Cerita Sanchez dan Pertanyaan Bertubi Juan

1130 Kata
“Bagaimana?” tanya Juan yang penasaran. “Aku sedang mengantarkan paket itu kepada seseorang. Begitu tiba di tempatnya, ia sedang dalam keadaan sakau. Aku diserang olehnya, ia mengambil paket dari dalam tasku dan merusaknya. Beberapa masih bisa kuselamatkan kecuali satu paket. Paket yang kalian lihat terbuka. Aku berusaha sekuat tenaga untuk lepas darinya, ketika aku berhasil lolos. Aku pingsan ketika sudah tak memiliki tenaga. Setelahnya aku tak ingat lagi. Aku tersadar sudah berada di tempat ini,” kata Sanchez menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Sanchez mencoba menjelaskan semuanya secara gamblang. Akan tetapi, dari ceritanya terdapat kejanggalan. Juan merasa kejanggalan itu sehingga cerita yang dikatakan oleh Sanchez terkesan dibuat-buat untuk menutupi kebohongannya. Juan lantas kembali mencecar Sanchez dengan berbagai pertanyaan. Ia mencoba menutupi kecurigaannya pada Sanchez. “Kalau memang ia memukulimu, lalu kenapa ketika kami menemukanmu. Kau justru berada dalam keadaan sakau juga? Katanya dirimu diserang olehnya, tapi kenapa kami tidak bisa menemukan bekas luka di tubuhmu?” tanya Juan. “Tempat pria itu sudah dipenuhi dengan asap begitu aku datang. Aku sudah bisa mencium aroma dari barang yang dibakar begitu memasuki tempatnya. Ia memang menyerangku, tapi aku sekuat tenaga mengelak dan melindungi diriku. Efek dari barang itu mungkin aku rasakan ketika berusaha pergi darinya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya kalian menemukanku. Memangnya siapa yang membawaku ke sini?” Juan menengok ke arah Artur dan Diego. Seolah meminta penjelasan pada mereka berdua. Apakah yang disampaikan oleh Sanchez itu benar atau hanya akal-akalan Sanchez saja. Mencoba menutupi perbuatan busuknya yang telah memakai barang haram tapi menolak mengakuinya. “Aku menemukan Diego sudah bersamanya. Ia tengah kesusahan membopongnya. Aku segera membantunya membawanya ke sini,” ujar Artur. “Aku menemukanmu tergeletak di tengah jalan, Kak. Aku kemudian membawamu pulang. Aku menemukanmu seperti kalian menemukan kakakku. Ia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri,” kata Diego. “Ya sudah kalau memang benar begitu adanya. Aku hanya ingin tahu kenapa kau bisa sampai dalam masalah. Sekarang masalah itu sudah selesai. Lebih baik kita semua istirahat malam ini.” Juan hendak keluar dari kamar tersebut menuju ke lantai bawah. Ia segera disusul oleh Artur yang hendak memberikannya sesuatu. “Kau mau kemana? Kau tidak tidur?” tanya Artur. “Aku hendak ke bawah untuk berjaga-jaga. Kalian beristirahatlah. Aku akan tidur kalau aku bisa.” “Ini untukmu. Kau pasti membutuhkannya untuk melalui malam ini. Jika kau tak keberatan menerima pemberianku. Barang ini bukan hasil curian. Aku selalu mendapatkan bonus dari para mafia itu ketika sudah mengantarkan barang ini.” Artur memberikan selinting daun hijau kering pada Juan. Juan tersenyum menerima pemberian dari Artur. Ia tak harus memikirkan bagaimana melalui malam ini. Sudah ada barang yang akan menemaninya melalui malam. Ia tak akan khawatir lagi. Selesai menerima barang pemberian Artur, Juan pun turun ke bawah. Pintu kamar tempat Sanchez ditutup, Artur pun memasuki ruangan tempatnya biasa beristirahat. Semua sudah dalam keadaan lelah pada saat itu. Mereka semua pun beristirahat terkecuali Juan. Dirinya memilih untuk turun ke lantai bawah untuk berjaga-jaga. Khawatir mafia akan datang di malam hari. Menyelinap masuk dan membawa Sanchez pergi tanpa sepengetahuan mereka. Hal yang kebanyakan mafia lakukan terhadap incaran mereka. Juan mendekati pintu rumah. Ia keluar untuk melihat keadaan sekitar. Setelah mmemastikannya aman, ia kembali masuk ke dalam lalu mengunci pintu. Ia menutup kaca dengan menggunakan kain. Ia juga mematikan lampu yang berada di lantai bawah. Seisi ruangan menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah. Juan sengaja melakukan hal itu. Bertujuan untuk mengelabui dan berjaga-jaga. Kalau ada yang datang, ia bisa melihat bayangan mereka. Ia bisa bersiap melawan mereka. Merasa jenuh menunggu seorang diri di bawah. Juan yang duduk di sofa kemudian menyalakan barang haram yang diberikan padanya. Ia ingin membunuh waktu melewati malam yang panjang. Api sudah mulai menjalar membakar ujung dari benda yang ia bakar. Asap tipis mulai keluar perlahan mengudara. Perlahan-lahan Juan menghisap barang tersebut. Hingga efek dari barang itu mulai merasuki tubuhnya. Badannya mulai merasa ringan, pikirannya mulai seperti tanpa beban. Matanya agak memerah tapi terlihat cukup sayu. Ia tak memiliki tenaga untuk bangkit dari sofa. Tapi masih memiliki sisa tenaga untuk menghabiskan barang yang sudah terlanjur ia bakar. Terus ia hisap barang tersebut. Sampai barang tersebut menemui akhirnya dan sudah tak bisa lagi dihisap. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh aroma kenikmatan. Aroma yang menemani Juan malam ini. Juan mencoba sekuat tenaga tetap terjaga. Meski, tubuhnya sudah dalam pengaruh barang haram. Ia mencoba untuk bangkit dan berjalan. Menuju ke arah pintu untuk memeriksa keadaan. Jalannya agak sempoyongan, tapi tetap ia paksakan. Ia mengintip dari balik celah pintu, melihat ke arah luar rumah. Begitu melihat kondisi di luar aman, Juan kembali duduk di sofa. Pikirannya sudah mulai mengajaknya berhalusinasi. Tenaganya sudah mulai hilang seiring tubuhnya yang terasa kian ringan. Rasa kantuk tak mau ketinggalan mengambil peran. Seharian sudah menjalani hari yang melelahkan, tubuhnya meminta jatah untuk beristirahat juga. Sama seperti yang lain. Akan tetapi, Juan menolak menyerah. Ia masih ingin terjaga untuk beberapa waktu ke depan. Sampai ia yakin malam ini tak ada serangan mendadak dari para mafia. Rasa kantuk kian ganas menyerangnya. Matanya dipaksa untuk terpejam. Sesekali berhasil menutup, tapi Juan memaksa untuk tetap terbuka. Keadaan tubuhnya yang kian tak karuan. Membuat Juan merasakan semuanya bercampur aduk jadi satu. Setelah sekian lama berusaha berjuang menahan rasa kantuk. Juan akhirnya dikalahkan oleh rasa kantuk dan rasa letih pada tubuhnya. Ia pun terlelap tidur tanpa ia sadari. Ia tertidur di sisa malam yang tinggal beberapa jam. Menyadari kalau dirinya tertidur begitu mentari pagi telah terbit. Juan terbangun dan melihat Artur yang bersiap hendak pergi. Dalam keadaan masih mengantuk, Juan mencoba memastikan kalau yang berada di hadapannya itu Artur. “Artur? Apakah itu kau? Kau hendak kemana pagi-pagi sekali?” tanya Juan sambil mengusap matanya. “Iya, ini aku. Aku hendak mengantar paket seperti biasanya. Kau tidur saja lagi. Sepertinya kau sudah terjaga semalaman. Kau pasti lelah,” jawab Artur. Juan hanya menganggukkan kepalanya. Tubuhnya kembali tersandar ke sofa. Matanya kembali terpejam melanjutkan tidurnya yang belum tuntas. Sementara Artur pergi meninggalkan Juan yang tertidur. Ada paket yang harus ia antar pada pembeli. Artur keluar dari rumah lalu mengayuh sepedanya menuju tempat pertama yang harus ia tuju. Keadaan rumah itu kembali tenang, selepas Artur pergi. Sanchez dan Diego masih belum ada tanda-tanda kalau mereka berdua sudah bangun. Keadaan menjadi kembali tenang. Penghuni rumah semuanya sedang beristirahat sekarang. Sampai siang hari tiba. Juan baru tersadar dari tidurnya. Ia terkejut ketika mendapati hari sudah siang. Dirinya lantas bergegas menuju ke lantai atas untuk mengambil barang-barangnya. Ia merasa sudah cukup waktunya dihabiskan menumpang di rumah Artur. Ia tak bisa menunda lebih lama lagi tinggal di sana. Meski Artur tak mengusirnya secara langsung. Tetap saja Juan merasa tidak enak pada Artur. Ia pun menyadari dan berniat untuk segera pergi. Mengemas barangnya dari sana. Ia naik perlahan-lahan khawatir membangunkan Sanchez dan Diego. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN