sudah mau membantuku." Tanpa kata-kata mereka langsung meminum minuman yang diberikan Juan. Mereka menghabiskan minuman tersebut dalam satu tegukan. Benar-benar terlihat mereka sudah dahag sejak tadi. Momen yang pas ketika Juan memberikan mereka minuman Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN