Minuman Persahabatan

1116 Kata
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Juan dapat memiliki modal yang cukup untuk membuka usahanya. Bar minuman yang diperuntukkan untuk segala kalangan dan tidak ada batas rentang usia. Di pagi hari yang cerah, Juan sedang bersiap-siap untuk menerima pelanggan pertamanya. Ia berada di luar bar tengah menuliskan nama tempat yang pas untuk dijadikan nama barnya. "Bar minuman Max. Kenapa nama yang tertulis di sana Max dan bukannya Juan?" tanya Artur begitu baru tiba di bar dan membaca papan tulisan. "Kau baru datang? Tidak ada salahnya aku menuliskannya dengan nama max. Namaku kan Juan Vincente Maximiliano. Terlalu pasaran untuk menggunakan nama Juan. Aku ingins sesuatu yang berbeda," kata Juan berkelit. Padahal ada alasan tersembunyi kenapa ia menggunakan nama max menjadi nama barnya. "Cukup masuk akal. Aku mengira tadinya ada sesuatu dengan namamu. Sehingga kau menolak menggunakannya. Ternyata tetap namamu yang kau gunakan. Tapi bukan nama depannya. Alasan yang cukup bisa diterima dengan logika." "Kau datang sendirian? Di mana Sanchez dan Diego? Mereka tidak datang di hari pertama pembukaan? Sayang sekali! Padahal aku ingin membuatkan minuman spesial untuk mereka." "Aku tidak tahu mereka akan datang atau tidak. Aku hanya tidak suka terlalu lama menunggu. Kalau mereka mau datang, mereka akan menyusul ku. Mungkin beberapa menit lagi mereka akan tiba di sini. Tunggu saja." "Ya sudah kalau begitu. Kau mau minum apa? Kau menjadi pelanggan pertamaku hari ini," tanya Juan. "Aku? Pelanggan pertamamu? Apakah ini berarti aku harus mengeluarkan uang untuk membayar pesanan nya?" "Hahaha tidak begitu maksudku. Kau boleh memesan apapun yang kau mau. Aku memberikannya secara cuma-cuma untukmu. Anggap saja aku mentraktir mu hari ini. Setelah hari ini kau harus tahu kalau aku sedang berbisnis di sini. Tidak ada yang gratis untuk bisnis." "Kau mulai menceramahiku lagi sepertinya. Berikan aku minuman terbaik yang kau miliki. Aku cukup haus di sini. Setelah terlalu lama menunggu mereka berdua." "Baik, tuan. Silahkan masuk," ledek Juan mempersilahkan Artur masuk ke dalam. Tampilan bar tersebut sudah benar-benar berbeda jauh dengan tampilan dan kondisi sebelumnya. Sarang laba-laba sudah tidak ada. Berganti dengan hiasan yang diletakkan Juan di atas meja. Lukisan yang terpajang di dinding tak lagi miring dan berdebu. Bahkan Juan melakukan banyak perubahan pada tempat tersebut. Berbeda drastis dari sebelumnya. Artur duduk pada kursi yang kosong tak jauh dari meja bartender. Ia duduk tepat di tengah-tengah ruangan. Titik sentral yang bisa memerhatikan ke segala arah. Tak berselang lama Juan datang membawa pesanannya. Minuman terbaik yang ia persiapkan dan persembahkan untuk teman terbaiknya. Awalnya Artur sempat ragu untuk meminumnya. Tapi Juan meyakinkan Artur kalau minuman tersebut aman untuk dikonsumsi. Artur pun mencoba meminumnya. Ia merasakan minuman tersebut memang yang terbaik yang pernah ia cicipi. Tanpa harus diperintah, ia langsung memberikan review terhadap minuman tersebut. "Ini minuman yang enak. Aku baru pertama kali mencobanya. Apa kau sebut minuman ini?" puji Artur pada minuman yang dibuat oleh Juan. "Aku menyebutnya minuman persahabatan. Kau merasakan ada rasa yang tak akan dirasakan pada minuman lainnya. Semua takaran dan campurannya harus pas. Resep rahasia yang kutemukan. Membuat minuman itu terasa enak seperti katamu barusan." Artur merasa salah memberikan pujian. Tak seharusnya ia melayangkan pujian kepada Juan. Karena ia tak bisa dipuji. Sekali dipuji ia akan merasa besar kepala dan terus-menerus akan membanggakan hasil yang ia telah buat. "Aku tak menyangka kau bisa membuat minuman seperti ini. Kukira kau hanya bisa menghukum orang. Ternyata kau juga bisa membuat minuman se enak ini." "Aku pernah belajar membuat minuman seperti ini. Kepada salah satu bartender terkenal di kota yang jauh dari sini. Aku merasa memiliki bakat untuk meracik minuman yang segar. Maka dari itu aku tak kesulitan jika harus membuat minuman seperti itu di sini." Tak berselang lama setelah Artur meminum minumannya. Diego dan Sanchez tiba di tempat tersebut. Mereka datang sambil memasang wajah tersenyum. Karena mereka tahu akan mendapat teguran dari Juan. Akibat terlalu lama dalam bersiap-siap. Padahal Artur sudah menunggu sejak lama. "Kenapa kalian baru datang? Artur sudah mendapatkan minumannya. Bahkan ia sudah meminum setengahnya. Kalian terlambat untuk beberapa saat," tanya Juan. "Seperti biasa. Ada yang terlalu lama dalam bersiap-siap. Padahal orang-orang sudah menunggunya. Entah apa yang ia siapkan," sindir Sanchez sambil melirik ke arah sang adik. Diego hanya menyeringai mengakui perbuatannya. Ia tak bisa mengelak karena memang melakukan persiapan yang memakan waktu cukup lama. Membuat orang-orang yang berada di sekitarnya harus mau menunggunya. Walau harus memakan waktu yang lumayan lama. "Kalau begitu silahkan kalian duduk saja dulu. Biar aku siapkan dua minuman segar untuk kalian. Perjalanan ke sini pasti membuat kalian haus," ujar Juan. "Kau memang paling mengerti apa yang aku butuhkan. Sesuatu yang segar yang bisa menghilangkan dahaga dan yang paling penting adalah menurunkan emosi yang sejak tadi sudah memuncak tinggal tunggu waktunya meledak," kata Sanchez. "Tunggu sebentar, ya. Akan kubuatkan untuk kalian." Mereka berdua duduk di sebelah Artur. Artur yang masih kesal pada mereka berdua. Tak menegur mereka. Membiarkan mereka berdua duduk di sebelahnya tapi tak saling berbicara. Mereka berdua sudah mengetahui kesalahannya pun tak mau mengajak Artur berbicara. Membiarkan Artur sampai merasa lebih baik baru mereka akan mengajaknya berbincang. Juan kembali dengan dua gelas berisi minuman yang tampak menggugah. Ia datang dengan wajah tersenyum lalu meletakkan kedua gelas itu di hadapan Sanchez dan Diego. Kemudian mempersilahkan mereka untuk meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya Juan. "Rasanya luar biasa. Aku tak pernah meminum minuman seperti ini sebelumnya. Bahkan tak pernah menemukan yang membuat minuman seperti ini di sini. Ini benar-benar sesuatu yang baru. Aku yakin akan banyak orang yang menyukai bar ini, Juan. Usahamu akan segera maju," kata Sanchez merasakan kenikmatan minuman yang dibuat oleh Juan. "Aku belum merasakan banyak minuman seperti kakakku. Tapi aku bisa merasakan kalau minuman ini sangat enak. Aku sangat menyukainya. Begitu airnya mengalir melewati tenggorokan. Rasanya begitu nikmat membuat sejuk. Aku merasa tak kegerahan seperti sebelumnya," kata Diego memberikan komentar terhadap minuman buatan Juan. "Syukurlah kalau kalian menyukainya. Aku ikut senang. Aku tak menyangka kalau respon dari kalian akan sebagus ini. Entah ini benar atau tidak kalian memberikan review. Jujur atau tidak dari lubuk hati mengatakannya. Aku tetap senang. Karena kalian sudah mau datang dan mencoba minuman buatanku. Terima kasih banyak, ya." "Kenapa tempat bar ini kau namai Max dan bukan Juan? Aku membaca tulisannya di depan tadi. Kukira aku salah masuk. Kenapa namanya max dan bukan Juan?" tanya Sanchez. "Namanya sebenarnya sama saja seperti namaku. Tidak ada bedanya. Hanya saja aku menggunakan nama belakangku dan bukan nama depanku. Tidak ada yang berbeda untuk itu," ujar Juan kembali memberikan penjelasan kepada temannya. "Masuk akal!" Sahut Diego dengan tegas. Respon yang sama seperti yang dikatakan oleh Artur sebelumnya. Mereka kemudian berbincang-bincang sambil menunggu pengunjung lain datang. Juan merasa deg-degan. Jantungnya berdegup tak karuan. Takut tidak ada yang datang pada grand opening bar miliknya. "Kau kenapa? Sepertinya kau cemas?" tanya Artur melihat wajahnya Juan berkeringat. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN