Juan terus berjalan mengekor di belakang Artur. Mereka berjalan di tepi jalan hingga masuk ke dalam sebuah gang. Setelah melalui sebuah gang tibalah mereka di depan sebuah rumah yang tampak dari luar sudah agak rusak bangunannya. Artur kemudian mengajak Juan untuk masuk ke dalamnya. Juan hanya menurut, ia pun ikut masuk ke dalamnya bersama Artur.
“Kau tinggal seorang diri di tempat seperti ini? Ini rumahmu?” tanya Juan begitu masuk ke dalam.
“Aku tinggal bersama dua orang temanku. Mereka harusnya sudah tiba sekarang. Mungkin mereka agak telat dan kembali beberapa saat lagi. Bisa dibilang ini rumah? Aku lebih suka menyebutnya istana. Meski dengan segala kekurangannya.”
Juan melihat sekeliling. Banyak lukisan-lukisan dan hiasan-hiasan yang menghiasi bagian dalam rumah tersebut. Ada beberapa yang sudah usang dimakan rayap, beberapa lainnya tampak kotor dan berdebu. Artur melihat ke arah Juan yang sejak tadi memperhatikan rumah ini.
“Ada apa? Kau tidak nyaman tinggal malam ini di sini?” tanya Artur.
“Tidak, aku hanya memperhatikan hiasan yang ada. Aku sama sekali tidak mengatakan tidak suka. Hanya menurutku, perlu ada perbaikan di beberapa tempat. Kalau dibersihkan sedikit lagi, aku yakin tempat ini benar-benar jadi istana. Seperti yang kau katakana,” jawab Juan.
“Aku memang sudah lama ingin memperbaiki tempat ini. Hanya saja, aku terkendala karena kesibukanku. Setiap hari harus berlomba dengan waktu untuk mengantar paket. Aku kerap bangun kesiangan, sehingga harus buru-buru. Begitu pulang, aku sudah terlalu lelah dan langsung tidur. Tidak ada waktu libur untukku, aku harus benar-benar membagi waktu untuk bisa memperbaiki tempat ini.”
Tampilan rumah tersebut memang sudah sangat berantakan. Sarang laba-laba tampak mulai dominan menghiasi. Lantai rumah tersebut juga sangat kotor. Akibat mereka yang masuk ke dalam rumah ini tidak melepas alas kaki mereka. Bagian langit-langit rumah sudah banyak yang bolong. Rumah ini harus segera diperbaiki agar kembali nyaman dan layak huni.
Puas melihat bagian dalam rumah, Juan diajak Artur untuk naik ke lantai dua. Tempat mereka akan gunakan untuk tidur. Mereka berdua pun naik, tepat di anak tangga yang terakhir Artur meminta Juan untuk melepas alas kakinya. Lantai dua rumah tersebut sangat berbeda dengan lantai satunya. Tampilannya lebih bisa dikatakan layak huni.
Lantai yang bersih hingga tampilan dari tiap sudut ruangan yang masih terjaga rapi. Jarang ditemukan sarang laba-laba. Bahkan, Juan bisa mencium aroma pengharum ruangan. Juan merasa menemukan istilah istana yang Artur maksud. Ternyata tempat tersebut berada di lantai dua. Ia tak berhenti merasa takjub begitu naik ke lantai dua, ia disambut dengan dua kamar yang pintunya sama-sama tertutup.
Bagian tengahnya terdapat tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul keluarga. Biasanya sisi itu diisi oleh sofa dan beberapa perlengkapan pendukung lainnya untuk ruang keluarga. Tapi, di tempat ini tak terdapat apapun. Hanya ruangan hampa yang bersih. Artur kemudian mengajak Juan ke ruangan keluarga. Mereka akan tidur di tempat tersebut malam ini.
“Kita akan tidur di tempat ini. Kau bisa bebas memilih di mana kau akan tidur,” kata Artur mempersilahkan Juan.
“Iya, terima kasih banyak. Kau akan tidur di salah satu kamar itu?”
“Dua kamar itu tak pernah kami buka. Aku juga tak tahu apa yang ada di dalamnya. Kalau saja aku bisa membukanya. Tentu aku tak perlu merasakan tidur di atas ubin yang dingin setiap malam.”
“Ruangan tersebut terkunci atau kau memang tidak bisa membukanya? Sayang sekali ada dua kamar yang tersedia. Sementara kau dan yang lain tidur di ruangan ini.”
“Kau periksa saja. Jika kau bisa membukanya. Maka kita bisa tidur di kamar itu malam ini. Jika tak bisa, maka kita tidur di ruangan ini. Beralaskan ubin yang dingin.”
Juan pun memeriksa kamar tersebut. Ia merasa heran kenapa pintu kamarnya tak bisa dibuka. Begitu tiba di depan kamar, Juan langsung mencoba membukanya. Ia mendorong pintu tersebut sambil mencoba membuka gagang pintu tersebut. Dirinya merasa kesulitan, ia merasa seperti ada sesuatu yang menahan dari balik ruangan. Hingga dirinya tak bisa membuka bangunan tersebut.
“Tidak bisa, kan? Sudah kukatakan kalau kamar itu terkunci.”
Juan tak menyerah pada satu kamar. Ia pun berpindah pada kamar yang satunya. Ia berusaha dengan keras untuk membuka kamar yang satunya. Tetap saja tak membuahkan hasil. Pintu kamar tersebut tak bisa dibuka. Ada yang mengganjal pintu kamar tersebut sehingga Juan kesulitan untuk membukanya.
“Kau masih saja tak menyerah, ya? Sudah kukatakan kedua kamar ini terkunci. Sudah lama aku dan kedua temanku berusaha untuk membukanya. Tapi tetap saja tidak bisa.”
“Apa kau sudah mencoba mendobrak pintu kamar ini? Kau merasakan apa ketika berusaha membuka pintu kamar ini?”
“Sudah segala cara kulakukan bersama kedua temanku untuk membuka pintu kamar ini. Tapi tetap saja usaha kami berujung sia-sia. Kau merasakan apa ketika mencoba membuka keduanya?”
“Aku merasa engsel pintu ini tidak terkunci, tapi begitu hendak membukanya seperti ada sesuatu yang menahan dari balik pintu. Seperti sesuatu yang berat yang menahan agar pintu ini tidak terbuka. Apa kalian merasakan hal itu?”
“Itulah yang aku dan kedua temanku rasakan. Pintu itu tidak terkunci, tapi seperti ada sesuatu yang menahan pintu tersebut. Sehingga kami tidak bisa membukanya. Sudahlah, kau hanya membuang tenaga kalau terus berusaha membuka pintu itu. Lebih baik kau membersihkan dirimu agar, kau bisa tidur dengan nyenyak malam ini.”
Juan berhenti untuk membuka pintu kamar tersebut. Ia kemudian berjalan menuju barang bawaannya. Dirinya mengeluarkan pakaiannya dari dalam tas yang ia bawa. Hendak membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya yang sudah tampak kotor.
“Kamar mandi ada di bawah. Kau bisa gunakan.”
Selesai membersihkan dirinya, Juan kembali naik ke lantai dua. Ia meletakkan pakaian kotornya pada kantong plastik. Juan kemudian duduk di tepi Artur yang sedang merebahkan tubuhnya.
“Kau sudah akan tidur? Malam baru tiba. Kau tidur se awal ini?”
“Tidak, aku hanya rebahan.”
“Kau bilang tinggal di sini bersama dua temanmu. Di mana mereka? Hari sudah gelap. Mereka tidak kunjung kembali.”
“Aku juga tidak tahu kenapa mereka belum juga kembali. Biasanya mereka sudah kembali. Tidak biasanya mereka belum kembali. Biarkan sajalah, mereka akan kembali kalau urusannya sudah selesai. Tidak usah terlalu memikirkannya. Tenang saja.”
“Baiklah kalau begitu. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mereka sampai mereka belum juga kembali meski hari sudah gelap.”
Perbincangan singkat terjadi di antara mereka berdua sebelum tidur. Begitu selesai obrolan mereka, Juan dan Artur masing-masing mengambil posisi untuk tidur. Keduanya tidur bersebalahan tapi saling memunggungi satu dengan yang lainnya. Juan terpejam lebih dulu, sedang Artur masih terjaga. Perkataan Juan tentang kedua temannya membuatnya mulai merasa khawatir. Kenapa kedua temannya belum juga kembali. Artur terus berusaha menunggu temannya hingga ketiduran.
Tengah malam pun tiba. Juan mulai bereaksi, ia kembali mengalami mimpi buruk. Anggota tubuhnya mulai bergerak-gerak. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Ia berusaha bangun dari tidurnya tapi tak bisa. Juan mulai mengigau memanggil-manggil nama adiknya.
“Marco! Marco! Maafkan aku!”
Juan yang mengigau membuat Artur agak terganggu. Suaranya lumayan berisik. Sesekali memanggil nama adiknya. Artur mencoba menggoyang tubuh Juan agar ia tersadar dan berhenti mengigau. Usahanya berhasil, tapi hanya sebentar. Juan kembali mengigau kali ini dengan perkataan yang lebih banyak yang keluar dari mulutnya.
“Aku tak menyangka harus membawa orang sepertinya ke tempat ini. Kalau aku tahu ia tak bisa tenang tidurnya. Tentu aku tidak akan pernah membiarkan ia ke tempat ini dan tidur di sebelahku,” gumam Artur yang terganggu.