Pemilik Bar yang Kikir

1151 Kata
Keheranan terus menyelimuti pikirannya Juan. Dirinya merasa jawaban yang diberika bartender tidak sepenuhnya benar. Ada hal yang masih janggal yang membuat pikirannya tak bisa tenang begitu saja. Juan mencoba mencari tahu jawabannya sendiri dengan melihat ke sekitar. Ia memperhatikan tiap orang yang ada di sana. Melihat gelas yang mereka gunakan untuk minum. Dugaannya tak meleset, begitu melihat orang di dekatnya mengangkat gelas, terlihat jelas kalau isi dari gelasnya merupakan minuman keras. Juan semakin merasa bingung, kenapa dirinya tak diberikan minuman itu sedangkan pengunjung lain diberikan. Juan hanya bisa meminum air perasan lemon sambil menggaruk kepalanya. Adaptasi dengan kebiasaan baru yang ada di kota ini. Kota yang mungkin memiliki peraturan berbeda dengan kota lainnya. Mengharuskan Juan terbiasa dengan segala peraturan yang ada dan dibuat di kota ini. Juan yang sedang menikmati minumannya pun teringat tentang tempat tinggal yang belum ia dapatkan. Ia lantas mencoba menanyakan perihal tempat tinggal pada si bartender. “Oh, ya, kau tahu ada tempat kosong untuk ditinggali di dekat sini? Aku belum menemukan tempat tinggal yang cocok.” “Kau ingin menginap atau menetap tinggal di sini seterusnya?” “Aku butuh tempat tinggal. Aku akan menetap di sini dalam jangka waktu yang lama.” “Aku tidak tahu. Kau salah bertanya padaku kalau soal itu.” “Kalau begitu, bisakah kau tunjukkan di mana tempat penyewaan kamar? Hotel? Motel? Yang bisa aku gunakan untuk beristirahat satu atau dua malam sampai aku menemukan tempat yang pas untuk kujadikan tempat tinggal?” “Aku tidak yakin kau akan menyukainya, tapi kalau kau memaksa aku akan memberitahumu di mana lokasi yang kau maksud.” Juan tampak senang mendengar jawaban bartender. Ia tidak harus tidur di pinggir jalan untuk malam ini atau menghabiskan uangnya di bar. Minum-minuman keras hingga mabuk dan tersedar keesokan harinya. “Kau keluar dari tempat ini lalu ambil jalan ke arah kiri. Tempatnya dua blok dari sini. Kau akan menemukan tempatnya. Pesanku padamu jika kau memang tertarik dan akan menginap di sana. Pintar-pintar lah bernego agar kau mendapatkan harga yang pas dengan kantongmu. Apa kau mengerti?” kata si bartender. “Terima kasih banyak. Itu sangat membantu. Aku akan ingat pesanmu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih banyak.” Juan bisa bernafas lega sekarang. Ia punya gambaran setelah dari sini harus pergi ke mana. Tak harus berjalan tanpa arah. Ia kemudian kembali menikmati minumannya. Suasana bar pun kian ramai oleh orang-orang yang datang. Silih berganti dengan orang-orang yang keluar dari tempat tersebut. Tak berselang lama datanglah tiga orang yang masuk ke bar tersebut. Penampilan mereka mencirikan kalau mereka berandal yang ada di sana. Mereka hendak menagih iuran pada pemilik bar. Terlihar dari gelagat mereka yang mencoba menakuti pemilik bar dengan tampang dan senjata yang mereka bawa. Berbeda dengan mafia yang lebih rapi dari segi penampilan, mereka lebih cocok dikatakan seperti berandalan yang ingin mencari nama. Juan mencoba menghiraukan kedatangan mereka bertiga. Sementara bartender pergi untuk memanggil sang pemilik bar. Pemilik bar pun keluar sambil membawa dompet. Ketiga berandalan tadi pun berjalan mendekati meja bartender. Mereka dengan semena-mena mengusir beberapa pengujung yang sedang minum. Terkecuali Juan yang posisi duduknya agak di pinggir meja. “Bayar sekarang atau kuhancurkan tempat ini! Kau sudah kuberikan kebaikan dengan membolehkanmu buka pada siang hari. Harusnya kau membalas kebaikanku dengan memberikan iuran tepat waktu,” ujar salah seorang berandalan itu. “Ma-maafkan saya, ta-tapi uang nya belum cukup untuk membayar iuran bulan ini. Saya baru punya segini. Jika anda berkenan, saya hanya bisa memberikan segini dulu. Nanti kalau sudah ada uangnya, saya akan bayar lunas,” kata pemilik bar sembari memperlihatkan uang yang ia miliki. Berandal itu pun mengambil uang tersebut. Ia lalu menghitung uang tersebut lembar demi lembar. Hingga tiba pada lembaran terakhir dan ia selesai menghitung. Wajahnya tampak marah dengan hasil yang ia dapat hari ini dari pemilik bar. Sambil menggebrak meja ia berkata, “Kau kira ini cukup untuk membayar kebaikanku?!! Bulan kemarin saja kau nunggak! Kalau begini terus, aku akan membiarkan polisi-polisi korup itu mengambil alih! Biar kau diperas habis-habisan oleh mereka.” “Ja-jangan, maafkan saya. Saya berjanji akan segera melunasinya. Beri saya waktu untuk membayar sisanya,” ujar pemilik bar seraya memohon. “Baiklah, aku beikan kau waktu. Tapi kalau sampai batas yang ditentukan kau tidak juga membayar. Aku pastikan kau akan menyesal. Kau tinggal pilih, aku yang pegang tempat ini atau polisi-polisi korup di luar sana yang ambil alih. Camkan itu!” Puas menebar ancaman pada pemilik bar, kelompok berandalan itu pun pergi. Pemilik bar tampak menyeringai begitu mereka keluar dari bar. Ia kemudian masuk kembali ke ruangannya. Juan yang melihat hal tersebut pun bertanya. “Ada apa? Apakah mereka orang yang kerap meminta iuran di tempat ini?” tanya Juan pada bartender. “Iya, mereka kerap datang ke tempat ini untuk menagih iuran bulanan.” “Apa kalian tidak mampu untuk membayar yang merek pinta? Bukankah kuperhatikan tempatmu ini ramai? Kenapa si pemilik bar mengatakan kalau ia tak memiliki uang yang cukup. Apa karena iuaran yang mereka minta terlalu mahal?” “Tidak, justru pemilik bar ini juga licik. Mereka meminta paling hanya sedikit dari pendapatan yang bisa ia dapat. Kalau dihitung, mungkin satu hari pendapatan di tempat ini sudah cukup untuk membayar iuran yang mereka minta.” “Hah? Kalau begitu, kenapa ia tak membayarkannya saja? Bukankah kalau ia mampu membayar tepat waktu dan sesuai dengan nominal yang mereka pinta, ia tak harus memohon-mohon pada mereka. Kedatangan mereka juga kurasa cukup mengganggu para pengunjung lain.” “Aku sudah lelah mengatakan hal yang sama dengan apa yang kau katakana barusan. Pemilik tempat ini terlalu pelit untuk mengeluarkan sejumlah uang yang bahkan sangat kecil. Pada akhirnya, aku juga yang harus membayar iuran mereka dengan gajiku. Ketimbang harus terus-terusan diganggu oleh mereka. Toh, pemilik tempat ini tidak akan peduli dengan kenyamanan pelanggan. Yang ia tahu hanya mendapatkan uang sebanyak-banyaknya,” kata bartender. Juan awalnya menaruh simpatinya pada tempat ini. Ia berniat untuk membantu pemilik bar dan memberikan pelajaran pada para berandal itu. Akan tetapi, setelah mendengar perkataan dari bartender tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengurungkan niatnya untuk membantu. Meski tak sepenuhnya percaya pada apa yang dikatakan bartender, tapi kali ini yang ia katakan lebih masuk akal. Hari beranjak sore, Juan cukup lama menghabiskan waktunya di bar tersebut. Ia pun memutuskan untuk pergi menuju ke tempat penginapan yang sudah ditunjukkan oleh si bartender. Sebelum hari gelap, ia harus sudah menemukan tempat penginapan tersebut. Ia pun bangkit dan membayar minuman yang ia minum. Tapi ditolak oleh bartender dengan alasan minuman selamat datang untuk Juan dan itu gratis. Juan merasa senang dengan hal itu, ia pun berjalan keluar dari bar tersebut. Juan berjalan ke arah kiri sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Ia berjalan terus hingga melalui dua blok dari bar. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat penginapan yang dimaksud. Hingga akhirnya ia menemukan tempat penginapan tersebut. Ia pun agak tercengang melihat penampakan penginapan itu dari luar. Tak punya pilihan, ia pun tetap masuk ke dalam penginapan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN