Juan tak menyangka dirinya harus mengina di tempat yang kurang layak di sebut penginapan. Dari luar ia lebih mengira kalau tempat ini Yayasan panti asuhan atau semisalnya. Hingga ia masuk ke dalam penginapan dan melihat bagian dalamnya. Dugaannya hampir tak meleset, penginapan tersebut jauh dari gambaran penginapan layaknya di kota-kota besar.
Dirinya yang terus memandang sekeliling tak menyadari sudah berada di depan meja resepsionis. Ia lalu ditegur oleh penjaga penginapan tersebut. Penjaga penginapan tersebut pun menanyai Juan tentang tujuannya datang ke tempat tersebut. Karena Juan terlihat mencurigakan untuk dianggap sebagai tamu.
“Selamat datang di pondok melati. Ada yang bisa dibantu, tuan? Apa yang sedang engkau cari di sini? Mungkin saya bisa membantu,” ujar penjaga.
“Oh, iya. Aku sedang mencari kamar untukku menginap malam ini. Apakah kau bisa memberikan aku kamar kosong untukku?”
“Iya, tuan. Kami kebetulan ada kamar kosong yang tersedia. Harganya 500, kau bisa menginap di sini posisi kamarnya ada di lantai dua.”
Juan kaget mendengar harga yang diberikan oleh si penjaga padanya. Ia tak bisa menerima harga tersebut. Dengan penampilan penginapan yang ala kadarnya, kenapa bisa semahal itu untuk harg sewanya. Juan pun teringat pesan bartender padanya untuk mencoba menawar.
“Waow, harga yang fantastis, ya, untuk menginap satu malam di sini. Apakah aku tidak bisa mendapatkan potongan harga atau apalah itu. Harganya menurutku terlalu mahal,” kata Juan menciba bernegosiasi.
“Maaf, tuan. Tapi itu sudah harga terbaik yang bisa kami tawarkan untuk anda. Tidak ada potongan harga atau promo yang bisa kami berikan pada anda. Penginapan ini bukan hotel yang ada di kota, selalu dikunjungi oleh banyak orang. Hingga bisa memberikan diskon dan promo lainnya.”
“Ta-tapi, ayolah, ini satu-satunya penginapan yang bisa kujadikan tempat tinggal malam ini. Sebentar lagi akan gelap. Aku harus sudah menemukan tempat menginap malam ini saja. Kumohon padamu,” ujar Juan terus mencoba bernegosiasi.
“Tetap tidak bisa, tuan. Justru karena tempat penginapan inilah satu-satunya. Maka dari itu anda tidak seharusnya menawar dan menerima saja harga yang kami berikan pada anda.”
“Bagaimana 250? Aku akan menginap dua malam di sini. Bagaimana?”
“Maaf, tuan. Saya tidak punya waktu untuk meladeni negosiasi yang anda tawarkan. Jika anda berminat maka harga segitulah yang kami tawarkan untuk anda. Jika anda merasa keberatan, kami tidak memaksa anda. Anda bisa tinggalkan tempat ini dan carilah penginapan yang lain. Yang memberikan harga sesuai kantong anda,” ujar penjaga itu mengusir halus Juan dari tempat itu.
Juan tak punya pilihan selain menyerah dari penawaran yang coba ia ajukan. Ia kemudian berjalan kembali keluar. Begitu hendak meninggalkan penginapan itu, ia melihat ada dua orang yang berjalan masuk. Sepasang kekasih yang hendak menyewa kamar. Juan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia ingin tahu harga yang diberikan pada mereka berdua sama atau tidak dengan yang diberikan penjaga itu padanya.
“Aku yakin penjaga itu tidak akan memberikan harga yang sama seperti yang ia tawarkan padaku. Pasti lebih murah dari yang ia tawarkan padaku,” gumam Juan sembari melihat ke arah meja resepsionis.
Juan mencoba menahan langkahnya dan mencari jarak terdekat untuk bisa mendengar percakapan mereka. Ia berpura-pura seolah sedang membetulkan sesuatu. Dengan begitu, ia tak dicurigai oleh siapa pun.
“Selamat sore manis! Anda terlihat begitu mempesona hari ini. Aku tidak menyangka akan bertemu wanita dengan senyuman semanis anda hari ini. Bisa tolong satu kamarnya?” ujar si pria ketika meminta satu kamar kosong.
Juan melihat sang penjaga wajahnya berubah memerah. Tersipu malu karena mendapat pujian dari pria yang datang. Wanita yang bersama si pria juga terlihat tidak marah sama sekali, meski pria itu menggoda wanita lain tepat di depan matanya.
“Terima kasih banyak pujiannya. Ini kunci kamarnya untuk anda, tuan. Harganya 25, selamat bersenang-senang. Semoga kalian menikmati liburan kalian,” kata penjaga itu sambil tersenyum malu memberikan kunci.
Juan terbelalak melihat hal tersebut. Tak menyangka kalau godaan seperti itu bisa membuat luluh hati wanita itu. Hingga memberikan kunci kamar dan harga murah begitu saja pada mereka. Ia tak habis pikir, bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia sudah berusaha untuk melakukan negosiasi tapi gagal. Sedangkan pria itu hanya memberikan pujian, tapi berhasil begitu saja.
Tantangan terberat bagi Juan sekarang adalah mencoba merayu si penjaga. Terakhir kali ia mencoba merayu dan mendekati wanita. Ia justru dikira hendak memperkosa wanita. Kini, Juan harus kembali mencoba hal yang paling sulit ia lakukan. Mencoba merayu wanita dan membuatnya meleleh dengan pujian dan kata-kata manis yang dia berikan.
“Aku tak percaya harus melakukan ini. Tapi biar bagaimanapun, aku harus mencobanya. Ini satu-satunya jalan untukku agar bisa menginap di tempat ini. Aku harus melakukannya!” gumam Juan meyakinkan dirinya.
Ia menatap sejenak ke arah meja resepsionis. Memikirkan kata-kata yang hendak ia berikan pada si penjaga. Setelah merasa yakin dengan persiapan yang ia lakukan. Juan melangkah maju kembali mendekat pada meja resepsionis. Wanita itu langsung menyambutnya kembali dengan senyuman tipis.
“Iya, tuan? Ada yang bisa dibantu? Apa anda berubah pikiran?” tanya wanita penjaga.
“Wajahmu kuperhatikan seperti cahaya bulan purnama. Aku melihat cahaya indah dari wajahmu. Senyuman manismu membuatku berubah pikiran. Aku mengurungkan niatku untuk mencari tempat lain. Wajahmu membuatku terpaku hingga tak dapat berpaling dari tempat ini. Aku benar-benar ingin sekali menginap di sini. Bisakah kau memberikanku kunci kamar itu? Dengan harga 25?” ujar Juan mencoba merayu.
Wanita itu tersenyum lebar. Juan merasa senang, usahanya akhirnya membuahkan hasil. Ia akan segera mendapatkan kunci kamar dan harga yang murah untuk menginap malam ini.
“Usaha yang cukup bagus, tuan. Ini kunci kamarmu, harganya 499,” ujar wanita itu sambil memberikan kuncir kamar pada Juan.
Juan terkejut mendengar perkataan si penjaga. Ia tak menyangka harganya hanya turun 1 saja dari 500. Padahal ia sudah berusaha menahan malunya untuk mencoba merayu penjaga itu, tapi usahanya tak memberikan dampak yang signifikan. Melihat wajah Juan yang tampak percaya, wanita penjaga itu malah tertawa terbahak-bahak.
Wanita itu merasa puas dan senang sudah bisa mempermainkan Juan. Juan merasa malu karena sudah dipermainkan oleh wanita itu. Ia pun hendak pergi dari penginapan itu. Sambil menahan rasa malu, ia pun membawa barang-barangnya pergi. Akan tetapi, wanita itu memanggil Juan agar kembali.
“Tuan mau ke mana? Maafkan aku sudah tertawa di depanmu. Ini kuncimu, tuan. Silahkan.”
“Tidak perlu! Aku lebih baik tidur di pinggir jalan saja. Setelah aku dibuat malu olehmu, kini aku harus tinggal di sini semalam dengan perasaan malu? Tidak akan!” ujar Juan kesal.
“Ya sudah kalau anda tidak mau. Aku tidak akan memaksa kau untuk mengambil kamar kosong yang telah kuberikan padamu. Meski dengan harga 25, kau masih ingin tidur di jalanan? Ya sudah, itu pilihanmu. Aku tidak bisa memaksa. Aku simpan lagi kunci ini kalau begitu.”
Juan tak punya pilihan lagi. Sambil menahan malu, ia berjalan kembali dan mengambil kunci itu dari meja resepsionis. Si wanita itu mencoba memasang wajah tersenyum meledek Juan. Merasa puas sudah mengerjai Juan. Juan pun tak tinggal diam.
“Sekali lagi kau lakukan itu padaku. Akan kubuat wajahmu tersenyum terus untuk selamanya,” balas Juan.
Bersambung