Hukuman Terberat

1129 Kata
Artur pun turun dari sepedanya dan berjalan mendekati Juan. Ia menuntun sepedanya hingga tiba dekat dengan Juan. Juan menyambutnya dan bersiap untuk mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan oleh Artur. Akan tetapi, belum sempat Artur bercerita, ia teringat akan tugasnya. Ia harus mengantar semua barang bawaannya ke tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh bosnya. “Ada apa? Kenapa kau malah mau pergi? Bagaimana dengan penjelasannya?” tanya Juan mencoba menahan Artur yang hendak pergi dengan sepedanya. “Aku harus pergi dulu. Ada tugas yang harus segera kuselesaikan. Nanti siang kita bertemu lagi. Dua blok dari tempat ini ada sebuah tempat semacam taman bermain untuk anak-anak. Temui saja aku di sana. Aku akan menemui tepat tengah hari. Aku harus pergi.” Artur pun pergi setelah meninggalkan pesan untuk Juan. Juan tak dapat mencegah Artur pergi. Terlihat Artur sangat tergesa-gesa. Ia bahkan mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Seperti ketakutan jika sampai tugasnya tidak segera diselesaikan. Juan pun kemudian berjalan pergi dari tempatnya berdiri. Di kota ini sangat sulit menemukan kendaraan umum. Kebanyakan warga di sini menggunakan motor, mobil, atau sepeda. Bahkan tak jarang dari mereka yang pendatang baru di kota ini, memilih berjalan kaki menuju tempat tujuan. Matahari kian meninggi, Juan bergegas mencari tempat tinggal untuknya. Ia berjalan menyusuri jalan yang banyak terdapat ruko-ruko. Sambil sesekali bertanya pada pedagang dan penyewa ruko yang ada di sana. Harga sewa dan lain-lain yang memungkinkan untuknya jadikan pertimbangan. Menyewa salah satu ruko yang kosong di sana. Satu per satu ia tanyai, tapi tak ada yang memberikan penawaran terbaik untuknya. Selalu terbentur dengan harga sewa yang terlalu mahal, tempat yang terlalu sempit, bahkan lokasi yang tidak terlalu strategis. Juan tak menyerah sampai di situ, ia masih terus berusaha sampai menemukan tempat tinggal untuknya sebelum matahari terbenam. Waktu menunjukkan tengah hari, Juan teringat pada janjinya dengan Artur. Ia pun segera menuju ke tempat pertemuannya dengan Artur. Ia tiba di sebuah lapangan tempat bermain anak-anak. Tak ada orang di sana, termasuk Artur yang belum datang. Juan kemudian masuk ke tempat tersebut sambil menunggu Artur di sana. Ia duduk di kursi yang terbuat dari beton yang dibuat menyerupai tempat untuk duduk. Ia melihat sekeliling arena bermain anak-anak tersebut. Tampak sepi dari anak-anak yang bermain. Ia terus menunggu kedatangan Artur, perasaanya diselimuti ras was-was. Khawatir kalau Artur tak datang dan justru membohonginya. Setengah jam berlalu, akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Sambil menaiki sepedanya, Artur masuk ke tempat tersebut. Ia turun dari sepeda dan menurukan standar sepedanya agar tak jatuh. Kemudian dirinya duduk di samping Juan. Nafasnya terengah-engah, ia mengayuh sepedanya dengan sangat cepat untuk bisa sampai ke tempat ini. Ia teringat janji pada Juan sehingga sebisa mungkin untuk ia tepati. “Maaf aku datangnya agak telat. Kau pasti sudah lama menunggu, ya? Aku baru selesai mengantar barang. Aku pikir kau tidak akan menungguku, makanya aku cepat-cepat langsung ke sini. Ternyata kau sedang menungguku,” ujar Artur meminta maaf. “Iya tidak apa-apa. Aku penasaran dengan yang kau katakan tadi pagi. Makanya aku masih mencoba bertahan menunggu kau datang. Kalau saja aku tidk penasaran, mungkin saja aku sudah pergi dari sini. Kau tidak perlu merasa tidak enak. Santai saja, istirahat saja dulu. Baru cerita setelahnya,” kata Juan yang merasa lega karena Artur sudah datang menepati janjinya. Juan membiarkan Artur untuk beristirahat sejenak. Mengatur nafasnya juga meregangkan kakinya yang tegang habis mengayuh sepeda. Sesuai dengan yang ia katakan. Beberapa menit berlalu, barulah Artur merasa sudah cukup untuk istirahatnya. Kini, ia siap untuk bercerita pada Juan dan menjawab semua pertanyaannya Juan. “Bagaimana? Apa kau sudah bisa bercerita?” tanya Juan. “Bisa. Kau ingin aku bercerita tentang apa? Tentang kejadian pagi tadi? Memangnya ada apa? Aku baru datang tepat ketika kau sudah termenung di depan jalanku.” “Oh, aku kira kau tahu. Tadi pagi ada orang yang diseret di aspal. Lehernya diikat dengan tali lalu ditarik dengan orang yang menaiki motor. Ia terlihat sangat tersiksa. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang tersebut?” Juan menjelaskan ulang kejadiannya. “Masalah itu, ya. Sebenarnya hal ini sering terjadi di tempat ini. Kau harus mulai terbiasa melihatnya. Kejadian pagi tadi mungkin yang ketiga atau keempat dalam satu bulan terakhir. Mungkin saja lebih, aku tidak tahu pasti.” “Iya, aku akan terbiasa dengan hal ini, tapi kenapa? Apa yang menyebabkan semudah itu oran membunuh? Menghilangkan nyawa orang bahkan dengan cara yang tidak manusiawi? Menyiksanya di depan umum sebelum membunuhnya. Bukankah itu perbuatan yang keji?” “Kau bisa mengatakan itu jika tempatmu bukan di sini. Di sini, siapa yang kuat dia yang berkuasa. Mereka yang memiliki pengaruh besar di sini lah yang mengatur segalanya. Mereka berhak untuk menentukan siapa yang pantas menerima hukuman atau yang dibiarkan tetap hidup. Tidak aturan di sini. Hukum hanya dongeng di tempat ini.” “Apa mereka menghukum dengan semena-mena?’ “Tidak juga. Pria yang pagi tadi kau lihat mati terbunuh. Mungkin saja ia salah satu dari anggota mereka yang berkhianat atau melakukan kesalahan. Mereka tidak akan menghukum atau membunuh dengan tanpa alasan. Mereka melakukannya ketika orang tersebut sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Pengkhianat tak pantas untuk hidup di tempat ini. Begitu kata mereka.” “Mereka bisa menghukum mati mereka dengan cara menembak kepalanya. Agar si pria itu langsung mati. Kenapa harus menyiksanya terlebih dahulu?” “Mereka melakukan itu agar menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Lagipula kau pikir itu adalah hukuman paling berat? Menurutku tidak. Hukuman yang paling berat adalah tinggal di tempat ini. Itu adalah hukuman paling berat. Seandainya aku bisa dan mampu. Tentu aku sudah keluar dari kota terkutuk ini. Menuju tempat lain yang lebih manusiawi dan aman untuk anak seusiaku.” Juan yang mendengar semua penjelasan dari Artur mulai merasa kasihan dan semakin penasaran dengan cerita hidupnya. Ia melihat sebuah penderitaan yang dirasakan oleh anak seusia Artur. Bagiamana ia harus melihat hal-hal yang keji dan kejam setiap hari di sini. Ia harus tetap bertahan apa pun resikonya. Tak perduli mentalnya terganggu atau tidak. Obrolan mereka terhenti sejenak. Mereka saling diam tepat setelah Artur mengucapkan kalimat terakhirnya. Tentang harapannya yang ingin pindah dari tempat ini dan melihat dunia luar. Tempat yang lebih baik dari tempatnya sekarang. Tempat di mana ia bisa hidup layaknya orang normal dan anak-anak seusianya. Bersekolah dan bermain menikmati masa-masa senang. Juan merasa bersalah, pertanyaannya mungkin ada yang menyinggung perasaannya Artur. Ia pun merasa tidak enak karenanya. Dia mencoba mengajak Artur kembali berbicara sambil menyelipkan permintaan maaf. “Maaf untuk pertanyaan yang aku ajukan. Sepertinya agak menyinggung perasaanmu,” ujar Juan meminta maaf. Ia melihat wajah Artur yang mendadak berubah, tatapan matanya kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu. “Tidak apa-apa, itu tidak masalah. Kau bertanya dan aku menjawab. Tidak usah terlalu memperdulikan perasaanku. Aku saja bingung apa diriku ini masih punya perasaan atau tidak. Ngomong-ngomong, kau dari mana?” tanya balik Artur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN