Perjalanan Juan menuju kota terpencil pun dimulai. Di bawah cahaya rembulan, bus yang ia naiki berjalan. Baru beberapa menit berjalan belum melewati kota, bus tersebut kembali berhenti di sebuah halte. Ada penumpang yang naik, mungkin yang terakhir untuk hari ini. Belum sempat penumpang tersebut duduk, bus langsung melaju. Mengakibatkan pria tersebut agak terjungkal, tak bisa menjaga keseimbangannya.
Pria itu menyenggol penumpang lain yang berakibat penumpang tersebut tak terima dengan yang dilakukan oleh pria itu. Terjadi sedikit percekcokan di antara mereka. Akan tetapi, tidak ada yang ikut campur untuk memisahkan mereka. Penumpang lain memilih untuk acuh dengan apa yang terjadi. Sedang Juan, ia tampak memerhatikan mereka berdua.
Keduanya terus terlibat cekcok hingga sama-sama saling meninggikan suara. Pihak yang satu meminta pria itu meminta maaf karena sengaja menyenggolnya. Sedangkan si pria enggan melakukan hal tersebut. Sebab, itu bukan murni kesalahannya. Perdebatan tak berujung pun berakhir pada sebuah perkelahian.
Keadaan di dalam bus mulai tak terkendali. Mereka berdua yang ribut dan akan segera berkelahi. Tak mendapat perhatian lebih dari penumpang lainnya. Hingga ketika Juan hendak melerai mereka, tiba-tiba bus berhenti mendadak. Membuat dua pria itu langsung saling bertabrakan. Akibat tak bisa menyeimbangkan tubuh mereka masing-masing.
“Kalian kalau masih ingin ribut dan menyelesaikan dengan cara berkelahi. Selesaikan nanti saja begitu sampai di tujuan. Aku tidak akan membiarkan ada hal yang membuat perjalanan bus ini tertunda. Kalau kalian tidak bisa mendengarkan peringatan dariku. Lebih baik kalian turun saja! Bus ini tidak terlalu membutuhkan orang seperti kalian!” tegur sopir bus memarahi mereka berdua.
Mereka yang mendapat teguran dari sopir, menyudahi pertikaian mereka. Masing-masing duduk di tempatnya. Bus pun dapat kembali berjalan setelah sempat tertunda beberapa saat. Malam semakin larut, Juan diliputi rasa kantuk. Ia pun mencoba tertidur di dalam bus tersebut. Berharap ketika bangun, bus sudah sampai di tujuannya.
Matanya perlahan-lahan mulai terpejam. Hingga benar-benar menutup dan membawanya masuk ke dalam dunia mimpi. Juan kembali mengalami hal buruk. Sial baginya karena sekarang ia tidur dalam perjalanan. Mimpi buruk yang datang tak tepat waktu. Juan harus menjalani mimpi buruk ini kembali sampai sesuatu membangunkannya.
Juan mengigau dan tubuhnya mulai bergerak-gerak. Juan terus berteriak memanggil nama sang adik ketika tengah tertidur. Suaranya cukup keras, bisa terdengar oleh hampir seluruh penumpang bus. Penumpang yang mayoritas sudah tak memiliki semangat untuk hidup, mereka tak terlalu memperdulikan Juan. Bahkan suara mengigaunya yang sangat mengganggu pun tak mereka hiraukan.
Bus pun terus melaju melalui batas paling luar kota. Melaju di jalan yang belum pernah Juan lalui. Hingga pagi hari pun tiba dan bus yang Juan tumpangi pada akhirnya tiba di tujuan terakhir. Begitu bus benar-benar berhenti, satu per satu dari penumpang turun. Meninggalkan Juan yang masih tertidur di tempat duduknya. Tak ada satu pun yang membangunkannya. Hingga bus selesai menurunkan penumpang dan hendak melanjutkan perjalanan.
Sang sopir melihat Juan yang masih tertidur dari kaca spionnya. Ia kemudian berteriak ke arah Juan. Tapi tak ada jawaban dari Juan. Ia tetap saja terlelap dalam tidurnya. Sang sopir yang sudah kesal tak mendapatkan respon, didatangi oleh sang sopir. Sambil berjalan dalam keadaan marah sopir bus kemudian menepuk pundak Juan.
Juan akhirnya tersadar dari mimpi buruknya. Ia terjaga dalam keadaan terkejut. Matanya langsung terbuka terbelalak. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Nafasnya tak beraturan seperti habis dikejar oleh sesuatu.
“Marco!” teriak Juan begitu bangun dari tidurnya.
“Aku tidak ada urusan dengan Marco atau siapa pun orang yang kau sebut itu. Satu-satunya urusanku denganmu adalah kau harus turun dari busku. Kita sudah sampai! Hanya tinggal kau yang ada di sini!” ujar sang sopir.
“Ma-maafkan aku. Baiklah aku akan segera turun. Berapa aku harus bayar?” tanya Juan sambil merogoh sakunya.
“Bayaran? Kau sudah tak memiliki harapan untuk hidup pun masih memikirkan bayaran? Tidak ada bayaran untuk perjalanan kali ini. Aku secara sukarela membawa bus ini. Kau tidak perlu khawatir.”
“Terima kasih banyak kalau memang benar. Selamat tinggal.”
Juan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari bus. Bus kemudian berjalan memutar balik kembali ke kota. Juan diturunkan di pinggiran kota tersebut. Ia harus berjalan lagi beberapa menit untuk sampai di pusat kota. Kota yang kecil tersebut tak memiliki wilayah yang cukup luas. Tak butuh waktu lama bagi Juan untuk berjalan dari tempatnya turun menuju ke pusat keramaian.
Sebuah mobil polisi tampak menyambut kedatangan Juan. Dirinya ditatap dengan tatapan agak kurang mengenakan. Polisi tersebut seperti sedang mengawasi gerak-gerik Juan. Juan mencoba untuk tetap tenang. Berjalan seperti penumpang lainnnya yang baru turun. Ia bersama yang lain terus berjalan memasuki kota.
Begitu tiba di pusat keramaian kota, Juan melihat kehidupan yang normal. Dirinya melihat sekeliling. Tak ada bangunan yang menjulang tinggi mencakar langit. Kota tersebut terpencil tapi sudah cukup modern. Kebanyakan hanya bangunan tempat tinggal seperti rumah, motel, hotel, dan sisanya kios dan ruko-ruko minuman. Kota yang ramai di siang hari dan bisa berubah gemerlap pada malam hari.
Juan berjalan-jalan mengelilingi tempat tersebut, sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Ia mencoba membaca situasi sekitar sambil melihat tempat yang bisa ia jadikan tempat tinggal. Juan melihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Ia merasa cukup senang karena, meski tempat ini terkenal dengan kota bagi orang-orang yang putus asa. Tapi tetap ada anak kecil yang bisa hidup dan bermain di tempat ini. Menandakan masih ada segelintir orang yang memiliki harapan untuk hidup.
Ia terdiam sejenak melihat anak-anak kecil yang sedang bermain. Pandangannya kemudian berubah melihat ke arah seorang anak yang sedang menaiki sepeda. Awalnya ia mengira anak tersebut seperti anak se usianya yang sedang menikmati menaiki sepeda. Tapi setelah Juan mencoba melihat lebih jelas lagi, baru ia menyadari satu hal. Anak tersebut sedang melakukan sebuah transaksi.
Juan melihat anak itu sedang memberikan sebuah paket yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Paket yang dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Lalu orang yang diberikan paket tersebut memberikan sejumlah uang. Juan tak menyangka anak se kecil itu sedang melakukan transaksi barang haram. Ia melihat sekitar anak tersebut, tak jauh dari tempatnya melakukan transaksi. Terlihat sebuah mobil polisi yang sedang terparkir.
Ia mulai merasa ada yang tak beres dengan tempat ini. Dirinya terus saja meliha anak itu dengan fokus. Hingga anak itu selesai bertransaksi dan pergi dari tempat tersebut. Anak itu melalui mobil polisi yang Juan lihat. Ia menduga ini adalah akhir perjalanan anak tersebut menjadi kurir barang haram. Tapi di luar dugaan, justru anak tersebut malah menyetorkan sejumlah uang pada oknum polisi tersebut. Setelah itu anak itu pergi sambil mengayuh sepedanya.
Juan hanya terdiam melihat kejadian itu. Tak bisa menyangka anak kecil menjadi kurir sedang polisi yang ada hanya menerima suap dari anak itu. Pemandangan selamat datang yang ia terima dari kota bernama Los Pareles.