Juan naik ke lantai dua dengan perasaan agak jengkel. Sambil memegang kunci kamar, ia berjalan menaiki anak tangga. Ia kemudian mencari letak kamarnya yang ternyata berada paling pojok. Ia pun segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya.
“Akhirnya aku bisa beristirahat juga,” ujar Juan ketika masuk ke dalam kamar.
Ia terkejut begitu melihat kondisi kamar yang jauh dari bayangannya. Ekspektasinya lebih dari yang ia dapati saat ini. Kamar ini jauh dari harga yang ditawarkan sebelumnya. Bahkan, menyentuh angka 50 saja untuk semalam tak layak. Luas kamar yang relatif sempit, kamar mandi di dalam ruangan. Kondisi kamar juga terbilang agak kumuh, sehingga Juan harus sedikit bersih-bersih sebelum mengeluarkan barang bawaanya.
“Sudah kuduga kamar ini akan jauh dari kata layak dan mewah. Untung saja aku tak menyerah untuk menawar. Bahkan, kalau disuruh membayar dengan nominal 50 pun aku enggan,” gumam Juan.
Ia kemudian merapihkan kamarnya. Disapunya terlebih dahulu lantai kamar tersebut karena sudah agak berdebu. Ia juga membuka gorden kamar agar cahaya dari luar masuk ke ruangan. Ia mendapati kamar mandi yang lumayan bersih sehingga ia tak harus membersihkannya lagi. Beres dengan semuanya, ia pun merebahkan dirinya di atas kasur.
Menunda untuk mengeluarkan barang bawaannya. Ia ingin menikmati dulu rasanya merebahkan diri di atas kasur yang cukup empuk. Setelah sekian lama ia tidur di atas meja dan sofa yang jauh dari kata nyaman. Ia kini bisa merasakan yang lebih baik dari sebelumnya.
Sebelum rasa malas kian menyelimutinya. Juan pun memutuskan untuk bangkit dari ranjang. Ia mengeluarkan barang bawaannya dari dalam tas dan meletakannya di tempat yang sudah disediakan. Selesai menata barang bawaannya, ia pun lantas mandi. Membersihkan badannya yang sudah amat lengket sejak tadi.
Hari pun berganti malam, Juan sudah dalam keadaan bersih. Ia kini tengah duduk di kursi dekat jendela. Menatap ke arah luar jendela. Jendela kamarnya memberikan pemandangan malam kota tersebut. Meski tak se berisik dan hingar bingar layaknya kota besar di malam hari. Kota kecil ini sudah cukup ramai di malam hari dengan pemandangan bar-bar dan lampu-lampu dari tiap rumah yang menyala.
Puas menikmati pemandangan malam hari dari balik jendela, ia pun mulai diselimuti rasa kantuk. Kantuk yang ia rasakan bergerak cepat menyerang matanya. Ia pun memutuskan untuk menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Memejamkan matanya dan tertidur. Menutup malam itu dengan beristirahat.
Juan kembali mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang berbeda dari biasanya. Ia hanya merasakan mimpi itu datang di penghujung tidurnya. Baru sebentar mimpi buruk itu datang, dirinya sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya mentari pagi yang masuk ke dalam ruangan, menyambut Juan yang masih mengantuk. Sambil mengusap matanya, Juan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Di dalam kamar mandi ia mencuci muka sembari bercermin. Ketika bercermin, ia teringat akan mimpi buruk yang menimpanya barusan. Beruntung baginya, mimpi itu tak selama yang biasanya. Hanya sekilas saja datang lalu menghilang. Ia tak harus merasakan mimpi itu dalam waktu panjang hingga membuatnya kepikiran bahkan setelah bangun dari tidur.
Meski hanya sekilas, kini Juan harus mulai berpikir. Mencari obat penenang ketika mimpi buruk atau ingatan tentang kejadian buruk kembali teringat. Ia harus mengonsumsi obat penenang. Juan kemudian mandi karena harus bersiap keluar dari penginapan itu. Selesai mandi, Juan mengemas barang-barangnya lalu keluar kamar.
Ia berjalan menuruni anak tangga kemudian menuju meja resepsionis. Ia membayarkan sesuai dengan kesepakatan kemarin. Ia lalu mengembalikan kunci kamarnya pada wanita penjaga. Baru hendak keluar dari penginapan, Juan mendengar suara keributan dari arah luar. Ia bergegas menghampiri sumber keributan itu berasa.
Begitu sampai di luar ia amat terkejut. Ada seorang pria yang bersimbah darah, diseret menggunakan sepeda motor. Leher pria itu terikat kemudian ditarik, menyeret tanah mengikuti ke mana laju motor yang diikatkan padanya pergi. Pria itu teriak kesakitan meminta untuk dibebaskan, akan tetapi tak ada yang menolongnya. Orang-orang justru hanya menyaksikan pria itu menderita. Sedangkan, beberapa orang lain justru berteriak kegeringan. Ada juga yang mengatakan hal-hal berbau kasar pada pria tersebut.
Juan yang melihat hal tersebut dibuat terkaget-kaget. Ia mencoba mencari jawaban dengan bertanya pada orang di sekitarnya. Ia merasa ada sesuatu hingga membuat pria itu harus diperlakukan demikian parahnya. Menjadi tontonan orang banyak.
“Ada apa? Kenapa pria itu diperlakukan seperti itu?” tanya Juan kepada pria yang ada di dekatnya.
“Apa urusanmu menanyakan hal itu? Kau punya hubungan dengannya? Kalau tidak, urus saja urusanmu sendiri,” jawab pria dengan ketus lalu pergi meninggalkan Juan.
Juan tak menyerah, ia bertanya lagi pada pria yang berada tak jauh juga dari pria sebelumnya. Juan mengulang pertanyaan yang sama. Berharap ia segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
“Kau orang baru, ya, di sini? Kalau kau orang lama, pasti kau tahu kenapa pria itu diperlakukan seperti itu. Pasti ada kesalahan yang ia lakukan sampai ia mendapatkan ganjaran seperti itu. Kau harus mulai terbiasa melihat hal ini,” jawab pria itu.
“Terima kasih banyak atas jawabannya.”
Pria itu pun pergi meninggalkan Juan. Juan terpaku menatap ke arah pria yang tengah sekarat. Pria itu kemudian dikerubungi beberapa orang yang sejak tadi menyiksanya. Salah seorang dari mereka membawa sebuah benda panjang seperti linggis lalu diberikan kepada pemimpin mereka. Pemimpin mereka pun mengeksekusi pria itu. Teriakan pria itu pun terdengar keras hingga membuatnya benar-benar tewas.
Siksaan bagi pria itu tak berhenti sampai di situ. Pria itu kembali diseret menggunakan motor untuk pergi dari tempat tersebut. Juan hanya bisa terpaku melihat hal itu terjadi di depan matanya. Penyiksaan yang cukup sadis, dianggap hal yang biasa untuk orang-orang di kota ini. Ia bahkan melihat sebuah mobil polisi dengan anggota polisi yang berdiri di luar mobil.
Oknum polisi itu dengan santai menikmati penyiksaan yang baru saja terjadi tepat di depan matanya. Selesai penyiksaannya, polisi itu pun masuk ke dalam mobilnya. Mobil polisi itu pun pergi meninggalkan lokasi kejadian tanpa berbuat apa-apa. Seakan tak memperdulikan nasib dari pria itu dan gerombolan orang yang menyiksanya pun enggan ia tangkap.
Cukup lama ia tertegun di depan penginapan. Tatapannya masih melihat bercak darah yang tertinggal di atas aspal. Setelah satu tahun ia menutup diri menjadi mafia, baru kali ini ia kembali melihat darah. Seperti hal aneh baginya yang dulu sering berkelahi, harus kembali melihat darah. Ia kemudian tersadar oleh seseorang yang menegurnya.
Orang tersebut adalah seorang anak yang menabraknya kemarin. Kali ini anak itu berhenti sebelum menabrak Juan. Juan masih belum menyadari keberadaan anak tersebut. Hingga si anak yang menegur Juan.
“Apakah kau akan menghalangi kembali jalanku? Atau kau memang sengaja ingin menabrakkan dirimu denganku seperti yang kau lakukan kemarin?” ujar si anak.
Juan tersadar dari lamunanya. Ia kemudian menoleh ke arah anak itu. Ia kemudian menatap anak tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Ada apa? Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya anak itu.
Juan mengangguk, menyetujui perkataan si anak. Ia memang ingin tahu yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
Bersambung