Juan yang hendak pergi membawa barang-barangnya lantas berpapasan dengan Artur yang baru kembali. Artur segera menahan Juan agar menunggu beberapa menit. Ia datang dengan membawa sesuatu. Tak berselang lama, selepas Artur kembali. Sanchez dan adiknya turun dari lantai atas kemudian bergabung dengan mereka bertiga di bawah.
Artur kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang ia bawa. Yang ternyata isinya adalah makanan. Ia lantas membagi rata makanan itu untuk mereka ber empat. Semuanya mendapatkan bagiannya masing-masing. Termasuk juga Juan yang mendapatkan jatah makanan dari Artur. Juan dengan senang hati menerimanya. Lumayan untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan.
"Kau jangan buru-buru pergi dulu. Makan saja ini dulu nanti baru pergi. Aku juga sudah menemukan tempat yang kau cari. Aku yakin kau akan betah untuk tinggal di sana. Aku juga kenal dengan pemilik tempat sewa itu. Semoga saja kau dapat harga yang bagus darinya," ujar Artur.
"Terima kasih banyak. Aku akan pergi selepas menyantap makanan ini."
"Kau akan pergi kemana? Kenapa tidak tinggal di sini saja bersama kami? Aku tidak merasa keberatan kalau kau tinggal dengan kami," tanya Diego.
"Diego, kau tidak boleh menahan orang yang hendak pergi. Sekeras apapun kita menahan orang. Kalau memang ia ingin pergi, kita tidak boleh menahannya dan memaksanya untuk tetap tinggal," tegur Sanchez.
Juan hanya tersenyum mendengarnya. Ia memahami posisinya sebagai orang baru bagi mereka. Mencari tempat tinggal sendiri merupakan keputusan yang paling baik dan paling tepat. Tak harus melulu menyusahkan mereka dan menumpang tempat tinggal pada mereka. Mereka berhak untuk menjalani kehidupannya sendiri seperti sedia kala sebelum ada Juan.
Makanan pun telah selesai disantap oleh Juan. Kini ia sudah tak punya alasan untuk tetap bertahan lebih lama di tempat tersebut. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Juan segera mengangkat barang-barang bawaannya. Artur yang hendak mengantarnya bersiap untuk pergi bersama Juan. Sedang Sanchez dan Diego tetap tinggal di rumah itu. Tidak ikut mengantar Juan.
"Kalau kau sudah menemukan tempat yang cocok untukmu. Apakah aku boleh berkunjung ke sana? Kau boleh berkunjung ke sini kapanpun kau mau. Jangan pernah lupakan aku, ya?" ujar Diego seolah berat melepas Juan pergi.
"Aku tidak kemana-mana, Diego. Aku hanya mencari tempat tinggal tak jauh dari sini. Tentu saja kau boleh berkunjung ke tempatku. Aku pun sesekali nanti akan menengok kalian di sini. Tenang saja! Aku tidak melupakan kalian," kata Juan sambil mengusap kepala Diego. Berharap perkataannya menenangkan Diego.
Diego kemudian berjalan mengantar Juan bersama kakaknya sampai di depan pintu rumah. Ia melambaikan tangan kepada Juan yang dibalas senyuman oleh Juan. Juan menatap wajahnya Diego yang tampak berkaca-kaca. Tapi tak ingin menuangkan kesedihannya karena ditinggalkan oleh Juan. Juan terus melangkah tanpa berniat untuk berbalik, tekadnya sudah bulat untuk mencari tempat tinggal.
Kini tinggal mereka berdua yang berjalan bersama. Juan mengikuti Artur yang bertugas sebagai penunjuk jalannya. Sepanjang perjalanan, Juan memerhatikan sekitar. Ia masih melihat banyak anak-anak seusia Artur yang tampak sedang mengirim sebuah paket. Terlihat mereka menggunakan sepeda sambil membawa tas berisi paket barang haram.
Sangat disayangkan sekali untuk anak seusia mereka. Harus menjalani kerasnya hidup menjadi kurir barang haram. Meski tak banyak bergesekan dengan kurir dari kelompok lain. Karena di sana hanya ada satu kelompok mafia yang berkuasa. Tapi tetap saja, usia mereka seharusnya tengah menikmati masa-masa sekolah dan bermain sebagai anak kecil pada umumnya.
Juan terus menatap mereka dengan tatapan pilu. Hingga membuatnya berhenti melangkah mengikuti Artur. Artur menyadari kalau Juan berhenti mengikutinya. Ia lantas berbalik badan dan melihat Juan yang sedang berdiri terpaku sambil menatap ke arah anak yang menaiki sepeda. Artur pun menghampirinya untuk mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan.
"Kenapa anak itu membuatmu sampai termenung di sini? Kita harus segera pergi," tegur Artur.
"Aku hanya penasaran kenapa anak-anak di sini harus bekerja sebagai kurir. Kau dan anak-anak yang lain memangnya tidak terpikir untuk sekolah? Seperti anak seusiamu? Mereka menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bermain bersama teman-temannya," tanya Juan.
"Setiap anak memiliki garis hidupnya masing-masing. Kalau boleh memilih, aku dan mereka juga pasti menginginkan hal serupa. Tapi kenyataannya? Kami di sini terpaksa bekerja untuk menyambung hidup. Secara tidak langsung, para mafia itulah orang tua kami. Meski tak memiliki kasih sayang serupa dengan orang tua pada umumnya. Mereka lah yang memberikan kami uang untuk menyambung nyawa."
"Kau ingin terbebas dari belenggu mereka?"
"Tentu. Tapi bagaimana? Aku tidak tahu. Kalau berniat ingin melawan dan kabur dari tempat ini. Pasti akan bernasib sama seperti yang terjadi pada orang-orang sebelumku. Kalau tidak ditembak mati di tempat. Akan menjalani hukuman seperti yang kau lihat kala itu."
"Aku akan membebaskan kau dan anak-anak lain di tempat ini dari belenggu p********n mereka. Suatu saat nanti aku pasti akan melakukannya, Artur. Kau tenang saja!" gumam Juan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Beberapa meter mereka melangkah. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seseorang. Teriakan dari seseorang yang sedang disiksa. Mmeinta tolong pada orang-orang yang bersedia membantunya. Juan dan Artur menghentikan kembali langkahnya. Memastikan orang yang meminta tolong tersebut.
Tak berselang lama, mereka melihat pria sedang diseret menggunakan motor. Lehernya diikat dan diseret menggunakan motor. Pria itu tampak sangat tersiksa dengan tubuh bersimbah darah. Juan melihat ke arah pria itu, pria yang kemarin mereka jebak. Kini sedang menjalani hukuman atas perbuatannya.
"Rencana kita tampaknya berhasil. Pria itu sudah menerima akibatnya," kata Artur yang senang karena rencana mereka berhasil.
"Iya, sepertinya rencana kita berhasil." Juan tampak tak terlalu senang.
Rasa empatinya mulai timbul pada pria itu. Ia merasa bersalah karena menjebak pria yang tak bersalah. Pria yang sudah bersimbah darah itu menoleh ke arah Juan. Ia ingat dengan wajahnya Juan. Akan tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Pria itu menatap Juan hendak meminta bantuan dari Juan. Belum sempat berucap sepatah kata, Pria itu langsung ditusuk. Pria itu mati seketika. Jasadnya lalu dibawa pergi dari tempat itu.
Selepas kejadian itu, Juan mulai terbayang dengan kesalahannya. Ia merasa telah menjebak dan menghukum orang yang salah. Naluri kemanusiaannya sudah mulai tampak. Berbeda dengan insting membunuhnya ketika masih menjadi ketua mafia. Tak kenal rasa kasihan sama sekali. Kini, Juan bertekad untuk membalas kesalahannya dengan mencari pelaku sebenarnya yang telah menghajar Sanchez. Dengan begiru ia bisa merasa lebih tenang. Tak merasa bersalah lagi karena kesalahannya.
"Kita harus pergi, hari akan sore sebentar lagi," kata Artur.
"Iya."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Setelah menyaksikan adegan penyiksaan. Juan berjalan dengan pikiran masih terbayang wajah pria tadi. Pria yang tak sempat ia tolong. Pikirannya terus terbayang wajah pria itu hingga tak sadar dirinya telah tiba. Di tempat yang Artur janjikan untuk Juan. Sebuah bangunan seperti ruko yang bisa Juan jadikan tempat tinggal.
"Di sini kau bisa tinggal sekaligus membuka usaha. Seperti yang kau bilang. Pemilik tempat ini harusnya ada di sini. Aku sudah janjian dengannya untuk bertemu. Kita tunggu saja ia datang. Sambil menunggunya, kita masuk dulu saja. Sekalian melihat-lihat bagian dalamnya."
Juan hanya mengangguk mengikuti arahan Artur. Ia berjalan masuk ke tempat itu bersama Artur. Begitu tiba di dalam, mereka disambut dengan ruangan yang berdebu dan banyak dihiasi sarang laba-laba. Tergambar begitu jelas kalau tempat tersebut sudah lama tidak ditinggali oleh siapapun.
"Aku tidak menyangka tempatnya akan sekotor ini."
"Tidak apa, ini sudah bagus. Hanya perlu dibersihkan sedikit. Maka tempat ini akan kembali terlihat sempurna."
"Syukurlah kalau kau mengatakan begitu. Aku kira kau takkan suka."
Tempat tersebut sudah memiliki banyak perabot rumah. Ada sofa meja dan sebagainya. Hanya saja memang perlu dibersihkan agar tampak lebih baik. Banyak ornamen lukisan terpajang di dinding. Tak terawat ditutupi oleh banyak debu.
Bersambung