Siasat Mafia

1216 Kata
Artur menarik nafas dalam. Ia tak sanggup mendengar suara dari para mafia yang menaiki tangga. Ia sudah merasa kalau temannya akan segera ditemukan. Mereka akan membawanya pergi untuk dihukum atas perbuatan yang telah ia lakukan. Akan tetapi, Artur tak mendengar apa pun setelahnya. Tak ada suara jeritan atau berontak terdengar dari lantai dua.                Para mafia itu justru kembali turun ke bawah. Terdengar dari langkah kaki mereka yang menuruni tangga. Artur bingung sekaligus cemas. Bisa saja para mafia itu berhasil menemukan temannya dan dengan diam-diam membawanya turun. Begitu para mafia itu turun dan bertemu dengan Artur. Mereka turun dengan tangan kosong.                Artur merasa lega meski masih agak bingung. Kenapa mereka gagal menemukan Sanchez yang sedang disembunyikan di lantai atas. Para mafia itu kemudian hendak pergi dari rumah tersebut. Sebelum pergi, mereka menitipkan pesan bernada ancaman pada Artur.                “Kau beruntung hari ini. Kami tidak bisa menemukan temanmu. Entah di mana kau sembunyikan ia. Tapi cepat atau lambat kami akan menemukan dia. Katakan padanya jika kau bertemu dengannya. Ia harus membayar apa yang sudah ia perbuat. Camkan itu!” para mafia itu pun pergi meninggalkan rumah Artur.                Artur mengehela nafas panjang. Bersyukur para mafia itu telah keluar dari rumahnya. Ia berjalan beberapa langkah keluar rumah untuk memastikan kalau para mafia itu sudah benar-benar pergi. Tak ada seorang pun yang tertinggal yang mereka tugaskan untuk menjadi mata-mata. Setelah merasa aman, Artur masuk kembali ke rumahnya. Ia menutup segera pintu rumahnya lalu berlari naik menuju lantai dua.                Begitu tiba di lantai dua, ia tampak terkejut ketika tidak menemukan mereka. Artur kemudian mencari Juan dan temannya Sanchez. Kemana mereka bersembunyi. Sambil mencari, Artur memanggil nama mereka agar mereka segera keluar dari tempat persembunyian. Karena situasi sudah aman kondusif sekarang.                Artur menemukan mereka keluar dari salah satu pintu kamar. Tapi hanya adiknya Sanchez dan Juan yang keluar. Tidak ada Sanchez yang keluar bersama mereka. Artur kemudian mendekati mereka dan menanyakan perihal keberadaan temannya.                “Kalian bersembunyi dibalik kamar itu? Tapi bagaimana bisa? Pintu kamar itu terkunci. Dimana Sanchez? Kalian sembunyikan ia dimana?” tanya Artur.                “Kau tidak perlu khawatir Artur. Kakakku ada di dalam sana sedang tidur. Kau tidak usah cemas.”                “Syukurlah kalau begitu. Sekarang jelaskan padaku, bagaimana pintu kamar itu dapat terbuka? Bukankah selama ini terkunci?”                “Kau tanyakan saja pada anak ini. Aku hanya mengikutinya untuk masuk ke kamar itu. Dia yang berhasil membukanya.”                “Diego? Kau berhasil membuka pintu kamar itu? Tapi bagaimana? Kita sudah sering berusaha membukanya, tapi tak juga berhasil.”                “Aku kemarin tak sengaja melihat ada orang yang sedang berusaha membuka pintu rumah seseorang. Aku memperhatikannya dengan serius, tampaknya orang tersebut akan mencuri di rumah tersebut. Begitu ia berhasil membuka pintu rumahnya, aku mengambil alat yang ia gunakan untuk membuka pintu. Aku lalu mencoba membuka pintu kamar ini dan ternyata berhasil. Begitulah caraku bisa masuk ke kamar itu dan menyembunyikan kakakku di dalamnya,” ujar Diego menjelaskan pada Artur bagaimana ia bisa membuka kamar yang sebelumnya terkunci.                “Kau genius! Kau membuat nyawa dari kakakmu selamat. Kau memang benar-benar hebat Diego!" Artur memeluk Diego dengan sangat erat. Senang melihat Diego yang berjuang untuk melindungi kakaknya.                Mereka berdua yang tengah bersuka cita, terkecuali Juan. Juan mendekat ke arah jendela yang ada di ruangan tersebut. Ia merasa ada yang janggal. Tidak mungkin mafia akan pergi begitu saja sebelum mendapatkan apa pun. Ini pasti hanya sebuah siasat yang mereka lakukan. Juan merasakan kalau mereka akan kembali lagi.                “Kau yakin mereka sudah pergi dari sini? Kau sudah memastikan kalau tidak ada yang tertinggal, kan?” tanya Juan pada Artur.                “Iya, aku sudah memastikan mereka sudah pergi semua. Kau tidak perlu cemas. Tidak ada yang tertinggal dan mereka tidak akan kembali lagi dalam waktu dekat. Kini, mereka pasti sedang mencari keberadaan Sanchez ke penjuru kota,” jawab Artur.                “Kalau begitu bersiaplah, kita dalam bahaya. Mereka pasti datang kembali. Ini hanya siasat mereka membuat kita lengah. Mereka juga pasti merasakan kejanggalan ketika masuk ke tempat ini. Waspadalah!” kata Juan.                Artur dan Diego hanya bisa menuruti perkataan Juan. Meski mereka merasa kehkawatiran Juan tak beralasan. Jelas para mafia itu sudah pergi semua. Tak ada yang perlu ditakutkan. Insting mafia Juan rupanya belum hilang. Tepat beberapa menit setelah ia meminta mereka waspada. Terdengar langkah kaki orang yang mencoba menyelinap masuk. Juan bisa merasakan orang yang masuk coba menyelinap dan menyergap mereka.                Ia dengan segera memberi tahu Artur untuk mengintip dari balik pintu kamar. Dugaan Juan rupanya tepat. Ada orang yang masuk ke dalam rumah tersebut sambil membawa senjata tumpul. Orang tersebut menyelinap dan mencoba sebisa mungkin senyap. Mencari keberadaan Juan dan kawan-kawan tanpa ketehuan. Lalu menyergap mereka semua tanpa mereka bisa mengelak.                Orang tersebut perlahan menaiki tangga. Juan dan yang lainnya bersiap menyambut orang tersebut. Juan berdiri di belakang pintu. Bersiap memberikan kejutan balik pada orang itu. Mereka yang sedang bersiap menghadapi orang tersebut, seketika dikagetkan dengan suara Sanchez. Suaranya seperti orang mendengkur yang dengkurannya sudah cukup mengundang orang tersebut menuju tempat mereka bersembunyi.                Artur dengan sigap menutup mulutnya Sanchez agar tak kembali mengeluarkan suara. Suara langkah kaki orang tersebut terdengar makin jelas. Hingga langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar. Orang tersebut tak langsung mendobrak masuk. Melainkan mencoba memancing yang ada di dalam untuk keluar dengan sendirinya. Menyerah sebelum orang tersebut menyerang mereka.                “Aku tahu kalian berada di dalam. Tidak ada lagi tempat yang bisa kalian jadikan tempat persembunyian. Kalian tidak akan bisa bersembunyi dariku. Kuhitung sampai tiga, kalian lebih baik keluar sendiri atau aku yang mendobrak masuk. Satu, dua,!!” kata orang tersebut sambil menghitung mundur.                Tak ada jawaban dari dalam kamar. Orang tersebut mulai merasa jengkel karena ancamannya tak dihiraukan oleh orang yang ada berada di dalam kamar. Ia pun memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut. Ia mendobrak dengan tiga kali percobaan. Percobaan pertama dan kedua ia gagal. Tapi percobaan ketiga ia berhasil membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya.                “Mau kemana kalian sekarang, hah?!! Kalian sudah ketahuan. Cepat keluar dan ikut denganku!” ujar pria itu sambil memperlihatkan senjata tumpul yang ia bawa.                Orang tersebut berjalan mendekati ranjang. Terdapat Artur dan Diego yang tengah duduk di dekat Sanchez. Belum sampai orang tersebut menyentuh mereka bertiga. Juan dengan cepat menghantam kepala orang tersebut dengan pukulan yang amat keras. Orang tersebut langsung jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Sekali lagi Juan berhasil menyelamatkan mereka.                            Artur dan Diego merasa takut ketika melihat Juan memukul orang tersebut. Juan kemudian mendekati orang tersebut untuk memastikan apakah orang tersebut benar-benar sudah pingsan. Ia lalu memukulnya sekali lagi tepat di bagian kepala belakangnya. Ia lalu membalik badan pria itu dan mendapatinya sudah tak sadarkan diri. Juan kemudian melihat ke arah Artur dan Diego. Mereka tampak ketakutan melihat apa yang baru saja terjadi di depan mereka.                “Tenanglah. Aku hanya membuatnya pingsan sementara waktu. Dia akan sadarkan diri setelah ini, aku tidak membunuhnya,” kata Juan mencoba menenangkan Artur dan Diego.                Keduanya perlahan agak tenang seiring Juan yang mengusap kepala mereka berdua. Mereka masih punya pekerjaan untuk membereskan orang tersebut sebelum dirinya siuman dari pingsan. Mereka harus membawa pria itu ke tempat yang tidak diketahui oleh orang.                “Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Dia akan bangun cepat atau lambat,” tanya Artur.                “Kita harus membawanya pergi dari tempat ini. Kita harus mencari tempat yang sunyi dari keramaian.”                “Tapi dimana?”                Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN