Mereka bertiga pun berunding sambil memikirkan tempat yang paling tepat untuk membawa pria itu. Membuangnya di tempat itu tepat sebelum pria itu sadar dari pingsannya. Sementara itu mereka juga harus memikirkan tentang Sanchez yang belum juga bangun. Mereka tak bisa meninggalkannya sendirian. Paling tidak mereka harus memastikan Sanchez dalam keadaan aman bila memang mereka harus pergi meninggalkannya seorang diri.
Artur tiba-tiba mendapatkan ide. Cara untuk memindahkan orang tersebut sebelum ia siuman. Ia lantas memberitahu idenya kepada Juan dan Diego. Agar mereka memahami rencananya.
“Aku punya ide. Semoga saja ini bekerja dan berhasil,” kata Artur.
“Bagaimana caranya?”
“Ada sebuah tempat sepi di dekat markas para mafia. Kita bisa meletakkannya di sana. Itu satu-satunya tempat yang bisa kita jadikan. Tempat yang paling aman.”
Sepintas ide Artur tak masuk akal. Mengingat, memindahkan pria itu dan meletakkanya di dekat markas para mafia. Sama saja seperti bunuh diri. Ketika pria itu sadar, tentu saja ia akan lebih mudah memberitahukan kepada para kawannya yang lain tentang keberadaan mereka. Diego pun tak setuju dengan ide yang diutarakan oleh Artur.
“Aku tak setuju dengan idemu kali ini. Kalau kita harus memindahkannya ke sana. Lalu bagaimana dengan kakakku? Kita tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Bagaimana kalau para mafia itu datang kembali dan membawa kakakku pergi?” kata Diego menyanggah idenya Artur.
“Ini tidak akan lama. Kita bisa kembali secepatnya setelah memindahkan pria ini. Percayalah! Kalau kita bekerja sama tentu hal ini akan berhasil. Kita bisa memindahkan pria ini dan kembali ke tempat ini dengan cepat. Semuanya akan berjalan baik, kau tak perlu khawatir Diego.” Artur mencoba meyakinkan Diego. Perdebetan mulai terjadi di antara keduanya.
Juan masih diam tak berusaha melerai perdebatan yang terjadi di antara keduanya. Ia masih memikirkan cara terbaik yang bisa dilakukan. Cara bagaimana memindahkan pria ini dan mengeluarkan Sanchez secara bersamaan. Agar ketika satu masalah teratasi tidak ada lagi masalah yang harus dicari jalan keluarnya.
“Bagaimana kalau rencanamu gagal Artur? Lalu kakaku tertangkap oleh para mafia. Apa kau akan bersedia untuk membebaskannya? Tidak, kan? Kalau begitu lebih baik kita pikirkan cara lain agar kakakku tidak ditinggal sendirian sampai ia bangun.” Diego bersikeras pada pendapatnya. Ia tak ingin meninggalkan kakaknya seorang diri dalam keadaan seperti ini.
“Kalau kita semakin lama mengulur waktu, kita semua akan dalam masalah. Pria ini akan segera sadar. Kau kenal aku, kan, Diego?! Percayalah padaku! Rencana ini akan berjalan. Kakakkmu tidak akan tertangkap oleh mereka. Kita hanya pergi untuk waktu yang sebentar!” Artur terus berusaha meyakinkan Diego. Rencananya akan berjalan bila mereka bekerja sama.
“Hentikan perdebatan di antara kalian. Kalau kalian terus berdebat tanpa ada ujungnya. Kita akan kehabisan waktu!” Juan seketika melerai perdebatan yang terjadi di antara mereka berdua.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Ide yang dikatakan oleh Artur itu ada benarnya. Kita harus memindahkan pria ini ke tempat yang sepi di mana pun itu tempatnya. Sebelum orang ini bangun dan kita akan mendapat masalah lanjutan karenanya.”
“Kakakku bagaimana? Kalau harus membawa pria ini pergi dari sini aku setuju. Tapi bagaimana dengan kakakku? Kau sudah berjanji untuk membantu, kan? Kau tidak akan meninggalkannya di sini sendirian, kan?” Diego masih tak setuju meski Juan sudah menyetujui ide dari Artur.
Diego masih tak rela jika harus meninggalkan kakakknya seorang diri. Apa pun resikonya, ia lebih memilih untuk mengambil jalan lain. Jalan yang memungkinkan kakaknya tetap bersama mereka dan tidak ditinggalkan sendirian.
“Dengarkan aku dulu. Aku akan membantumu dan kakakmu. Kalian berdua tidak akan dalam masalah. Percayalah padaku. Tapi untuk saat ini, kita harus mengambil tindakan cepat. Aku tidak memikirkan sekedar memindahkan pria ini. Tapi juga berusaha mencari jalan keluar agar kakakmu berhenti dicari oleh para mafia itu. Jangan sampai setelah kita memindahkan pria ini, masalah kakakmu selanjutnya yang menghantui kita. Kau paham sekarang? Lebih baik kau ikuti saja rencananya. Aku akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada kakakmu,” ujar Juan memberikan jaminan pada Diego.
Terpojok dan kalah jumlah suara. Diego tak punya pilihan selain mengikuti suara terbanyak. Meski dengan berat hati, tapi ia tetap harus ikut menjalankan rencana ini agar berjalan dengan baik. Mereka bertiga selanjutnya berdiskusi untuk mematangkan rencananya. Sebisa mungkin meminimalisir kegagalan ketika dieksekusi.
“Kita harus memindahkan pria ini sekaligus mengeluarkan Sanchez dari masalah. Bagaimana caranya?” tanya Artur.
“Ini siasat yang sering dilakukan oleh para mafia. Mereka menjebak korbannya seolah-olah mereka menjadi pelaku. Dengan begitu mereka tak harus menghilangkan barang bukti. Cukup memindahkan barang bukti itu yang tadinya ada pada mereka menjadi ada pada korban. Jadi, korban berubah menjadi tersangka. Kita bisa melakukan hal ini kepada pria ini. Berharap para mafia itu menyadarinya dan Sanchez bisa bebas dari tuduhan dan kejaran mereka.”
“Bagaimana kita bisa membuat para mafia itu percaya kalau bukan kakakku pelakunya dan pria ini lah yang menjadi pelakunya?”
Juan kemudian mencoba memeriksa barang yang bisa dijadikan barang bukti. Ia mencari disekitar ruangan tersebut. Tapi ia tak menemukan apa pun. Artur lantas menanyakan hal yang tengah Juan lakukan. Ia terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
“Apa yang sedang kau cari? Kau sepertinya sedang mencari sesautu.”
“Aku sedang mencari barang yang bisa dijadikan jebakan. Tapi aku tak dapat menemukannya. Apa kalian ada ide?”
“Kakak sering membawa tas ketika hendak pergi mengirim barang. Mungkin kita bisa menemukan barang dari dalam tasnya itu,” ujar Diego.
Mereka segera memeriksa tas milik Sanchez. Ditemukan di dalamnya barang yang bisa mereka jadikan alat untuk menjebak pria ini. Satu paket barang haram berbentuk daun kering yang sudah dibuka. Kemasannnya tampak rusak. Sepertinya memang barang tersebut sudah digunakan sebelumnya.
Juan kemudian mengambil beberapa daun kering itu lalu melintingnya. Sisanya ia kembali masukkan ke dalam tas. Kini mereka punya barang yang bisa digunakan sebagai jebakan. Sebelum memindahkan pria itu, Juan membakar lintingannya yang membuat Artur dan Diego terbatuk-batuk.
“Apa yang kau lakukan? Kau bilang ini untuk menjebaknya. Kenapa kau justru menggunakannya?” Artur protes tindakan yang dilakukan Juan.
“Kau kira bagaimana caranya menggunakan brarang ini? Dengan meletakkanya begitu saja? Justru dengan membakarnya dan meletakkanya di samping pria ini. Dengan begitu para mafia itu yakin kalau pria inilah pencuri barang mereka,” ujar Juan dengan santai.
“Lalu kita meletakkan tas ini juga di dekatnya? Dengan begitu, ketika pria ini bangun dan berjumpa dengan rekan mafianya, mereka menjumpai kalau barang curian itu ada padanya. Dia tidak bisa lagi mengelak,” tambah Diego.
“Cerdas! Aku mulai menyukai cara pikirmu, Nak!” puji Juan.
Artur hanya bisa menyeka keringat di dahinya. Menyadari kalau rencanan sesungguhnya akan begitu kompleks. Hampir tidak ada celah untuk pria ini mengelak bila ketahuan oleh para mafia.
“Lalu bagaimana cara kita mengetahui rencana yang kita lakukan ini berhasil?” tanya Artur.
Juan tak memberikan jawaban apa pun. Ia hanya memberikan isyarat untuk membantunya mengangkat pria itu. Pria itu diletakkan di punggung Juan. Ia akan menggendongnya sampai di tempat yang mereka rencanakan. Sebelum mereka pergi, mereka menutup pintu kamar. Memastikan Sanchez ditinggalkan dalam keadaan yang aman.
Mereka mulai melancarkan aksinya. Perlahan-lahan keluar dari dalam rumah. Tiap langkah mereka perhitungkan dengan pasti. Memeriksa sekitar juga Artur lakukan agar tak ada yang mencurigai apa yang mereka lakukan. Ketika berpapasan dengan orang, Artur dengan cepat memberikan jawaban. Hingga tak ruang untuk kecurigaan hadir. Mereka terus berjalan hingga tiba di titik perencaan awal mereka.
Juan kemudian menurunkan pria itu dari punggungnya. Pria itu mendarat dengan kasar di tanah. Artur kemudian meletakkan tas berisi paket di dekat pria itu. Juan lalu meletakkan sisa barang haram yang ia hisap, menyelipkannya di antara jari-jari pria itu. Membuat posisi seolah pria itu benar-benar pingsan akibat sudah dalam pengaruh barang haram. Sebelum pergi, Juan memukul sekali lagi pria itu untuk memberikan perpanjangan waktu pada mereka.
“Untuk anak-anak yang kau perbudak! Terima ini!” ujar Juan lalu memukul pria itu. Setelah memberikan pukulan, Juan lalu pergi bersama Artur dan Diego.
Bersambung