Selesai membenahi barang bawaannya juga meletakkan pakaiannya di dalam lemari. Juan keluar dari kamarnya menuju ruang depan. Ia duduk di sofa sambil melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Berpikir hendak ia jadikan apa tempat tersebut. Mencari jenis usaha apa yang nantinya akan ia buka dan jadikan alat penyambung hidup. Juan terus memandangi sekitar hingga menemukan sebuah ide.
Usahanya mencari ide terkendala ruangan yang masih kotor. Masih banyak barang yang harus ia pindahkan dan beberapa sudut ruangan yang harus ia bersihkan. Setelah semuanya ia bersihkan dan rapihkan, barulah ia memiliki pandangan lebih luas mengenai tempat tersebut. Cocok membuka usaha apa nantinya ia. Merasa dirinya tak kunjung menemukan ide, Juan kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Sudah lama ia tak menghisap cerutu, sejak ia sampai di kota tersebut. Ia hanya menghisap barang haram jenis daun. Belum menghisap jenis lintingan biasa yang memiliki filter busa pada ujungnya. Ia lalu mengeluarkan barang tersebut dari sakunya dan mulai mengeluarkan dari dalam bungkusnya. Setelah dinyalakan ia mulai menghisapnya perlahan-lahan.
"Akhirnya setelah sekian lama. Aku bisa kembali menghisap ini," ujar Juan.
Sambil melihat pemandangan sekitar tempat tinggalnya yang baru. Juan duduk di teras menikmati cerutu miliknya. Hingga tak sadar sudah menghabiskan beberapa batang. Ia belum juga menemukan inspirasi. Merasa tak akan mendapatkan ide, Juan kembali masuk ke dalam. Hari juga sudah petang, sebentar lagi akan gelap. Juan menyalakan lampu yang berada di ruangan tersebut. Begitu ia menyalakan, barulah tampak jelas tampilan ruang depannya.
Tempat tersebut ternyata bekas bar minuman. Masih terdapat beberapa meja dan kursi yang tersisa. Tertumpuk menjadi satu dengan sarang laba-laba tentunya yang menutupi. Juan mulai berpikir untuk membuka bar di tempat tersebut. Meski resikonya ia akan selalu mendapati perkelahian dari orang-orang yang berkunjung ke sana hampir setiap harinya.
Puas melihat tampilan ruangan selepas dinyalakan lampu. Juan masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Ada pekerjaan yang melelahkan menunggunya esok hari. Membersihkan tempat tersebut hingga benar-benar bersih. Ia membutuhkan tenaga ekstra untuk itu. Sebelum tidur, Juan menyalakan kembali lintingannya. Ia masih belum bisa lepas dengan mimpi buruknya.
Mimpi yang selalu menghantuinya bilamana lengah tak menggunakan penenang ketika tidur. Kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun lalu. Tak bisa lepas dari dirinya mungkin sampai ia berhasil membalaskan dendamnya. Membunuh ketua The Son of Lucifer. Agar semua yang ia derita menjadi impas. Dalam lamunannya sambil menghisap lintingan, Juan teringat kembali tiap kejadian buruk yang menimpa hidupnya.
Sesekali tergambar wajahnya Marco dalam ingatannya. Momen yang ia habiskan bersama sang adik sejak kecil hingga terakhir kali sebelum ia dibakar hidup-hidup. Tiap ia menghisap dalam-dalam, tiap itu pula peristiwa di masa lalu terputar. Silih berganti menyibukkan pikiran Juan hingga barang tersebut habis dan ia berhenti menghisapnya. Barulah tiap peristiwa yang terjadi berhenti berputar dalam pikirannya.
"Aku tahu kau tak akan melepaskanku begitu saja, Marco. Sampai aku benar-benar membalaskan semuanya. Aku sudah berjanji padamu maka akan aku penuhi meski kau sudah tak ada. Aku tak bisa selamanya hidup seperti ini. Cepat atau lambat aku harus tuntaskan semuanya. Aku ingin hidup bebas dari belenggu kesalahan di masa lalu. Maafkan aku, Marco. Kau harus menunggu lama untuk janji itu terlaksana," ujar Juan lalu mengambil bingkai foto dari atas meja.
Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dirinya menatap lampu yang menyala tepat di atasnya. Sambil memeluk bingkai foto dan mendekapnya. Juan mulai memejamkan matanya. Beristirahat dari lelah yang ia rasakan hari ini. Bersiap menyambut hari melelahkan lainnya esok hari. Ia tidur hingga pagi pun tiba dan cahaya mentari mulai meninggi. Dirinya kemudian membuka mata dan duduk di tepian ranjang. Untuk sementara waktu mengumpulkan kesadarannya sebelum bangkit dari ranjang.
Rasa kantuk tak terlalu lama menahannya. Meski belum sepenuhnya sadar, ia tetap memaksa dirinya untuk bangkit dari ranjang. Keluar kamar dan berjalan keluar untuk menghirup udara segar di pagi hari. Begitu ia membuka pintu, ternyata ada Artur yang sedang berdiri di depan pintu rukonya. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kau sedang apa di sini? Apa kau sudah lama berdiri di depan pintu?" tanya Juan ketika melihat Artur berdiri di depan pintu.
"Tidak, aku juga baru saja tiba. Baru hendak mengetuk pintu ini. Kau sudah lebih dulu membukanya," jawab Artur.
