Sanchez Dalam Masalah Besar

1160 Kata
Selesai meletakkan anak itu di sofa. Mereka bertiga berdiri di dekat anak tersebut. Sang adik terus diselimuti rasa khawatir meski Juan sudah mengatakn kalau kakaknya akan baik-baik saja. Ia masih ingin memastikan kalau sang kakak akan segera siuman dan benar-benar akan selamat. “Sepertinya kau harus menunggu untuk mencari tempat tinggal,” kata Artur. “Iya, tidak mengapa. Aku juga merasa harus tetap di sini. Sampai temanmu ini dalam keadaan sadar. Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Mungkin saja hal yang tidak diinginkan terjadi sewaktu-waktu.” “Hal yang tidak diinginkan? Maksudmu kakakku tidak akan selamat? Katamu tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kenapa kini kau mengatakan akan terjadi sesuatu padanya?” sang adik meradang begitu mendengar Juan mengatakan hal itu. Ia tak bisa terima jika benar akan terjadi sesuatu pada kakaknya. “Maksudku bukan pada kakakmu. Kemungkinan itu bukan darinya. Tapi dari luar yang kita tidak tahu dari mana datangnya.” Mereka berdua tampak bingung ketika Juan menjelaskan sebuah kalimat tersirat. Juan kemudian menjelaskan lagi secara rinci agar mereka paham maksud yang ingin sampaikan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Kakakmu ini bekerja sebagai kurir juga, kan?” tanya Juan. Sang adik mengaggukkan kepala. “Ada kemungkinan yang menyebabkan ia sampai begini. Berhubungan dengan barang yang ia jual pada orang-orang. Kemungkinan pertama bisa saja ia tak sengaja menghirup asapnya dalam waktu yang cukup lama atau kemungkinan terburuknya, ia memakai barang itu tanpa sepengetahuan pemiliknya sampai tak sadarkan diri.” “Kalau begitu, setelah efek dari pemakaiannya. Kakaku akan sadar. Kenapa kau katakan kemungkinan terburuk baginya?” tanya sang adik. “Efek itu akan berakhir pada tubuhnya dan memang benar dia akan sadar. Tapi, menggunakan barang haram tanpa sepengatahuan pemiliknya. Itulah hal terburuk yang ia lakukan. Kakakmu bekerja pada siapa? Mereka akan marah pada kakakmu dan akan membuat perhitungan dengannya jika sampai kakakmu ketahuan oleh mereka. Cepat atau lambat kakakmu akan mendapatkan ganjaran dari yang ia lakukan sekarang.” “Celaka!” Artur tiba-tiba mengejutkan. “Ada apa?” tanya Juan terkejut. “Dia bekerja untuk mafia besar. Dia pasti dalam masalah.” Seketika suasana kembali panik. Sang adik semakin khawatir begitu tahu dampak yang akan diterima oleh sang kakak bila ia sampai ketahuan. Sang kakak benar-benar dalam masalah sekarang. “Memangnya dia bekerja untuk siapa? Sebesar apa mafia itu?” tanya Juan penasaran. “Aku dan dia bekerja untuk salah satu mafia di kota ini. Mafia itu bukan yang paling besar, tapi ia berlindung di bawah naungan mafia yang lain. Aku pernah dengar nama kelompoknya itu The Son of Lucifer. Kelompok paling ditakuti di berbagai kota termasuk di tempat ini. Mereka selalu mengancam akan mengadukan kami pada The Son of Lucifer jika kami berontak atau macam-macam pada mereka.” “Jadi, mafia di kota ini masih memiliki induk? Mereka masih berdiri di bawah naungan kelompok lain? Dan jika kita mengusik kelompok mereka. Mereka akan mengadukannya pada The Son of Lucifer? Begitu?” “Iya, kira-kira begitu. Kau ingat pria yang kau ceritakan kemarin? Aku dengar ia salah satu dari orang-orang yang berkhianat pada kelompok mereka. Menggunakan barang haram untuk kepentingan pribadi dan bukan mendistribusikannya. Aku khawatir dia akan diperlakukan sama bila ketahuan oleh mereka.” Juan menelan ludah setelah mendengar penjelasan dari Artur. Ia tak menyangka anak-anak di tempat ini dalam masalah yang besar. Mereka bekerja untuk manusia berhati iblis. Cepat atau lambat mereka semua akan mati karena kesalahan atau karena sudah tidak dibutuhkan lagi. “Aku tidak menyangka. Meski sudah selama ini aku bersembunyi. Tapi tetap saja. Waktu sengajat mempertemukanku kembali denganmu El-Chapo. Dunia terasa sangat sempit atau memang kalian yang berkembang pesat setelah Zervanos dikalahkan. Cepat atau lambat, kita akan kembali bertemu dalam medang perang. Aku akan pastikan bila itu terjadi, aku akan mengalahkanmu!” gumam Juan. “Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kumohon selamatka kakaku. Aku hanya memilikinya saat ini. Aku tidak ingin ada hal buruk yang menimpanya,” pinta sang adik. Ia kemudian menarik tangan Juan sambil memasang wajah memelas. Berharap Juan mau membantunya untuk menyelamatkan nyawa kakaknya. “Kau tenang saja! Kakakmu tidak akan kenapa-kenapa. Aku berjanji akan membantumu,” ujar Juan sambil mengusap kepala anak itu. “Terima kasih banyak. Aku berhutang budi padamu!” Juan dan kedua anak itu mulai memikirkan cara untuk menyalamatkan nyawa anak ini. Sebelum para mafia itu datang dan menemukan keberadaan anak ini. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari beberapa orang. Langkah tersebut terdengar sangat gaduh dari luar rumah. Seperti jumlah yang datang tidak sedikit. Mereka yang berada di dalam rumah seketika panik. Para mafia itu datang untuk mencari anak ini. Juan mengajak mereka berdua untuk memindahkan anak ini naik ke lantai atas. Meletakkannya di tempat yang lebih aman. Setelah itu, Juan menyuruh Artur untuk turun menemui para mafia itu. Ia diminta untuk bersikap tetap tenang seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Juan berharap Artur bisa mengelabui para mafia itu. Suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Artur segera turun setelah membantu Juan meletakan temannya di atas. Artur menarik nafas dalam. Bersiap menghadapi para mafia yang datang dengan sikap tenang. Suara ketukan pintu pun terdengar diiring suara orang memanggil nama Artur dari luar. “Artur! Buka pintunya! Kami tahu kau di dalam. Jangan halangi kami masuk!” suara dari luar rumah memanggil Artur dengan kasar. “Tunggu sebentar! Aku datang!” sahut Artur. Artur lantas membukakan pintu untuk mereka. Ia terkejut melihat jumlah mereka yang datang. Lebih dari 5 orang pria bertato berdiri di hadapannya sekarang. Mental Artur seketika ciut, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. “Di mana dia? Di mana kau sembunyikan Sanchez? Kami tahu di ada di sini bersamamu. Kau jangan coba-coba menyembunyikannya dari kami!” tanya salah satu mafia pada Artur. “Aku tidak tahu ia di mana. Sejak semalam ia belum kembali. Nanti kalau ia datang akan aku sampaikan pada kalian. Aku di sini seorang diri sekarang,” ujar Artur. “Kau jangan coba-coba membohongi kami! Aku tahu ia ada di dalam sedang bersembunyi! Minggir kau!” para mafia itu seketika langsung masuk. Mereka mendorong Artur yang mencoba menghalangi pintu masuk dengan badannya. Suara percakapan mereka terdengar hingga ke lantai dua. Adik dari Sanchez meras ketakutan. Mereka akan ketahuan dan nasib kakaknya akan segera binasa. Akan tetapi, Juan tak habis akal. Ia berusaha sebisa mungkin melindungi mereka berdua bagaimana pun caranya. Artur yang sudah didorong oleh para mafia itu terjatuh ke lantai. Ia pasrah melihat para mafia itu masuk mengobrak-abrik isi rumahnya. Mereka mencari temannya ke setiap sudut ruangan. Hingga mereka melihat ke arah lantai dua. “Ia pasti ada di sana! Ke mana kau akan lari Sanchez! Kau harus membayar semuanya!” teriak salah seorang mafia. Keadaan benar-benar tak terkendali. Artur memasrahkan keadaan teman-temannya. Ia tak bisa berbuat apapun lagi. Begitu pun Jun yang sedang menahan nafasnya. Mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Bertarung dengan para mafia itu jika mereka berhasil menemukannya. Akan tetapi di luar dugaan. Juan yang menunggu dari balik ruangan tak mendengar suara lanjutan. Seperti semuanya sudah aman. Para mafia itu tak menemukannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN