uan yang terus mengigau dan bergerak-gerak selama tidur. Membuat Artur terganggu. Ia merasakan gangguan yang luar biasa dari Juan. Sedangkan Juan sedang berusaha untuk terbangun dari mimpi buruk yang menimpanya. Artur yang tak tahan akhirnya membantu Juan untuk keluar dari mimpi buruknya. Ia membangunkan Juan dengan menggoyang tubuhnya menggunakan tangan hingga Juan terbangun.
Begitu terbangun, Juan langsung merasa syok. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Dahinya dipenuhi oleh peluh, nafasnya pun ngos-ngosan. Artur kemudian bertanya kepada Juan tentang apa yang baru saja menimpanya.
“Ada apa? Kau mimpi buruk?” tanya Artur.
“Sepertinya begitu. Meski sudah beberapa tahun kejadian buruk yang menimpaku terjadi. Aku masih dihantui kenangan buruk itu. Ini benar-benar menyiksaku,” ujar Juan sembari mengatur nafasnya.
Artur bangkit dari posisi sebelumnya, ia kemudian duduk di sebelah Juan. Juan sedang mengatur kembali nafasnya dan mencoba menenangkan dirinya. Artur memberikan Juan minum untuk membantunya sedikit menangkan diri. Juan pun menerimanya dan langsung menghabiskan minuman itu dengan satu kali tegukkan.
“Bagaimana? Kau merasa lebih baik?” tanya kembali Artur.
“Mulai agak membaik. Apa kau punya sesuatu yang aku butuhkan? Aku butuh untuk tidur malam ini. Aku yakin kau terganggu karena ku. Bisa kau berikan itu padaku?” pinta Juan.
Artur mengerti yang dimaksud oleh Juan. Juan meminta barang haram yang sering dibawa Artur. Ia pun mengeluarkan barang tersebut dari dalam tempatnya menyimpan. Lalu ia memberikan barang tersebut kepada Juan sambil memberikannya pesan.
“Mungkin ini punyamu malam ini karena ada barang sisa. Lain kali kau harus ingat! Kau bisa mendapatkannya dengan membeli. Kau mengerti?” ujar Artur sebelum memberikan barang itu pada Juan. Juan pun mengagguk menyetujuinya.
Barang haram yang diberikan Artur sejenis daun yang dilinting. Juan kemudian membakarnya dan menghisapnya perlahan-lahan. Artur hanya bisa melihat Juan menikmatinya. Juan yang menyadari ada Artur di sebelahnya, ia kemudian bangkit. Ia tak bisa menghisap barang itu di sebelah remaja seperti Artur. Pengaruhnya sangat buruk baginya.
“Kau mau ke mana?” tanya Artur ketika Juan hendak pergi.
“Aku ingin menikmati ini di bawah. Aku tidak akan menghisap ini di sampingmu. Kau lebih baik tidur. Istirahatlah atau kau besok akan kesiangan lagi.”
“Aku tidak masalah sebenarnya jika kau menghisap itu di sampingku. Tapi bila kau ingin ke bawah, silahkan saja. Aku akan tidur.
Artur kemudian merebahkan kembali tubuhnya dan mulai berusaha untuk tidur. Sedangkan Juan berjalan turun ke lantai bawah. Melanjutkan kegiatannya menghisap barang haram. Ia duduk pada sofa yang sudah rusak. Banyak bagian sofa yang sudah robek. Menyisakan sebagian kecil yang masih bisa layak digunakan untuk duduk.
Juan duduk bersandar, tangannya memegang barang haram. Pelan namun pasti ia menghisap barang tersebut. Asapnya mengepul di udara begitu Juan melepaskannya. Efeknya mulai terasa pada tubuh Juan. Pikirannya mulai terasa melayang. Tubuhnya mulai terasa enteng dan matanya mulai terlihat agak layu.
Pikirannya dan kondisi psikisnya mulai tenang seiring dengan efek barang haram yang ia gunakan. Juan akhirnya tiba pada hisapan terakhir. Ia menarik panjang hisapan tersebut untuk menikmatinya. Setelahnya, ia membuang sisa barang tersebut. Bagian yang sudah tidak bisa ia nikmati. Ia benar-benar sudah di bawah kendali barang haram tersebut. Memasuki mode santai dan tenang dalam dirinya.
Dirinya merasa sangat enjoy, tak bisa merasakan selain ketenangan. Juan terdiam dengan pikiran yang kosong dan tatapan yang kosong. Termenung di bawah pengaruh barang haram. Matanya layu, badannya hanya bisa bersandar pada sofa. Ia tak mampu menggerakkan tubuhnya dalam waktu beberapa saat. Ia harus menunggu efek itu benar-benar hilang baru bisa menggerakan kembali dengan normal anggota tubuhnya.
Posisi yang sudah sangat enak untuknya. Membuat ia larut dalam khayal dan kantuk. Tubuhnya melayang-layang, hingga membuatnya tak sadar. Ia masih terjaga atau sudah memasuki dunia mimpi. Juan perlahan-lahan terpejam. Dalam posisi masih bersandar di sofa. Ia tertidur sangat lelap hingga tak terasa pagi telah tiba.
Juan dibangunkan oleh Artur ketika pagi telah tiba. Ia yang terkejut hanya bisa mengusap matanya menghilangkan rasa kantuk. Begitu kesadarannya hampir sepenuhnya pulih, ia mendapati Artur yang sudah dalam keadaan siap untuk pergi.
“Kau mau ke mana pagi-pagi sekali?” tanya Juan yang kaget melihat Artur siap untuk pergi.
“Aku hendak mengantar paket seperti biasa. Sepertinya kau semalam tidur sangat amat nyenyak, ya. Hingga di pagi hari harus aku yang membangunkanmu.”
“Berkat bantuanmu. Aku bisa tidur dengan nyenyak semalam. Kalau kau tidak memberikan barang itu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku semalam. Mungkin hari ini aku sudah mengakhiri hidup,” ujar Juan sembari tertawa kecil.
“Terima kasih kembali, berkatmu juga aku bisa bangun lebih awal hari ini. Aku harus segera pergi. Kau jika ingin mencari tempat tinggal. Tunggu aku kembali dari mengantar paket. Nanti aku akan mengantarmu untuk mencari tempat yang cocok kau jadikan tempat tinggal. Itu jika kau tidak keberatan menungguku kembali.”
“Baiklah, aku akan menunggu kau kembali. Ngomong-ngomong, dua temanmu kemana? Kau tidak bercanda, kan? Tentang memiliki dua teman di sini? Hari sudah berganti dan mereka belum juga kembali.”
“Aku juga tidak tahu mereka kemana. Nanti aku akan sekalian mencari mereka. Kau tidak perlu khawatir. Kau pasti akan bertemu dengan mereka berdua.”
Juan hanya mengangguk, sedang Artur pun pergi dari tempat tersebut. Sambil mengayuh sepedanya, ia pergi untuk mengantar barang-barang haram. Juan meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia berjalan naik ke lantai dua. Ingin mengambil pakaiannya lalu salin sekaligus membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dipenuhi keringat semalam.
Selesai membersihkan tubuhnya, Juan duduk di lantai dua. Menunggu Artur kembali dari mengantar barang-barang haram. Ia merebahkan tubuhnya untuk membunuh waktu, hingga membuatnya terlelap. Juan terbangun ketika mendengar suara ribut dari lantai bawah. Ia merasa baru tidur sebentar kemudian bangun dan menghampiri sumber suara yang berasal dari bawah.
Begitu tiba di bawah, Juan amat terkejut. Ia melihat Artur sedang memapah temannya yang tak sadarkan diri. Dibantu satu orang lagi temannya, mereka berdua memapah teman mereka yang sedang tak sadarkan diri. Juan segera memberikan bantuan dengan membantu mereka meletakkanya di sofa. Juan menyadari kalau anak ini bukan pingsan atau habis dipukuli oleh orang.
Anak ini sedang dalam keadaan sakau. Ia habis mengonsumsi barang haram yang entah dari mana ia dapatkan. Artur dan temannya tak bisa berkata apapun, mereka berdua hanya bisa diam mengkhawatirkan kondisi temannya. Juan coba memeriksa kondisi teman mereka, memastikan ia baik-baik saja. Tak ada yang terlalu membahayakan keselamatannya.
“Apa yang terjadi padanya? Di mana kalian menemukannya?” tanya Juan.
“Aku tidak tahu dia kenapa. Aku menemukan temanku ini sedang memapah dia yang sudah dalam kondisi seperti ini. Aku belum sempat menanyakan apa yang terjadi padanya. Aku langsung membantunya membawa ke sini.”
“Apa tidak terjadi apa-apa pada kakaku?” tanya temannya Artur.
“Dia ini kakakmu? Dia tidak apa-apa. Hanya sedang dalam pengaruh benda haram. Nanti juga akan sadarkan diri ketika efeknya sudah hilang,” kata Juan.
Mendengar penjelasan dari Juan, anak itu tampak lega. Tidak akan terjadi hal buruk yang menimpa kakakknya.
Bersambung