"Ada apa? Pagi-pagi sekali kau ke sini. Apakah ada hal penting yang membuatmu ke sini? Ada masalah apa?" tanya Juan.
"Tidak ada salahnya aku berkunjung ke sini, kan? Aku kira kau belum bangun tadinya. Aku hendak mengantarkan makanan ini untukmu siapa tahu kau mau. Aku yakin kau bingung untuk sarapan di pagi ini. Mengingat kemarin pun kau hanya makan di siang hari." Artur menyodorkan kantong plastik hitam berisi makanan yang ia bawa.
Juan kemudian memegangi perutnya. Ia baru merasakan lapar ketika Artur hendak mengantarnya makanan. Rasa lapar itu tak hadir kemarin. Tak bisa ia rasakan apapun selain perasaan bersalah dan menyesal.
"Terima kasih banyak. Aku bahkan tak memikirkan tentang rasa lapar. Rasa itu seolah tak hadir sejak kemarin. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, ya."
"Iya, sama-sama."
"Kau tidak ingin masuk dulu mampir? Keadaannya masih sama seperti kemarin. Aku baru membereskannya sedikit. Debu dan sarang laba-laba masih banyak menghiasi."
"Tidak terima kasih. Kau tahu aku harus buru-buru pergi mengantar paket. Aku tidak ingin mendapat masalah jika sampai terlambat mengantarnya."
"Kenapa kau melakukannya setiap hari? Memangnya pelangganmu itu membeli paket itu rutin setiap hari? Pecandu macam apa yang menggunakannya seperti makanan sehari-hari."
"Aku mengirim bukan pada orang yang sama. Pelanggan setiaku akan membeli dua atau tiga hari sekali. Kau bilang pecandu apa? Bagaimana denganmu? Apa kau sudah bisa bebas dari barang tersebut jika malam tiba?" ledek Artur.
"Haha kau benar! Aku bahkan tak bisa lepas dari barang itu untuk menenangkan diriku. Melalui malam yang panjang. Ya sudah, pergilah. Kau nanti akan terlambat. Ngomong-ngomong, bagaiamana kabarnya Sanchez? Apa para mafia masih mencarinya?"
"Aku tidak tahu. Ia belum pergi kemana pun sejak kemarin. Aku tak mengizinkannya, ia juga masih khawatir untuk keluar. Ya sudah, aku pergi dulu, ya. Nanti aku akan ke sini lagi untuk membantumu. Jika kau perlu bantuan."
"Iya."
Artur kemudian pergi setelah mengantarkan makanan pada Juan. Ia mengayuh sepedanya dan pergi mengantar paket pada para pelanggannya. Juan duduk di teras, ia membuka kantong plastik hitam yang diberikan Artur padanya. Ia lalu memakan beberapa makanan ringan yang ada. Meminum minuman bersoda lalu menyalakan cerutunya setelah itu. Selesai menyantap sarapan paginya, Juan masuk ke dalam untuk bersiap membereskan tempat tersebut.
Juan mulai dengan menurunkan kursi yang ditumpuk terbalik di atas meja. Ia kemudian membersihkan debu pada kursi tersebut juga pada meja. Menggunakan kain seadanya ia membersihkan beberapa meja dan kursi lainnya. Kondisi debu yang cukup tebal membuat tiap meja yang Juan bersihkan cukup membuat udara di dalam ruangan tersebut jadi kotor. Juan sampai harus menutup hidung dan mulutnya agar debut itu tak terhirup olehnya.
Ia kemudian bergeser ke sudut lainnya. Membersihkan sarang laba-laba yang sudah terlalu lama menempati sudut tersebut. Menggunakan kemoceng seadanya, ia juga membersihkan beberapa lukisan yang ditutupi debu. Membenarkan posisinya yang sudah miring menjadi lurus kembali. Juan terus membersihkan tiap barang dan sudut barang tersebut. Hingga ia dikagetkan dengan kedatangan seseorang.
"Apa kau perlu bantuan untuk membersihkan ini semua?" ujar seseorang dari depan pintu ruko yang terbuka.
Juan menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat dua anak yang tengah berdiri menutupi pintu. Ia kemudian menghampiri mereka berdua dan didapatinya ternyata Sanchez dan Diego. Ia menyambut mereka dengan senyuman. Merasa senang melihat mereka berdua datang.
"Kalian tahu tempatku di sini dari siapa? Apa Artur mengatakan semuanya pada kalian?" tanya Juan.
"Iya, dia sudah mengatakan semuanya. Bahkan ia mengatakan kalau kau membutuhkan bantuan untuk merapihkan tempat ini. Maka dari itu kami datang ke sini. Kau tidak keberatan, kan, kalau kami membantumu?" ujar Diego.
"Tentu saja aku tidak merasa keberatan. Dengan senang hati aku menerima bantuan dari kalian berdua. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu Sanchez? Apa kau sudah membaik? Apa kau sudah pergi untuk mengantar paket lagi seperti Artur?"
"Aku sudah membaik hanya saja belum kembali bekerja. Aku masih takut para mafia itu masih mengincarku. Aku tak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya pada mereka. Mereka tak akan mempercayainya. Percuma saja! Lebih baik aku diam di rumah untuk sementara waktu sampai semuanya terkendali."
"Ya sudah kalau begitu. Ayo masuk ke dalam. Keadaannya masih seperti ini. Berantakan dan berdebu. Kalian bisa mulai membantuku dari tempat yang kalian suka untuk dibersihkan."
Bersambung