Juan lari ke arah Diego dan Artur yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Artur dan Diego mengajak ia pergi. Akan tetapi Juan menolak untuk pergi. lantas hal tersebut membuat tanda tanya. Padahal mereka harus segera kembali ke rumah. Sanchez sedang dalam bahaya jika mereka terlalu lama pergi meninggalkannya.
“Ayo kita pergi! kenapa kau masih di sini?!” ajak Artur.
“Kita harus segera kembali! Kakakku sedang dalam bahaya kalau kita terlalu lama menunggu di sini.” Diego ikut mendesak agar Juan segera membawa mereka pergi dari tempat ini.
“Kalian tidak ingin menunggu pertunjukkan utamanya? Kau tidak ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu, Artur? Tunggu sebentar lagi. Kau akan mendapatkannya.”
“Ta-tapi, bagaimana dengan kakakku? Bukankah rencananya hanya sebentar?”
“Tenanglah, Diego! Percaya padaku! Kakakmu akan baik-baik saja,” ujar Juan meyakinkan Diego yang mulai panik.
Diego dan Artur tak bisa menentang. Mereka menuruti keinginan Juan untuk tetap tinggal. Melihat pertunjukkan utama seperti yang dimaksud oleh Juan. Bersembunyi di balik tembok, tak jauh dari tempat mereka meletakkan pria itu. Alasan Juan ingin tetap tinggal sebentar adalah untuk memastikan kalau rencana yang mereka buat berhasil. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri pria itu ditemukan oleh para mafia. Dengan begitu, Juan bisa pergi dengan tenang dari tempat itu.
Mereka menunggu dalam waktu yang cukup lama. Tak ada hasil apapun dari apa yang mereka lakukan. Diego yang sudah tak sabar berniat untuk pergi. Diikuti oleh Artur yang merasa membuang banyak waktu tanpa ada hasil. Membuatnya jengkel dan merasa ingin pergi dari tempat itu.
“Kita sudah menunggu selama ini tapi tak ada hasilnya. Mau sampai kapan kita menunggu?” kata Artur memprotes.
“Tunggu sebentar lagi dan kita akan kembali.”
“Aku sudah bisa menunggu lebih lama lagi. Aku ingin kembali ke rumah. Kakakku pasti menunggu. Aku khawatir dengan keadaannya. Kalau kau ingin menunggu lebih lama di sini silahkan saja. Aku pergi!” ujar Diego memutuskan untuk pergi.
“Maaf kali ini, tapi aku juga harus pergi. Aku tak bisa mempercayaimu lebih lama lagi. Bahkan, mengetahui namamu saja aku tidak. Aku pergi!” Artur berjalan menyusul Diego yang sudah lebih dulu pergi dari sana.
Juan tak mampu menahan mereka lebih lama lagi. Ia membiarkan mereka berdua pergi. Sedangkan dirinya masih ingin menunggu. Ia tak bisa pergi sebelum memastikan kalau rencananya berhasil. Begitu membuahkan hasil, barulah ia bisa beranjak pergi. Ia pun menuggu seorang diri di sana. Melihat dari balik tembok ke arah pria yang tergeletak.
Sekian lama menunggu, Juan tak mendapatkan hasil apapun. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Merasa kesal karena baru kali ini rencana yang ia buat tak menghasilkan apa-apa. Selain pria yang tergeletak dengan tas yang berada di sampingnya. Juan kemudian berjalan kembali ke rumah. Ia menghabiskan waktu cukup lama hingga hari sudah menjelang petang. Sebentar lagi akan malam hari.
“Sial! Hari sudah akan gelap lagi. Aku masih belum menemukan tempat tinggal untukku. Aku harus segera kembali. Semoga saja Artur masih mengijinkan aku tinggal di sana,” gumam Juan kesal.
Tibalah Juan di rumah Artur. Ia sampai tepat ketika matahari terbenam. Ia kemudian masuk ke dalam rumah. Pintu rumah yang hanya tertutup membuatnya mudah untuk masuk. Ia kemudian berjalan menuju ke lantai dua. Begitu menaiki anak tangga, ia mendengar perbincangan. Perbincangan dari tiga orang yang bersumber dari dalam kamar.
Juan mendapati Sanchez sudah terjaga dari pingsan. Ia sedang duduk ditemani Diego dan Artur di sisinya. Dirinya langsung ditatap oleh mereka bertiga ketika berdiri di depan kamar. Tatapan mata mereka membuat Juan seketika terdiam. Ia merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Merasa mengganggu perbincangan hangat yang tengah terjadi di antara mereka.
“Syukurlah kalau kau sudah sadar. Sepertinya aku mengganggu perbincangan di antara kalian bertiga. Sudah waktunya aku berkemas. Aku akan membereskan barangku dan pergi dari sini. Permisi,” ujar Juan kemudian berbalik badan. Hendak menuju ruangan tempat barang-barangnya terletak.
“Kau mau kemana? Tinggal lah di sini malam ini. Memangnya kau akan tinggal dimana? Tidak ada tempat penginapan yang mengijinkanmu menginap kalau datang malam. Begitulah peraturan di sini,” ujar Diego.
“Kau yang sudah menyelamatkanku, kan? Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padamu. Kenapa buru-buru sekali untuk pergi?” kata Sanchez.
Juan berbalik badan, melihat ke arah mereka. Ia melihat ke arah Artur, merasa tak enak padanya. Artur kemudian menghela nafas dan ikut berbicara.
“Sudahlah, kau boleh tinggal di sini untuk malam ini. Lagipula ini salahku juga, seharusnya aku membantumu mencari tempat tinggal siang tadi. Tapi terhalang karena berbagai hal. Besok aku bantu kau mencari tempat tinggal. Jika, kau tak keberatan,” kata Artur.
Juan tersenyum lebar sekaligus merasa lega. Ia bisa tinggal di tempat ini untuk malam ini. Tak harus merasakan dinginnya malam tanpa tempat untuk berteduh. Juan kemudian mendekat ke arah mereka bertiga. Bergabung berbincang hangat dengan mereka.
“Ngomong-ngomgong, kau belum memberitahu siapa namamu? Sejak kita bertemu aku tidak tahu siapa namamu.”
“Iya, siapa namamu? Apa kami harus memanggilmu pahlawan?”
“Hahaha tidak perlu. Aku akan memberitahu siapa namaku. Tapi berjanjilah untuk merahasiakan ini dari siapapun, ya? Kalian bisa menyimpan rahasia, kan?”
Mereka bertiga kompak mengagguk. Juan awalnya ragu untuk jujur pada mereka. Tapi ia sudah tak punya pilihan. Ia harus jujur dan menceritakan siapa dia pada mereka bertiga.
“Namaku Juan Vicente Maximiliano. Aku berasal dari kota yang cukup jauh dari sini. Senang rasanya bisa bertemu kalian di tempat ini.”
“Kenapa kau bisa ada di sini? Apakah kau memiliki masalah? Sampai kau harus pergi ke tempat seperti ini?” tanya Diego.
“Sepertinya begitu.”
“Diego, tidak baik bertanya kepada orang yang baru kita kenal tentang masalah pribadinya. Tidak semua orang nyaman akan hal tersebut. Anggap saja Juan datang ke sini sama seperti yang lainnya. Sudah itu saja,” tegur Sanchez menasehati sang adik.
Juan tersenyum selepas mendengar Sanchez yang menegur adiknya. Ia menjadi sedikit teringat pada adiknya Marco. Ketika Juan menegur adiknya bila ia membuat salah.
“Tidak apa-apa. Tenang saja. Aku sama seperti orang baru yang pindah ke sini. Memang karena ada masalah yang membuatku memutuskan untuk pindah ke sini. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu sekarang Sanchez? Apa kau masih merasa pusing?”
“Aku masih sedikit merasa agak pusing.”
“Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai memakai barang itu dan kenapa barang yang seharusnya kau kirim malah kau buka? Apa kau sedang punya masalah?” Artur mencecar Sanchez dengan pertanyaan beruntun.
“Bukan aku yang memakai barang itu. Aku sama sekali tidak tertarik untuk memakainya. Aku saja tidak tahu dimana paket itu sekarang.”
“Kalau begitu, kenapa paketnya bisa terbuka? Katakan saja yang jujur kalau kau memang memakainya,” desak Artur agar Sanchez mau mengaku.
“Jadi begini cerita sebenarnya kenapa paket itu bisa terbuka.”
Bersambung