Perbincangan Juan dan Artur

1173 Kata
Juan belum sadar kalau Artur memberikan pertanyaan padanya. Ia masih menatap Artur seolah-olah masih mendengarkan apa yang sedang Artur ceritakan padanya. Sampai pada Artur menegur dirinya karena pertanyaannya tak juga dijawab oleh Juan.                “Kau dari mana? Kenapa kau justru diam saja dan menatapku sambil tersenyum begitu? Kau tidak mendengarku, ya?” tegur Artur pada Juan yang membuat Juan tersadar dari lamunannya.                “Maafkan aku, aku kira kau masih bercerita dan menjelaskan padaku. Aku sampai tak tahu kalau kau sedang bertanya padaku. Mungkin karena aku merasa tidak enak padamu, membuatmu merasa agak tersinggung perasaannya. Sampai-sampai tidak menyadari pertanyaan yang kau lontarkan. Memangnya kau bertanya tentang apa padaku?”                Artur mengehela napasnya. Ia tampak agak malas untuk mengulang pertanyaannya. Tapi ia lakukan juga karena Juan memintanya untuk mengulang pertanyaan.                “Aku hanya bertanya kau dari mana? Aku merasa baru melihatmu di kota ini.”                “Aku memang orang baru di sini. Baru dua hari. Kenapa memangnya? Apa aku tampak berbeda dari orang-orang yang ada di sini? Sampai banyak orang yang mengetahui kalau aku orang baru di sini termasuk kamu. Apakah terlihat jelas sekali perbedaaannya?”                “Tidak juga, sih. Menurutku justru kau termasuk orang-orang aneh yang ada di sini. Yang ingin mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri di jalanan pada mobil yang melintas. Bedanya kalau kau berhenti tidak di tengah jalan. Kau berhenti di jalan yang kulalui. Alih-alih kau ditabrak mobil, kau justru membuatku jatuh.”                Artur masih memiliki perasaan kesal pada Juan. Karena kejadian kemarin yang membuatnya terjatuh dari sepeda. Juan hanya bisa menyeringai merasa malu karena kembali disindir oleh Artur akan kejadian kemarin.                “Kau masih mengingat kejadian kemarin, ya? Bahkan setelah aku minta maaf. Aku benar-benar tak mengira kalau kemarin kau menabrakku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba termenung begitu di jalan. Mungkin karena kota ini baru bagiku dan aku harus adaptasi. Atau ada sesuatu kemarin yang membuatku sampai terpukau. Yang jelas, itu bukan kesengajaan yang aku lakukan.” Juan mencoba memberi penjelasan.                “Ya sudah, lupakan saja kejadian itu. Anggap saja aku sudah memaafkanmu. Semoga ke depannya kau tidak melakukannya lagi. Oh ya, aku belum mengucapkan selamat datang untukmu di kota ini. Semoga kau betah tinggal di tempat seperti ini. Tempat yang penuh keputusasaaan bagi sebagian orang. Tapi tempat penuh harapan bagi segelintir orang lainnya.”                “Iya terima kasih. Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya padamu. Ketika kau menabrakku kemarin dan terjatuh. Kau beserta sepeda dan barang yang kau bawa ikut terjatuh. Begitu aku merapikan barangmu, aku menemukan paket yang mencurigakan. Apa itu? Dan kenapa paket itu bisa ada padamu? Apa kau pemilik paket itu? Kau membelinya?” tanya Juan.                “Aku kira kau tak menyadari paket yang kubawa. Ternyata kau melihatnya. Aku kira berhasil mengelabuimu dan membuatmu tidak tahu akan hal itu. Rupanya aku gagal. Aku membawa paket barang haram. Aku mengantarnya, itu bukan paket milikku. Tapi paket dari salah satu pemegang kekuasaan di wilayah ini. Aku hanya kurir yang bertugas mengantarnya.”                Juan tertegun sejenak begitu mendapat jawaban dari Artur. Dugaannya tempo hari berbuah kenyataan. Bahkan anak yang ia lihat sedang bertransaksi waktu itu, mungkin saja bagian dari Artur juga. Kurir paket yang ditugaskan untuk mendistribusikan barang-barang haram. Juan menjadi tak habis pikir, kenapa anak-anak seusia Artur justru menjadi kurir barang haram. Yang seharusnya seusianya, menghabiskan waktu mudanya untuk bersekolah dan bermain bersama teman-temannya.                “Kenapa? Kau tak ingin berteman denganku hanya karena kau tahu aku seorang kurir narkoba? Kau tak ingin lagi berbincang denganku? Kalau begitu, kurasa waktunya aku pergi dari tempat ini.”                “Eh, tunggu! Aku belum mengatakan apa pun. Kenapa kau langsung ambil kesimpulan sepihak?”                “Raut wajahmu menjelaskan semuanya kalau kau tak suka memiliki kenalan orang sepertiku. Anak kecil yang menjadi kurir barang haram. Tak apa bagiku, aku tidak terlalu memperdulikan apa yang orang katakana tentangku dan pekerjaanku. Aku hanya butuh uang untuk tetap bertahan hidup di tempat ini.”                “Aku hanya kaget saja. Kenapa anak-anak usiamu menjadi kurir barang haram. Aku tidak mempermasalahkan soal pekerjaanmu. Tapi kenapa orang-orang yang memperkerjakanmu tega. Tega dalam artian, anak seusiamu itu seharusnya pergi sekolah dan bermain. Bukan justru berjualan barang haram. Apa hanya kau saja yang bekerja sebagai kurir barang haram di sini? Atau ada anak-anak lain yang bernasib sama denganmu? Kenapa mereka melakukan itu?”                “Sekarang kau tidak perlu kaget dan heran lagi. Di tempat ini, semua bisa menjadi apa pun yang mereka mau. Tidak ada larangan di sini. Bahkan, polisi pun tak memiliki wewenang apa pun di sini selain hanya mondar-mandir tanpa ada tindakan yang mereka lakukan. Bukan hanya aku yang memilih menjadi kurir barang haram. Banyak teman-temanku juga menjadi bagian dari pekerjaan yang sedang kujalani. Alasannya beragam, tapi mayoritas untuk bertahan hidup di tempat seperti ini. Kami tak memiliki orang tua atau orang yang bisa menjamin hidup kami. Jadi, mau tidak mau kami harus bekerja apa pun itu pekerjaannya agar tetap bisa bertahan hidup.”                “Semua kembali lagi kepada kebutuhan untuk bertahan hidup, ya? Memang kalau sudah berbicara tentang bertahan hidup, kita tak bisa berbuat apa-apa selain mengusahakan semuanya. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau dan anak-anak yang lain bisa ada di sini?”                “Aku tidak ingat kenapa aku bisa ada di sini. Peristiwa itu terjadi sudah sejak lama. Mungkin sejak aku masih balita. Aku dibawa oleh orang tuaku dan mereka meninggalkanku di tempat ini. Mungkin begitulah ceritaku kenapa bisa ada di sini. Kalau anak-anak yang lain aku tidak tahu kenapa mereka bisa ada di sini. Mungkin mereka punya cerita masing-masing. Kau harus bertanya sendiri pada mereka kalau begitu.”                Perbincangan yang terjadi di antara Juan dan Artur semakin hangat semakin dekat. Mereka sesekali bergurau satu sama lain untuk mencairkan suasana. Hingga tak terasa matahari pun akan segera terbenam. Obrolan mereka membuat Juan lupa kalau dirinya masih belum menemukan tempat tinggal.                “Tak terasa, ya, hari sudah senja. Sebentar lagi akan segera malam. Ternyata obrolan kita membuat kita lupa waktu,” ujar Juan.                “Iya, kau benar. Aku juga tak menyangka bisa berbicara selama ini bahkan dengan orang baru yang belum kukenal namanya. Siapa namamu? Kau belum mengenalkannya padaku,” tanya Artur.                “Ehm, namaku. Ya ampun! Aku baru ingat! Aku belum menemukan tempat tinggal untukku tidur malam ini. Hari sebentar lagi akan malam. Di mana aku akan tidur malam ini?” Juan seketika panik.                “Hah? Kau kebingungan tentang tempat tinggal? Memangnya semalam kau tidur di mana? Kenapa tidak kembali lagi saja ke sana?”                “Kemarin aku tinggal di penginapan. Niatku ingin mencari ruko atau tempat tinggal yang lebih layak. Tempat yang sekiranya pas untukku menetap. Mungkin juga bisa kujadikan tempat membuka usaha. Apa kau memiliki rekomendasi tempat? Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana. Aku tidak bisa kalau harus kembali ke penginapan itu.”                “Aku tidak tahu kalau sekarang. Mungkin besok aku bisa membantumu. Sekalian aku mengirim barang, aku carikan tempat yang kau maksud. Sekarang begini saja, kau lebih baik ikut denganku. Tidur di tempat aku tidur. Besok baru kita cari tempat untukmu. Bagaimana?”                “Ide yang bagus.”                Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat bermain tersebut. Pergi menuju ke tempatnya Artur tinggal.                  Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN