Rencana Gagal Karena Empati

1517 Kata
Juan mulai beraksi mendekati oknum polisi itu. Sementara Artur mengawasi dari kejauhan gerak-gerik Juan. Menjaga sekitar agar tetap kondusif ketika Juan sedang beraksi. Juan berjalan terus mendekati mobil polisi. Ia masih belum ketahuan oleh sekitar. Pelan tapi pasti dirinya membuka bagasi belakang mobil tersebut. Begitu dapat membukanya Juan kemudian masuk ke dalamnya. Artur terperangah melihat aksi Juan. Ia tak menyangka Juan akan menyelinap masuk ke dalam bagasi mobil. Sangat beresiko baginya karena bisa saja ia ketahuan bila si polisi membuka bagasinya. Bahkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah Juan bisa kehabisan oksigen. Tak berselang lama setelah Juan berhasil menyelinap masuk ke bagasi mobil. Oknum polisi tersebut kemudian memasuki mobil. Ia kemudian membawa mobil tersebut pergi. Artur tak bisa mengikutinya. Mobil tersebut melaju terlalu cepat. Artur kehilangan jejak, ia terpaksa membiarkan Juan melakukan aksinya sendiri. Menaruh harapan pada Juan agar dapat berhasil menjalankan rencananya. Juan yang sudah berada di bagasi mobil. Merasakan mobil tersebut telah berjalan pergi dari tempat sebelumnya. Ia tinggal menunggu mobil tersebut berhenti di tempat tujuan. Ketika sudah aman barulah ia keluar dari dalam bagasi mobil. Beberapa menit mobil tersebut melaju. Juan mulai kesulitan bernafas. Ruang dalam bagasi terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya yang cukup besar. Nafasnya mulai ia atur agar, ia tak cepat kehabisan oksigen. Dalam keadaan seperti itu, Juan mencoba untuk tetap tenang. Sebisa mungkin agar jangan panik hingga membuatnya ketahuan. Ia harus tetap tenang menunggu mobil yang ia tumpangi berhenti dengan sempurna. Semakin lama keadaan kian memburuk. Oksigen yang Juan hirup perlahan-lahan mulai berkurang. Tak cukup sirkulasi udara memenuhi bagasi. Juan dalam keadaan bahaya. Tubuhnya meringkuk, ia mencoba mencari posisi yang memungkinkan udara untuk ia girup. Ia membalik posisi badannya perlahan-lahan. Beruntung baginya menemuka celah kecil di dalam bagasi. Celah yang memungkinkan ia mengintip ke arah dalam mobil. Juan mencoba membuka perlahan-lahan celah yang terhalang jok tersebut. Dengan tujuan agar ia bisa sedikit mendapatkan udara. Mobil akhirnya melambat, berbelok masuk ke sebuah parkiran. Parkiran rumah milik oknum polisi tersebut. Ia akhirnya bisa bernafas lega, melihat dari balik celah mobil akan segera berhenti. Saat yang ditunggu pun tiba, mobil parkir dan berhenti dengan sempurna. Juan segera bergegas keluar dari balik celah jok. Sebelum pintu keluarnya benar-benar terkunci. Dalam hitungan sepersekian detik, Juan keluar bersamaan dengan oknum polisi tersebut. Oknum itu masuk ke dalam rumahnya. Ia berjalan tanpa menyadari Juan yang bersembunyi di garasi rumahnya. Juan yang merasa sudah aman, mulai menyelinap masuk perlahan-lahan. Sebelum membuntutinya, Juan mengambil beberapa peralatan yang terdapat di garasi tersebut. Benda-benda tumpul yang bisa ia gunakan untuk menghabisi pria tersebut. Juan menyembunyikan di balik pakaiannya, setelah dirasa siap, Juan mulai menyelinap masuk. Pelan-pelan ia mengendap-endap agar tak ketahuan. Bersembunyi dibalik sudut atau ruangan yang gelap. Begitu sudah melihat target, Juan siap untuk melancarkan aksinya. Mengeksekusi oknum tersebut. Tapi tiba-tiba di luar dugaannya, pria tersebut disambut oleh suara anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'. Juan mengurungkan niatnya untuk menghantam kepala pria itu dari belakang. Ia kembali harus bersembunyi. Pria itu memiliki keluarga yang terdiri dari istri dan satu orang anak perempuan. Usianya masih cukup belia, kisaran 4 tahun. Keluarga kecil yang harmonis sedang merayakan kepulangan kepala keluarga. Pemandangan yang membuat rasa kemanusiaan Juan timbul. Tak sampai hati ia menghajar pria tersebut. Bukan karena ia tak mampu, tapi karena anak dan istrinya. Juan tak ingin mereka melihat kepala keluarganya harus menerima ganjaran atas apa yang ia lakukan. Juan masih memiliki sedikit rasa empati pada pria tersebut. Dirinya di hadapkan pada posisi yang dilematis. Merasa aksi balas dendamnya tak lagi memungkinkan, Juan kemudian mencari jalan keluar. Ia tak ingin merenggut kebahagiaan dari anak kecil yang sedang manja pada ayahnya yang baru pulang. Setelah menemukan jalan keluar, Juan menoleh sekali lagi ke arah rumah pria tersebut. Dari luar tampak mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. "Mungkin kau membuat banyak kesalahan. Tapi untuk menghakimu, sepertinya bukan tugasku. Aku tidak akan merenggut kebahagiaan orang lain lagi," ujar Juan lalu pergi dari rumah pria itu. Ia merasa kesal dan dilema sepanjang perjalanan. Tidak enak pada Diego dan Sanchez bila mereka tahu kenyataan. Bahwa dirinya gagal menjalankan rencana. Di sisi lain Juan tak berhak untuk melakukan itu. Ia manusia biasa yang juga memiliki perasaan. Dirinya menjadi semakin kesal dan muak pada para mafia itu. Mereka yang membuat Diego dan Sanchez serta Artur jadi menderita seperti sekarang. Mereka membuat ketiga rekan barunya harus merasakan kerasnya kehidupan. Ketika anak-anak seusianya merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Mereka justru harus berusaha keras bertahan hidup untuk menyambung nyawa. Juan yang terlanjur kesal menendang tong sampah yang ia temui. Membuat sampahnya berserakan di jalan. Ia lantas ditegur oleh pria yang tak dikenal. Pria tersebut meminta Juan untuk memungut kembali sampah yang sudah ia tendang. Bukannya merespon teguran tersebut dengan baik, Juan justru menghajar pria tersebut. Pikirannya benar-benar dibuat kacau. Perasaannya campur aduk ia rasakan. Ia benar-benar di luar kendali. Pria yang sebelumnya berniat baik menegurnya. Malah babak belur ia hajar. Orang-orang yang melihat aksi Juan, tak ada yang berani menghentikannya. Juan berhenti setelah menyadari ia tengah memukuli orang. Orang tersebut sudah berdarah-darah ia pukuli. Begitu sadar, Juan segera berlari pergi meninggalkan pria tersebut dalam keadaan terluka parah. "Apa yang aku lakukan?! Kenapa aku justru semakin liar?! Setelah kehilangan banyak hal dan orang-orang yang disayang. Kenapa aku justru semakin brutal?! Apakah ini yang aku mau?! Beginikah yang harus aku jalani?!" gumam Juan sembari terus berlari. Ia terus berlari hingga kembali ke ruko. Dirinya langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat ketiga rekannya yang berada di dalam seketika terkejut. Juan langsung duduk di sofa, nafasnya terengah-engah. Baik Sanchez, Diego, atau Artur tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Artur memberikan Juan minum dan memintanya menenangkan diri. "Ini, minumlah. Tenangkan dirimu dulu. Setelah itu baru katakan apa yang terjadi," kata Artur sembari memberikan minuman pada Juan. Juan meminum air pemberian Artur. Setelahnya ia mencoba mengatur nafasnya dan mencoba sebisa mungkin menenangkan dirinya. Beberapa menit kemudian barulah ia bisa merasa tenang. "Ada apa? Kenapa kau seperti orang yang ketakutan? Seperti orang yang habis dikejar oleh sesuatu. Ceritakan saja apa yang terjadi," tanya Artur. "Aku tidak apa-apa. Aku harus meminta maaf kepada kalian. Karena aku gagal membalaskan dendam kalian. Aku gagal melakukannya. Maaf aku sudah membuat kalian kecewa," ujar Juan menyesal. "Tapi kau sudah berjanji untuk membalaskan dendam kami! Kenapa kau gagal, Juan?!" Diego tak bisa menerima begitu saja kegagalan Juan. Ia merasa dikecewakan Juan untuk kedua kalinya. "Maafkan aku, Diego. Aku tidak bermaksud menggagalkan rencana kita. Aku minta maaf." "Sudah tidak apa-apa. Memangnya ada apa? Kenapa kau sampai begini?" tanya Sanchez. "Aku berhasil mengikuti pria tersebut. Aku masuk ke dalam bagasi mobilnya dan ikut dengannya hingga tiba di bagasi rumahnya. Tekadku sudah bulat untuk membalaskan dendam. Aku juga sudah mempersiapkan segala peralatan yang kubutuhkan jika saja ia memberikan perlawanan. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku membuntutinya dari belakang. Aku sudah mengunci posisinya. Begitu hendak ku ayunkan benda ini untuk menghantam kepalanya. Tiba-tiba aku tak bisa." "Kenapa?" "Ada suara anak perempuan memanggilnya dengan sebutan Ayah. Aku tak mungkin menghajarnya di depan keluarganya. Lagipula siapa yang akan tega merenggut kebahagiaan keluarga tersebut. Aku sama sekali tak bisa melakukanya. Sudah terlalu banyak nyawa yang hilang dan sudah terlalu banyak orang yang kehilangan keluarganya. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Maafkan aku." Juan menjelaskan kronologi kejadiannya sambil mengeluarkan benda yang ia ambil dari bagasi rumah. Ia kemudian meletakkan barang tersebu di atas meja sebagai bukti kesungguhannya. "Kau dengar itu Diego? Apa kau masih ingin menghabisi ayah dari seorang anak perempuan? Begitu kejamkah hatimu? Apa kah darah mafia sudah menurun kepadamu? Hingga kau tak memiliki rasa kasihan?" uja Sanchez menasehati Diego. "Iya-iya, maafkan aku juga. Aku terlalu memaksamu untuk melakukan hal itu. Kalau tau ada keluarga dari pria tersebut. Tentu aku tidak akan memintamu melakukannya. Aku tidak ingin anak tersebut bernasib sama seperti kami di sini. Tidak memiliki orang tua dan tidak tahu apa itu kasih sayang dari kedua orang tua." Diego mulai bisa menerima kenyataan. Suasana kembali terkendali. Mereka berempat sudah mulai bisa berbincang dalam suasan yang lebih hangat lagi. Setelah sebelumnya terlibat sedikit perdebatan. Pada akhirnya mereka kembali bisa mengendalikan diri masing-masing. "Bagaimana dengan tempat ini, Juan? Apa kau sudah ada gambaran hendak membuka usaha apa di tempat seperti ini?" tanya Artur. "Entahlah, mungkin aku akan meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya di tempat ini. Sesuatu yang menjadi identitas dari tempat ini." "Kau akan membuka usaha bar?" "Sepertinya begitu. Tapi juga ada buah-buahan yang aku ku jual di depan toko. Bar ini nantinya tidak akan menyediakan alkohol. Kita hanya membuat minuman biasa saja. Tanpa alkohol sama sekali. Bagaimana menurutmu?" "Aku setuju dengan idemu. Kalau begitu kau harus secepatnya meresmikan tempat ini. Dengan begitu semakin cepat kau membuka usaha. Semakin cepat pula kau memiliki penghasilan. Barang yang kerap kuberikan padamu. Itu tidak gratis, ya! Kau harus ingat itu!" "Iya, aku ingat! Begitu usaha ini sudah berjalan. Aku akan membeli barang itu. Tak perlu menunggu pemberian cuma-cuma darimu." Obrolan mereka tak terasa sudah berlangsung beberapa jam. Hari pun sudah memasuki waktu malam. Juan harus segera beristirahat sekarang. Termasuk ketiga rekannya yang harus kembali ke rumah mereka untuk beristirahat. Mereka bertiga pun berpamitan pada Juan lalu pergi dari toko. Meninggalkan Juan sendirian yang juga akan beristirahat. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN