Menyiapkan Mental Sebelum Buka Usaha

1315 Kata
Juan bersama Artur melihat-lihat bagian dalam tempat tersebut. Hingga mereka didatangi oleh pemilik dari tempat tersebut. Juan kemudian berbincang dengannya untuk bernegosiasi mengenai harga. Dirinya harus mendapatkan harga yang bagus. "Jadi, kau yang ingin tinggal di tempat ini? Siapa namamu, Tuan?" tanya pemilik tempat tersebut. "Namaku, Max. Aku berniat untuk menyewa tempatmu ini. Menjadikannya tempat tinggal sekaligus aku akan membuka usaha di sini." "Oh ya? Usaha apa?" "Entahlah, aku belum terpikirkan." "Beginilah keadaan tempatnya. Memang sudah lama tidak ditempati oleh orang. Karena orang-orang lebih suka tinggal di penginapan ketimbang menyewa tempat seperti ini. Padahal jika mereka tahu, harga sewa yang kutawarkan tidak beda jauh dengan penginapan. Dari segi fasilitas juga tak kalah jauh. Bahkan, di sini kau bisa menjalankan roda kehidupan dengan menbuka usaha." Mendengar penjelasan dari pemilik tempat ini. Juan mulai menerka-nerka, berapa kira-kira kisaran harga sewanya. Jika ia mengatakan tak beda jauh dengan harga sewa penginapan. Maka paling tidak Juan harus mengeluarkan sekitar 500an untuk membayar uang sewa. "Berapa kira-kira uang sewanya? Aku mungkin akan menyewanya untuk beberapa bulan ke depan," tanya Juan untuk memastikan harga sewa. "Tak beda jauh dengan penginapan harganya." "Berapa? 500?" Pemilik tempat tersebut tertawa terbahak-bahak. Selepas Juan menyebut nominal. Juan merasa dirinya salah menyebut nominal. Mungkin harganya lebih mahal dari yang ia katakan. "Terlalu murah, ya? 650 atau 700? Katakan saja berapa harga sewa untuk tempat ini." "Harganya Hanyar 150, Nak. Kau bisa menggunakan tempat ini untuk satu bulan ke depan. Tidak beda jauh dengan harga penginapan bukan?" Juan menghela napas. Ia lega harganya tak terlalu tinggi untuk menyewa tempat tersebut. Meski berbeda 100 dari penginapan yang ia sewa. Setidaknya harganya tak sampai melebihi di angka 500. "Kenapa? Apa aku salah mengatakan? Memangnya dimana penginapan yang menawarkan harga sewa sampai 500? Fasilitas apa yang mereka tawarkan? Aku rasa kita bisa mendapatkan fasilitas sekelas hotel bintang lima." "Tidak, aku hanya menerka saja. Aku kira harga sewanya akan segitu. Kalau hanya 150 aku akan ambil sewa untuk satu bulan ini. Nanti akan kubayarkan lagi jika aku merasa cocok dengan tempat ini." "Baiklah kalau kau memang tertarik untuk menyewa tempat ini. Bayarnya nanti saja di akhir bulan. Supaya tidak terlalu memberatkan dirimu." "Terima kasih." "Oh ya, kau tadi mengatakan hendak membuka usaha? Di tempat ini?" "Iya, apakah tidak boleh?" "Tentu saja boleh. Jika kau memang sudah siap untuk menanggung segala resikonya. Para pendatang yang tinggal di kota ini. Jarang sekali yang berpikir untuk membuka usaha. Kau mungkin salah satu orang yang berani mengambil resiko itu. Kebanyakan dari pendatang, mereka memilih bekerja di bar atau menjadi penjahat baru di tempat ini. Tak sedikit yang menjadi kurir barang-barang haram." "Memangnya apa yang salah kalau membuka usaha di tempat ini? Bukankah itu bagus? Menjalankan roda perekonomian juga untuk tempat ini." "Itu sangat bagus. Aku hanya berpesan padamu untuk siapkan mental. Nanti kau akan tahu yang kumaksud. Aku harus pergi. Permisi!" Pemilik tempat tersebut pergi meninggalkan tanda tanya di benaknya Juan. Juan merasa kota ini tak pernah berhenti dari masalah. Penduduk di tempat ini seolah menjadikan masalah sebagai makanan sehari-hari mereka. Tak jarang orang yang tak memiliki mental kuat. Cenderung akan sesegera mungkin mengakhiri hidupnya. Ketimbang harus tetap bertahan dalam tekanan. Artur mengantar pemilik toko tersebut keluar dari tempat itu. Kemudian kembali masuk ke dalam menemani Juan. Juan tampak masih bingung dengan pernyataan dari si pemilik. "Tenanglah! Kau tak perlu terlalu memikirkannya. Aku sudah mengatakan padamu tentang tempat ini dari awal. Kau hanya perlu menjalani kehidupan normal layaknya orang-orang yang tinggal di sini." "Memangnya ada masalah apa jika aku membuka usaha baru di tempat ini? Apakah menyalahi aturan di kota ini?" tanya Juan dengan wajah penasaran. "Bukan begitu. Kau tahu kota ini ditempati oleh manusia-manusia serakah. Para mafia dan oknum polisi yang korup. Mereka tidak akan segan-segan meminta jatah bulanan padamu. Terlebih kau pendatang di sini. Mereka pasti akan selalu datang, kau harus siap mental untuk menghadapi mereka." "Apa yang mereka pinta? Uang? Untuk apa?" "Kau tidak akan menemukan surat perizinan untuk membuka usaha di sini. Uang adalah segalanya. Dengan uang kau bisa melakukan apapun sesukamu. Kau bisa memerintah dan memiliki segalanya. Uang juga bisa melegalkan sesuatu yang ilegal. Termasuk usahamu, bisa terus berkembang dan berjalan. Karena ada uang yang kau setorkan pada para mafia. Juga para oknum polisi yang entah kinerja mereka apa. Mereka pasti meminta jatah bulanan juga." "Kalau aku tidak mau memberikan? Apa yang akan mereka lakukan?" "Mereka tidak akan langsung mengambil tindakan. Ada tiga tahapan yang biasanya terjadi. Pertama mereka akan memberikan teguran agar kau mau membayar mereka. Kedua mereka akan kembali menegur kali ini dengan sedikir ancaman. Biasanya jumlah yang datang akan lebih banyak lengkap dengan membawa senjata. Tujuannya untuk menjatuhkan mental dari orang-orang yang menunggak bayaran." "Lalu? Apa yang terjadi jika sampai tahapan ketiga?" "Jarang sekali yang sampai ke tahapan ketiga. Sebab, di tahapan kedua orang-orang sudah banyak yang menyerah dan memutuskan untuk membayar sewa saja ketimbang mencari masalah lanjutan. Kalau tahap kedua masih bertahan, maka tahap terakhir adalah penghancuran. Para mafia tak segan-segan untuk menghancurkan tempat usahamu dan membakarnya sampai tak tersisa. Kalau kau beruntung, mereka akan membiarkanmu tetap hidup. Untuk menyaksikan tempat usahamu dihancurkan oleh mereka." "Apa uang yang harus aku berikan nominalnya besar?" "Tidak juga paling hanya 10% dari uang sewa. Jadi, kau masih berminat untuk membuka usaha di sini?" "Sepertinya aku akan tetap membuka usaha di sini. Apapun resikonya aku harus memiliki usaha untuk bertahan hidup. Aku tak mungkin tetap tinggal di kota ini tanpa memiliki pemasukan," ujar Juan yang tetap akan membuka usaha di tempat ini. Artur tak punya pilihan lain. Meski sudah menjabarkan panjang lebar terkait rintangan yang akan dihadapi oleh Juan ke depannya. Jika ia masih nekat untuk membuka usaha di tempat ini. Tapi keputusan Juan sudah bulat. Tekadnya tak bisa dipatahkan oleh siapapun. Juan kemudian berjalan masuk menuju ruangan untuknya beristirahat. Sambil membawa barang-barangnya, ia masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang cukup untuknya tidur. Kamar mandi berada di luar ruangan tersebut tak jauh dari ruangan itu. Ruangan itu hanya terdapat ranjang dan lemari. Ia lantas meletakkan barang-barangnya di sana. Lalu kembali ke luar untuk menemui Artur. "Kau sudah melihat kamarnya? Apa kau cocok dengan itu?" "Lumayan, tidak terlalu buruk. Tidak beda jauh dengan kamar yang kudapatkan di penginapan. Aku hanya perlua merapihkannya sedikit saja. Setelahnya akan terlihat lebih layak untuk disebut kamar." "Apa kau akan membereskan semuanya sekarang? Apa kau perlu bantuanku untuk itu?" tanya Artur menawarkan bantuan. "Sepertinya tidak semuanya aku bersihkan hari ini. Hanya lantainya saja harus ku sapu supaya lebih baik kelihatannya. Aku bisa melakukannya sendiri. Mungkin kalau aku membutuhkan bantuanmu, aku akan katakan. Untuk saat ini, aku bisa melakukannya sendiri. Teirma kasih banyak kau sudah mau membantuku. Kau bisa pergi meninggalkanku sekarang." "Baiklah kalau begitu. Aku rasa kau juga ingin segera beristirahat dan merapikan beberap bagian tempat ini. Jika kau membutuhkan bantuan, kau tahu harus menemukanku dimana. Oh ya, ini untukmu. Aku yakin kau membutuhkannya untuk melalui malam. Aku masih punya persediaan untuk kuberikan kepadamu secara cuma-cuma. Aku permisi." Artur melemparkan satu linting barang haram pada Juan sebelum dirinya pergi. Ia mengerti Juan membutuhkan barang tersebut agar bisa melalui malam yang panjang. "Terima kasih banyak. Kau memang baik untuk hal ini." Juan menerima pemberian Artur. Ia lalu berjalan mengantar Artur sampai ke depan pintu keluar. Ia lalu masuk kembali ke dalam selepas mengantar Artur. Ia masuk ke dalam untuk mulai membereskan beberapa barang yang bisa ia bereskan. Ia menyapu lantai tersebut agar lebih bersih dari sebelumnya. Barang-barang yang nampak berantakan ia letakkan di tempat semula. Selesai dengan ruang depan, Juan masuk ke dalam kamarnya. Ia hendak mengeluarkan barang-barang bawaannya. Barangnya ia keluarkan satu per satu dimasukkan ke dalam lemari pakaian. Ia menata pakaiannya agar terlihat rapi di dalam pakaian. Ia mengeluarkan sebuah foto, foto yang memuat seluruh anggota zervanos. Foto terakhir yang mereka ambil sebelum kejadian. Juan memajam foto tersebut di samping ranjangnya. Meletakkannya di atas meja. Tersenyum simpul ke arah foto tersebut. "Kita tinggal di tempat baru sekarang," kata Juan sambil meletakkan foto tersebut. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN