Juan yang terlalu lama terpaku di tengah jalan, membuatnya tertabrak seorang anak yang sedang mengayuh sepeda. Anak tersebut sampai terjungkal mencoba menghindari Juan tapi tak bisa. Juan terserempet anak tersebut yang membuatnya terkejut. Suara tabrakan itu cukup mencuri perhatian dari sekitar. Juan kemudian segera menghampiri anak yang terjatuh itu dan membantunya untuk bangun.
“Maafkan aku, kau tidak apa-apa, Nak?” tanya Juan sambil membangunkan sepedanya dan membantu anak itu untuk bangkit.
“Aku tidak apa-apa, Pak. Apa kau orang baru di sini? Aku baru melihatmu hari ini,” tanya balik anak tersebut.
“Iya, aku baru saja pindah ke kota ini.”
“Oh begitu, maaf membuat kesan pertama yang tak bagus untuk orang baru sepertimu. Lain kali cobalah untuk berhenti di tepi jalan. Atau kalau memang tak punya lagi harapan untuk tetap hidup, cobalah menunggu ada truk atau mobil lewat sebelum menabrakkan dirimu.”
“Maksudmu, Nak?” Juan tak mengerti dengan apa yang dikatakan anak tersebut.
Tiba-tiba terjadi kecelakaan lalu lintas tak jauh dari tempat mereka berdua berbincang. Seorang pria paruh baya tertabrak oleh kendaraan roda empat. Suaranya kecelakaan tersebut cukup kencang untuk sekedar menarik perhatian dari warga setempat. Warga kemudian berbondong-bondong menyingkarkan mayat dari pria itu agar tidak terjadi kemacetan.
“Kira-kira begitulah yang kumaksudkan. Sekarang anda paham?” ujar anak itu sambil menunjuk ke tempat kecelakaan.
“Oh tidak, aku tidak berniat melakukan hal itu. Aku benar-benar dalam keadaan kaget tadi. Hingga membuatku agak termenung sejenak. Tapi bukan karena sudah putus asa aku melakukan hal seperti tadi,” kata Juan.
Anak kecil tersebut kemudian merapikan barang-barang yang ia bawa. Semuanya berserakan di jalan. Juan mencoba membantunya dan memasukkan barang-barang itu kembali ke tempat semula. Hingga tanpa Juan sadari, seorang polisi berjalan menghampirinya.
“Apa kau mengganggu anak ini?” tanya polisi tersebut pada Juan.
Juan menoleh ke arah suara dan menemukan seorang polisi dengan seragam lengkap tengah berdiri. Bertanya ke arahnya tentang apa yang baru saja terjadi dan apa yang sedang Juan lakukan bersama anak tersebut.
“Tidak, Pak. Aku sama sekali tidak mengganggu anak ini. Anak ini kebetulan menyerempetku yang sedang bengong hingga membuatnya terjatuh dari sepeda. Aku hanya sedang membantunya untuk merapihkan barang-barang yang ia bawa,” sahut Juan.
Polisi itu tak lantas percaya dengan apa yang Juan katakan. Ia lantas kembali bertanya pada anak kecil itu, memastikan kalau apa yang Juan katakan bukan suatu kebohongan yang dibuat-buat oleh Juan untuk menghindari dirinya dari berurusan dengan polisi.
“Hei, Nak! Apa kau benar tidak apa-apa? Pria ini tidak sedang mengganggu pekerjaanmu, kan? Katakan saja yang sebenarnya dan jangan ada yang ditutupi. Kalau memang benar pria ini melakukan sesuatu padamu. Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi setelah ini,” tanya lagi si polisi.
“Tidak, Pak. Aku hanya terkejut ketika melihatnya termenung di jalan yang aku lalui. Aku sudah mencoba untuk meneriakinya tapi tak berhasil. Alhasil aku harus terjatuh akibat menghindarinya.”
“Baiklah kalau begitu. Aku rasa semuanya sudah aman di sini. Dan kau pria baru! Jangan coba halangi anak ini dari pekerjaannya atau kau akan menyesal!” polisi itu memberikan peringatan pada Juan.
Juan hanya mengangguk dengan peringatan yang diberikan kepadanya. Sebelum polisi itu pergi, anak itu memberikan sejumlah uang padanya. Polisi itu dengan senang hati menerimanya lalu pergi. Juan tampak bingung kenapa anak itu memberikan uang pada polisi itu. Begitu ia melihat sebuah paket yang tercecer tak sengaja di jalan. Barulah ia menyadari kalau anak ini merupakan bagian dari kurir barang haram di tempat tersebut.
Barang-barang yang sempat berserakan di jalan termasuk barang haram dan uang hasil penjualan sudah dikutip semua oleh anak tadi. Anak itu pun menaiki sepedanya dan berniat pergi meninggalkan Juan yang masih terdiam. Begitu melihat anak itu hendak pergi, ia lalu mencoba bertanya tentang siapa anak tersebut.
“Kau mau ke mana?” tanya Juan.
“Aku harus buru-buru. Sudah terlambat untuk mengantar barang ini,” jawab anak itu lalu mengayuh sepedanya pergi.
Juan mengejarnya lalu berteriak ke arah anak itu, “ Siapa namamu, Nak?”
“Arthur,” jawab anak itu yang semakin menambah kecepatan kayuhannya.
Juan yang sudah mengetahui nama anak tersebut pun berhenti mengejarnya. Ia mengambil barangnya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Juan mencari sebuah tempat untuknya menginap malam ini. Sambil terus melihat-lihat tempat yang bisa ia sewa dan jadikan tempatnya tinggal. Ia berjalan terus hingga menemukan sebuah tempat menjual minuman yang sudah buka.
Bar tersebut buka berbeda dengan bar pada umumnya. Juan merasa kembali heran, padahal hari masih pagi menjelang siang. Tapi kenapa bar tersebut sudah buka. Masih banyak anak-anak kecil yang bermain. Juan yang penasaran pun memutuskan untuk singgah untuk beristirahat. Ia pun masuk ke dalam bar tersebut.
Di dalam bar, suasananya cukup ramai oleh para pengunjung yang datang. Banyak dari mereka yang berkumpul dengan berkelompok ada juga yang hanya seorang diri datang ke tempat itu. Juan kemudian melangkah mendekati meja bartender. Ia hendak memesan minuman. Akan tetapi, begitu minuman keras yang hendak ia pesan, justru ia tak dilayani oleh bartender.
“Aku pesan cocktail terbaik di tempat ini,” ujar Juan di depan meja bartender.
“Aku tidak menjual yang kau maksud. Jika kau mencari minuman itu, pergilah ke tempat yang lain. Tempat ini tidak menyediakan barang itu,” kata bartender.
Juan memasang wajah bingung sekaligus heran. Tanda tanya besar memenuhi kepalanya. Bagaimana mungkin tempat ini tidak menyediakan minuman alkohol. Sementara dari luar saja tampilan tempat ini seperti bar pada umumnya yang menyediakan minuman-minuman keras.
“Bagaimana mungkin kau tidak menjualnya? Dari luar tempat ini tampak seperti club malam dan bar-bar pada umumnya. Kenapa justru tidak menjual minuman beralkohol?” tanya Juan heran.
“Kelihatannya memang tempat ini seperti itu. Tapi percayalah, kami tidak menjualnya, Bung. Kau orang baru di sini, ya? Jika iya, wajar kau tidak tahu hal tersebut.”
“Lalu kenapa kau tidak mengubah saja tampilan tempat ini? Agar tidak membuat bingung orang baru sepertiku. Aku pun masih tak percaya ada bar yang buka sore hari seperti ini. Padahal, anak-anak masih bermain tak jauh dari tempat ini.”
“Aku pun ingin tempat ini dirubah penampilannya, tapi pemilik tempat ini belum melakukannya. Ia beralasan, butuh biaya besar untuk merubah total tempat ini. Aku hanya bekerja di sini. Jadi, aku hanya melakukan pekerjaanku saja.”
“Baiklah kalau begitu. Bisakah kau berikan aku minuman yang cukup menyegarkan? Aku merasa kehausan habis berjalan tadi,” pinta Juan.
“Tunggu sebentar. Akan kusiapkan untukmu.”
Juan pun duduk di depan meja bartender. Duduk pada bangku tinggi yang tersedia. Sambil menunggu minumannya dibuat, ia melihat sekeliling bar tersebut. Melihat dekorasi dan pernak-pernik yang ada di dalamnya. Cahaya lampu yang agak redup seolah menambah kesan tempat ini menjual minuman keras seperti dugaan Juan. Hanya cahaya matahari sebagian yang masuk, membuat tempat ini agak terlihat terang.
Dirinya terus memandangi sekeliling. Hingga minuman yang ia pesan pun sudah selesai dibuatkan dan sudah tersaji di depanya. Juan pun segera meminumannya, menghilangkan dahaga yang menghinggapi dirinya sejak tadi.
Bersambung