Juan terkejut mendengar hal tersebut. Segera mungkin ia berlari hendak menyusul pelaku tersebut. Akan tetapi orang yang hendak ia kejar sudah pergi. Begitu cepat hingga jejak tak terkejar dan terendus oleh Juan. Juan yang berlari keluar ruko seketika dikejar oleh Diego dan Sanchez. Mereka bertiga kemudian masuk kembali ke dalam.
"Kenapa kau tidak katakan dari tadi? Jika tahu begitu. Sudah langsung kuberikan pelajaran tanpa harus menunggu ia pergi," kata Juan kesal.
"Aku saja tidak tahu kalau ternyata yang datang oknum itu. Seandainya aku tahu sejak awal tentu aku langsung memberitahumu."
"Lalu bagaimana sekarang? Apakah kita tidak bisa menemukan jejaknya?" tanya Diego.
"Maafkan aku, Juan. Aku tidak langsung keluar dari kamar ketika melihatnya sedang berbincang denganmu. Aku berpikir untuk mengatur rencana terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Gegabah tidak akan menyelesaikan masalah. Kita justru akan menemukan masalah yang baru."
"Kau benar, Sanchez. Terlebih dia sedang mengenakan seragam. Aku tidak mau menyerangnya karena sangat beresiko. Kita tidak hanya akan berhadapan dengannya tapi juga dengan instansi terkait tempatnya bekerja. Melibatkan banyak pihak akan menjadikan mssalah ini semakin rumit saja. Lebih baik kita susun rencana dulu untuk bisa memberikannya pelajaran."
Mereka bertiga sepakat untuk menyusun rencana. Rencana yang memungkinkan untuk menangkap oknum tersebut. Tanpa harus melibatkan instansi tempatnya bekerja. Sebisa mungkin membalaskan dendam tanpa melibatkan banyak pihak. Bermain se rapi mungkin agar tidak terendus masalah baru.
Ketiganya mulai berpikir dengan serius untuk menemukan solusi. Hingga Juan yang paling pertama menemukan cara menangkap oknum tersebut. Ia lantas memberitahukan idenya kepada Sanchez dan Diego.
"Aku punya ide. Semoga saja ini akan berjalan lancar. Di mana biasanya oknum tersebut berhenti untuk memantau? Dia orang lapangan, kan? Bukan polisi yang bertugas di kantor?" tanya Juan.
"Dia biasanya memarkirkan kendaraan polisinya di dekat tempat Artur biasa mengantar barang. Ia mengawasi sekitar seolah-olah berkontribusi. Padahal transaksi yang terjadi di sana tidak ia hiraukan. Mereka para mafia dan kurir tetap bisa jual beli dengan catatan memberikan uang tutup mulut pada oknum itu."
"Sudah kuduga pria itu oknum selama ini! Hampir saja aku tertipu dan menuruti kemauannya."
"Memangnya apa yang dirimu bicarakan dengannya tadi, Juan? Tampaknya sangat serius dan apakah kalian menemukan sepakat? Sampai ia bisa pergi begitu saja dari tempat ini," tanya Diego.
"Ia menawarkan jaminan izin dan keamanan padaku. Entah dia tahu dari mana kalau aku hendak membuka usaha. Aku bahkan belum memikirkan hendak memulai usaha apa. Tapi ia sudah menawarkan keamanan untukku. Ia meminta bayaran sekian dan sekian. Agar usaha yang nantinya aku jalani sudah memiliki izin yang sah dan mendapatkan naungan perlindungan dari pihak berwajib. Tidak akan ada pengganggu yang berani macam-macam pada usahaku. Begitulah kira-kira apa yang ia tawarkan padaku."
"Omong kosong! Bahkan ia adalah lintah darat yang sesungguhnya. Ia tidak akan bisa memberikan jaminan perlindungan apa pun di sini. Para mafia akan tetap datang meminta jatah mereka. Ia tidak bisa berbuat apa pun selain pura-pura seakan mengawasi. Memasang badan tanpa melakukan apapun. Oknum yang sunggu menghancurkan citra penegak hukum." Sanchez tampak gusar.
Oknum tersebut hanya menawarkan hal yang tidak bisa ia lakukan. Mengingat di tempat ini para mafia lah yang paling berkuasa. Maka tak ayal apa yang oknum polisi tersebut janjikan hanya pemanis saja. Agar dirinya seolah-olah bekerja padahal hasilnya tidak ada. Lebih baik Juan berbisnis dan meminta jaminan dari para mafia yang jelas-jelas akan memberikannya.
"Kalau begitu lebih baik aku berbisnis dengan para mafia. Meski jumlah mereka banyak dan tingkah mereka tak baik. Setidaknya untuk urusan keamanan mereka memberikan kepastian," kata Juan.
Ketika mereka bertiga tengah berdiskusi. Tak lama Artur tiba di tempat tersebut. Selesai dirinya mengantar paket dan memarkir sepedanya di depan. Ia masuk ke dalam. Artur terkejut begitu melihat teman-temannya sedang berkumpul dan berbincang dengan Juan. Tampak seperti obrolan mereka sedang serius.
"Ada apa ini? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu? Apakah ini sangat penting? Sampai-sampai kalian bertiga berdiskusi begini," tanya Artur sembari berjalan mendekati mereka.
"Syukurlah kau datang tepat waktunya. Kami memang sedang mencarimu. Ingin menanyakan beberapa hal padamu," kata Juan.
"Wah! Aku sangat tersanjung mendengarnya. Ada apa kira-kira? Kenapa sampai mencariku seperti ini?" tanya Artur makin penasaran.
"Apakah kau ingat oknum polisi yang kerap memarkir kendaraannya di tempat kau bertransaksi?" tanya Sanchez.
"Iya, aku ingat. Kenapa memangnya? Polisi itu tidak melakukan apa pun selama di sana. Ia bahkan tahu kalau aku sedang mengantarkan barang-barang haram untuk para pelanggan. Terkadang juga pembeli yang datang dari luar dan dari kelompok mafia lain. Orang tersebut tidak bereaksi apapun. Selama kita memberikan upah tutup mulut padanya. Ada apa memangnya?" Artur menjelaskan lalu bertanya balik. Ia semakin penasaran dibuatnya.
"Oknum polisi itu adalah pelaku yang sudah menjebak dan menyerang kakakku, Artur! Kita harus segera menangkapnya dan memberikannya pelajaran." Diego dengan menggebu-gebu segera memberitahu pada Artur. Sosok asli dari oknum polisi itu.
Artur tampak sangat terkejut. Tak menyangka kalau selama ini, orang yang sering ia berikan uang, ternyata pelaku penyerangan terhadap temannya. Ia tak percaya, kenapa pria tersebut tega menyerang orang yang sudah memberikannya sejumlah uang.
"Apa?! Kalian pasti bercanda. Tapi bagaimana mungkin?! Orang itu terlihat tidak memiliki kekuatan dan daya apapun. Ia tak jauh berbeda dengan patung yang hanya berdiri di pinggir jalan. Bagaimana mungkin?" tanya Artur dengan wajah tak percaya.
"Kau tidak akan percaya sampai aku mengatakan hal ini. Tapi begitulah yang sebenarnya."
"Sudah-sudah! Hentikan perdebatan ini. Sekarang kita tidak punya banyak waktu. Di mana lokasi tempat oknum itu biasanya berada? Biar aku segera ke sana untuk menghajarnya. Bila perlu aku habisi ia." Juan menghentikan perdebatan kecil di antara Artur dan Sanchez.
Artur terdiam sejenak. Memikirkan sesuatu yang membuat Juan agak kesal. Ketika situasi yang memaksanya bertindak cepat. Artur malah seolah memperlambatnya. Tidak langsung memberitahu lokasi tempat biasa pria itu berada.
"Kenapa kau malah diam saja Artur?! Cepat katakan di mana lokasinya! Jangan kau coba menutupi persembunyian pria itu. Waktu kita tak banyak! Kita harus segera ke sana untuk memberikannya pelajaran." Juan mulai naik pitam.
"Tenanglah, Juan! Aku juga sedang berpikir. Di sana tempat yang ramai. Kau tidak bisa untuk datang dan langsung menyerangnya. Kalau kau memang mau menyerangnya. Kau harus menunggunya sampai pulang ke rumah dan ia mengganti pakaiannya. Dengan begitu kau bisa sesuka hati melampiaskan semuanya. Kalau ia masih mengenakan seragam, lebih baik untuk tidak menyerangnya," kata Artur menjelaskan alasannya diam.
Juan tersadar selepas Artur menjelasakan alasannya diam. Ia harusnya bersikap lebih tenang dan memikirkan segalanya dengan matang. Mengingat lawan yang ia hadapi memiliki keterikatan dengan sebuah instansi. Perlu strategi khusus agar serangan tak terendus.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang beritahu saja aku di mana tempatnya. Biar aku yang membereskan semuanya. Aku akan mengikuti rencanamu. Diam-diam aku akan membuntutinya sampai tiba mungkin di tempat tinggalnya. Setelah tiba aku akan segera membuat perhitungan dengannya."
"Apa aku boleh ikut denganmu? Aku juga ingin membalaskan dendam atas perlakuannya pada kakakku. Biar aku beri pelajaran yang setimpal dirinya!"
"Kalian lebih baik tetap di sini. Sangat berbahaya jika terlalu banyak melibatkan orang untuk rencana kali ini. Percayakan saja semuanya padaku. Aku tidak akan mengecewakan kalian. Akan kubuat perhitungan yang setimpal atas apa yang sudah ia lakukan. Kesalahan yang baru saja aku lakukan juga ingin segera kutebus. Menghukum nyawa yang tak bersalah untuk menggantinya dengan pelaku utama."
Rencana sudah final, Juan diantar oleh Artur menuju ke tempat oknum tersebut biasa berada. Sementara Diego dan Sanchez tetap menunggu di ruko sampai Juan kembali. Diego yang tak bisa ikut, wajahnya berubah jadi muram. Ia ingin sekali ikut membantu Juan, tapi dilarang olehnya. Membuatnya merasa kecewa dan sedih. Sanchez melihat sang adik yang berubah raut wajahnya, lantas mencoba menghiburnya.
"Kau kenapa? Wajahnya, kok, berubah cemberut? Kau kesal, ya? Tidak bisa ikut dengan Juan untuk menyerang orang tersebut?" tanya Sanchez.
"Iya, kenapa ia melarangku? Memangnya aku tidak boleh ikut membalaskan dendam padanya? Kenapa hanya ia yang berhak, Kak?"
"Diego, dengarkan aku! Kau sudah meminta Juan untuk menjaga kita. Kau sudah mempercayakannya untuk itu. Kalau sejak awal kau sudah meminta bantuannya dan memberikannya kepercayaan itu. Kenapa sekarang justru kau ragu padanya? Percayakan saja semuanya padanya. Toh, kalau rencana ini berjalan dengan lancar. Kau akan merasa senang juga. Karena dendamku dan dendanmu sudah terbalaskan. Kau tidak perlu bersedih lagi. Aku juga di sini menemanimu, kok," ujar Sanchez mencoba memberikan pengertian pada adiknya.
Diego berhenti merasa kecewa. Perkataan kakaknya cukup membuatnya sadar. Kepercayaannya pada Juan kembali. Ia kini berharap Juan bisa menjalankan rencananya dan membalaskan dendamnya yang sudah menggebu-gebu. Sementara itu, Juan dan Artur berejalan menuju ke tempat oknum polisi itu. Setelah beberapa menit berjalan, tibalah mereka di lokasi.
Artur memeriksa keadaan sekitar. Memastikan tidak ada penghalang yang mungkin saja menggagalkan rencana mereka. Setelah dirasa aman, barulah ia mempersilakan Juan menjalankan aksinya.
"Sekarang semuanya kuserahkan kepadamu. Kau harus berhati-hati. Tetap pada rencana kita. Jangan gegabah! Kau hanya perlu mengikutinya sampai di tempat yang memungkinkan bagimu menghabisinya. Kau mengerti?!" Artur bertindak seolah sebagai pemimpin memberikan komando pada Juan.
Juan tersenyum sambil berkata, "Kau bosnya sekarang!"
Bersambung