Mereka bertiga mulai membagi tugasnya masing-masing. Ada yang membersihkan lukisan. Ada yang membersihkan sarang laba-laba dan tiap debu yang menempel. Ada juga yang menata letak meja dan kursi-kursi agar terlihat lebih rapi. Mereka bekerja sama dan saling menyemangati satu dengan yang lainnya. Pekerjaan yang menguras tenaga jika Juan kerjakan sendirian. Menjadi terasa lebih ringan ketika mendapatkan bantuan.
Tak terasa waktu yang mereka habiskan cukup lama. Waktu sudah menunjukkan tengah hari. Mereka bertiga pun beristirahat sejenak. Juan mengambilkan mereka minuman yang sebelumnya diberikan Artur padanya. Ia juga mengeluarkan beberapa makanan ringan untuk disajikan menemani istirahat mereka.
"Maaf jika aku hanya bisa memberikan ini. Aku belum pergi kemana-mana untuk berbelanja," kata Juan.
Tak ada protes dari Diego dan Sanchez. Mereka menerima jamuan dari Juan untuk melepas dahaga dan sedikitnya mengganjal rasa lapar. Mengisi kembali tenaga mereka sehabis bekerja setengah hari. Merapihkan tempat tersebut. Kini, sudah mulai terlihat penampakan ketika bar tersebut hampir bersih sepenuhnya. Terlihat meja bartender yang sebelumnya tertutup debu, sudah tampak lebih bersih.
Lukisan-lukisan yang terpampang di dinding. Sudah semuanya dibersihkan dan memberikan kesan mewah tempat tersebut. Beberapa hiasan lain di ruangan tersebut juga sudah dibersihkan dari debu yang menempel. Lantai nya juga sudah disapu dan di pel. Hanya tinggal beberapa hal kecil lagi saja sebelum tempat tersebut benar-benar siap untuk dibuka.
"Sepertinya dahulu tempat ini adalah bar, ya? Ada tempat bartender di sana," tanya Sanchez.
"Iya, sepertinya begitu. Ketika aku menyewa tempat ini, pemiliknya tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengatakan untuk membersihkan tempat ini. Aku tak tahu kalau tempat ini dulunya bar. Sama seperti kalian yang baru tahu ketika sudah membersihkan tempat ini."
"Kalau begitu kau akan berjualan minuman seperti bar-bar lain di kota ini?" tanya Diego.
"Aku juga tidak tahu pasti. Mungkin iya mungkin juga tidak. Aku belum memiliki ide untuk membuka usaha apa. Kalau pun aku membuka kedai minuman, aku tidak akan menyediakan alkohol seperti bar-bar pada umumnya. Aku mungkin hanya menyediakan tempat untuk meminum minuman berenergi saja."
"Bagus kalau begitu. Aku dan kakak bisa membantumu di sini untuk berjualan kalau begitu. Kami tak perlu harus memisahkan orang-orang yang berkelahi di bar. Belum ada juga tempat seperti itu di sini. Itu merupakan ide yang bagus," kata Diego menyetujui ide Juan.
"Kalian terlalu banyak membantuku. Aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Aku juga baru akan membuka usaha, kalau kalian langsung membantuku di sini. Aku bingung cara untuk membayar kalian sebagai upah atas kerja keras kalian."
"Kau tidak usah memikirkan tentang bagaimana membayar kami. Kami akan senang membantumu kalau kau perlu bantuan," ujar Sanchez.
"Kalau kau ingin membalas kami. Aku tahu bagaimana caranya," kata Diego.
"Diego! Sejak kapan aku mengajarimu untuk pamrih pada orang? Kita harus membantunya dengan suka rela," tegur Sanchez.
"Tidak apa-apa. Katakan saja. Siapa tahu aku bisa membantumu."
"Dengarkan, Kak? Juan saja tidak keberatan jika aku mengatakannya. Aku ingin kau menjaga kami berdua dan Artur apapun yang terjadi."
"Hanya itu?"
"Aku juga ingin memintamu untuk memberi pelajaran pada orang yang telah menjebak kakakku. Aku tidak bisa membiarkan orang tersebut hidup dengan tenang setelah apa yang ia lakukan. Kakakku harus menanggung segalanya atas perbuatannya. Aku ingin orang tersebut mendapat ganjaran yang setimpal."
"Diego! Kau tidak boleh memberatkan Juan. Aku tidak setuju jika sampai Juan terlibat terlalu jauh dalam masalahku ini. Biar aku saja yang menyelesaikannya."
"Tidak masalah, Sanchez. Aku tidak merasa keberatan. Aku juga ingin membuat perhitungan dengan orang tersebut. Aku merasa bersalah sudah menjebak orang yang salah. Aku ingin ornag tersebut mendapatkan ganjaran atas perbuatannya," kata Juan sembari mengepalkan tangannya.
Diego tersenyum lebar ketika Juan setuju dengan permintaannya. Kini, ada orang yang akan membalaskan dendamnya pada pria yang menjebak kakaknya. Sementara Sanchez, ia tak bisa berkata apapun lagi. Menyerahkan semuanya pada Juan tanpa berharap dan membebani Juan. Kalau ia gagal untuk membalaskan dendam.
Ketika mereka bertiga tengah rehat, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Orang tersebut memanggil dari luar. Juan menatap ke arah Diego dan Sanchez. Gesture nya menunjukkan tanda tanya kepada mereka berdua. Diego dan Sanchez membalas dengan gerakan seolah tak mengetahui siapa yang datang. Juan pun bangkit dan memeriksa. Ia mengintip sejenak dari celah pintu. Ternyata di luar ada seorang pria berpakaian polisi tengah berdiri di depan pintu.
"Siapa?" tanya Sanchez.
"Polisi. Aku tidak tahu tujuannya datang ke sini. Kalian masuklah ke dalam kamarku dulu. Biar aku menyambutnya," ujar Juan.
Diegod an Sanchez pun menuruti perintah Juan untuk bersembunyi sementara waktu di kamarnya. Juan kemudian membukakan pintu untuk polisi tersebut. Ia memasang wajah tersenyum sebagai sambutan hangat atas kedatangannya.
"Selamat siang," kata polisi tersebut.
"Iya, siang, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Juan.
"Sepertinya tempat ini akan segera buka, ya? Boleh saya masuk? Ada yang ingin saya sampaikan beberapa hal kepada anda. Jika anda berkenan untuk menerima informasi yang hendak saya berikan," kata polisi tersebut.
"Oh iya, Pak. Silahkan masuk. Maaf masih berantakan. Masih proses merapihkan." Juan membuka lebar pintunya dan membiarkan polisi itu masuk ke dalam.
Ia lalu mempersilahkannya duduk lalu menyuguhkan minuman padanya. Juan kemudian duduk di dekat polisi itu untuk menyimak informasi yang hendak ia berikan.
"Ada apa, Pak? Silahkan untuk menyampaikan informasinya," kata Juan.
"Jadi begini. Saya melihat sepertinya anda ini pendatang di sini, ya? Saya baru melihat anda beberapa hari yang lalu. Apakah benar anda ada niatan untuk membuka usaha di tempat ini?"
"Iya, benar, Pak. Kemungkinan saya akan melakukannya."
"Sudah tahu aturan yang berlaku di tempat ini? Perizinan dan syarat untuk bisa berdirinya tempat usaha?"
"Belum, Pak. Memangnya saya harus memenuhi syarat apa, ya? Apakah rumit untuk mendirikan usaha di tempat ini?"
"Tidak, anda hanya harus membayar upeti perbulan pada pihak kepolisian sebagai bentuk izin usaha. Jika anda tidak keberatan maka biar saya yang mengambil uang tersebut. Jadi, anda tidak perlu repot-repot pergi ke kantor polisi untuk menyetorkan uang izin usaha setiap bulannya. Saya di sini hendak membantu anda mempermudah segala urusannya. Bagaimana? Apa informasi yang saya berikan mudah dipahami?" tanya polisi itu setelah menjelaskan pada Juan aturan mainnya.
"Saya mengerti, Pak. Tapi apa uang keamanan dan perizinan yang saya setorkan. Menjamin usaha saya akan berdiri dengan izin yang sah? Apakah tidak akan diganggu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang meminta uang seenaknya?"
"Tentu saja. Tidak akan ada yang berani mengusik tempat ini jika sudah mengikuti prosedur yang diberikan. Pokoknya anda tenang saja. Tempat ini akan di bawah naungan pihak berwajib. Kapan lagi usaha anda akan dinaungi dan dilindungi pihak berwajib? Tidak akan ada yang berani meminta uang keamanan atau semisalnya. Bila ada, anda tinggal melapor saja," kata polisi itu.
"Kalau memang benar begitu. Baiklah saya akan setuju, Pak. Berapa kira-kira nominal yang harus saya keluarkan? Dan berapa kali saya harus membayar dalam satu bulan?"
"Tidak mahal, anda hanya perlu membayar 10% dari keuntungan yang didapatkan selama satu bulan. Itu tidak terlalu besar untuk tempat sebesar ini. Saya yakin keuntungan anda tisak ada apa-apanya dengan persenan yang saya berikan."
"Ta-tapi usaha ya baru saja akan berjalan. Bukankah 10% itu cukup besar, Pak? Bagaimana kalau saya tidak mampu membayarnya?"
"Kalau anda tidak mampu ya saya tidak akan memaksa. Mungkin nanti urusan tempat usaha anda akan diganggu para mafia. Itu di luar tanggung jawab pihak berwajib. Kalau anda ingin tempat usaha anda aman maka anda harus bayar. Jika tidak ya tanggung sendiri resikonya."
Sanchez dan Diego mengintip dari celah pintu kamar. Sedikit menguping pembicaraan yang dilakukan oleh Juan dan si polisi. Sanchez tampak jengkel melihat wajah polisi itu. Ia seolah memiliki dendam dan masalah pribadi dengannya.
"Orang ini licik! Dialah yang sudah menjebakku dan menghajarku. Aku tidak akan biarkan Juan sampai masuk ke dalam ucapan manisnya," kata Sanchez menggerutu.
"Apa?! Jadi dia orang yang sudah menyerangmu, Kak? Kalau begitu kita harus membalasnya sekarang! Kita harus beritahu Juan sekarang juga, Kak!" Diego memanas ketika tahu si polisi itu merupakan pelaku yang sudah menyerang kakaknya.
"Jangan gegabah Diego! Kita tunggu sampai dia pergi. Baru nanti kita beritahu Juan. Kalau sekarang terlalu beresiko! Kita harus menyusun rencana dulu." Sanchez mencoba menenangkan sang adik agar tak gegabah mengambil tindakan.
Pada akhirnya polisi itu pun pergi dari tempat tersebut. Perbincangannya dengan Juan yang sebelumnya cukup alot, menemukan kata sepakat. Keduanya menyepakati perjanjiannya. Ketika polisi itu pergi, Diego dan Sanchez segera keluar dari kamar dan menghampiri Juan.
"Juan! Tahukah kamu siapa pria itu?" tanya Sanchez.
"Tidak, dia hanya polisi. Kenapa?"
"Dialah pelakunya!" tegas Diego
Bersambung