Waktu demi waktu terus berjalan. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Sudah hampir satu tahun lamanya sejak kejadian besar yang menimpa hidup Juan. Hampir setiap hari, ia menjalani rutinitas yang sama. Bangun di siang hari lalu pergi mencuri makanan dan minuman ke minimarket atau supermarket yang berbeda-beda.
Ketika waktu sore hingga malam tiba ia habiskan termenung di halte bus. Kadangkala ia selingi dengan berbincang dengan orang. Begitu kembali ke tempat persembunyiannya, ia beristirahat. Hampir tiap malam selama satu tahun, ia tak pernah lepas dari obat penenang. Jika ia melewatkan malam tanpa meminum obat penenang, ia akan mengalami mimpi buruk.
Kondisi fisiknya pun telah banyak mengalami perubahan. Rambut yang tumbuh semakin panjang, serta janggut dan kumis yang semakin tebal. Membuat wajahnya kini tak lagi dikenali oleh orang. Ia bisa keluar dengan bebas tanpa harus memikirkan penyamaran lagi. Poster-poster yang mencari tentangnya pun sudah banyak yang rusak dan tanggal dari tembok. Orang-orang sudah banyak menganggap, mencari dirinya sama saja mencari jarum di dalam tumpukkan jerami.
Juan kini merasa hidupnya sudah lebih tenang semenjak orang-orang terkhusus para mafia tak lagi mencarinya. Ia bahkan mulai hidup normal layaknya orang-orang pada umumnya. Hal-hal yang baik maupun buruk yang terjadi di depannya ia anggap menjadi hal yang biasa. Ia juga sudah tak terlalu tertarik lagi dengan dunia mafia dan hal-hal yang berbau perkelahian.
Ia sudah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri sekarang. Meski tiap malam masih harus bergulat dengan mimpi dan kenangan buruk masa lalu. Ia sudah merasa lelah menjalani hidup sebagai seorang mafia. Pertimbangan dan pemikiran yang sudah lama ia lakukan akhirnya berbuah keputusan. Di halte bus biasa ia menunggu, ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari kota ini.
Menaiki bus putu asa ke tujuan terakhir dari orang-orang yang tak lagi memiliki asa dalam hidup. Bagaimana nantinya ia di sana, Juan tak terlalu merisaukannya sekarang. Ia hanya ingin memulai kehidupannya yang baru di sana. Meski sesekali masih terbesit bagaimana caranya membalaskan dendam pada El-Chapo atas kematian adiknya.
“Mau sampai kapan aku harus begini terus. Bersembunyi dari balik identitas sebagai mantan ketua mafia. Aku harus segera berdamai dengan diriku sendiri dan memulai hidup yang baru. Sebagai orang yang biasa saja. Aku harus bisa menerima kenyataan dan memulai lembaran hidup yang baru. Perihal bagaimana dendamku akan terbalaskan, biarkan waktu yang menjawab,” gumam Juan yang duduk di halte bus.
Juan menatap lurus ke arah jalan dengan tatapan kosong. Membiarkan pikirannya sibuk memikirkan pilihan terbaik untuk ia ambil ke depannya. Rasa bingung terus saja menggelayutinya. Hingga pilihan semakin abu-abu buatnya. Pada akhirnya, Juan tetap memutuskan untuk meninggalkan kota ini dan pergi ke kota yang baru dan memulai hidupnya yang baru.
Meksi dengan keraguan di dalam hatinya. Karena rasa nyaman hidup di sini sudah ia rasakan. Ia pun tetap mengambil keputusan. Juan bangkit lalu pergi dari halte bus tersebut. Berjalan kembali ke tempat persembunyiannya. Ia hendak melakukan persiapan sebelum pergi dari kota ini.
Begitu persiapannya sudah selesai ia lakukan. Juan menunggu hari berganti. Di dalam persembunyiannya, ia mencoba untuk tidur dan beristirahat. Ia mencoba untuk tidur tanpa mengkonsumsi obat penenang. Ia mencoba untuk melepaskan dirinya dari ketergantungan pada obat-obatan. Tak bisa ia selamanya hidup terperanguh oleh obat.
Tanpa Ia sadari, dirinya pun terlelap. Melalui malam begitu saja tanpa meminum obat penenang. Tak terjadi apa-apa selama Juan tidur. Ia tak merasakan mimpi buruk itu datang. Hingga ia terjaga dari tidurnya dan terkejut ketika melihat obat penenang yang ada di tangannya lupa ia minum. Dirinya merasa beruntung, malam tadi bisa tidur dengan nyenyak. Tak harus minum obat dan tak harus menjalani mimpi buruk.
Juan bangun begitu matahari sudah meninggi. Ia menunggu keadaan agak teduh. Suasana hari beranjak sore mendekati malam. Barulah ia keluar dari tempat persembunyiannya selama ini. Ia membawa beberapa pakaian hasil curiannya selama satu tahun. Meninggalkan beberapa pasang lainnya. Ia lalu berjalan keluar menuju ke halte bus dengan perasaan yang sudah yakin.
Hari pun perlahan memasuki malam. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Bangunan-bangunan pun mulai memasuki mode malam hari. Rembulan mengambil tugasnya menghiasi langit. Juan telah tiba di halte, tengah menunggu datangnya bus. Sambil terus meyakinkan dirinya.
Mendekati jam kedatangan bus tersebut. Juan bersiap untuk segera naik. Melirik ke arah jalan, mencari bus tersebut. Tapi ia tak melihat bus tersebut datang. Juan mulai cemas, takut bus tersebut tak lewat malam ini. Juan kembali duduk menunggu bus tersebut, ia menghitung kembali jadwal keberangkatan bus tersebut. Memastikan hari ini dan jam sekarang merupakan waktu yang tepat.
Beberapa jam berlalu, hari pun semakin larut. Juan mulai putus asa. Ia seperti mendapat pertanda untuk tetap tinggal di kota ini dan menghabiskan sisa hidup di tempat ini. Juan kemudian bangkit dan hendak berjalan meninggalkan halte tersebut. Begitu baru akan melangkah, terlihat sebuah lampu kendaraan yang begitu terang menyinari. Lampu kendaraan tersebut terlihat mendekat ke arahnya.
Secercah harapan untuk Juan kembali timbul. Ia kembali bersemangat menunggu kedatangan bus tersebut. Ia yakin cahaya lamput itu merupakan bus putus asa yang akan ia naiki. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih bersiap naik di tepian halte. Tak berselang lama bus yang ia tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Ia merasa lega akhirnya penantiannya sejak tadi tak mengecewakan. Padahal sebelumnya ia sudah hampir berputus asa.
Bus pun berhenti tepat di depan Juan. Sang sopir membuka pintu otomatis bus. Juan dengan senyum tipis melangkah masuk ke dalam. Akan tetapi, langkahnya tertahan sejenak. Ia mendadak teringat pada sosok pria yang kerap menemaninya selama ini. Ia hendak berpamitan sebelum benar-benar pergi dari kota ini. Juan pun menoleh ke sana kemari mencai keberadaan pria itu. Tapi tak kunjung datang.
Sopir bus yang tak sabar menunggu Juan pun menegurnya agar segera naik. Bus akan segera berangkat. Ia tak bisa lama hanya untuk menunggu Juan.
“Cepatlah naik! Aku tidak dibayar untuk menunggu orang yang putus asa sepertimu untuk naik!” tegur sang sopir dengan nada agak meninggi.
“I-iya, Pak. Tunggu sebentar,” sahut Juan menjawab teguran sang sopir bus.
“Kemana perginya dirimu wahai orang aneh! Bahkan dalam keadaan seperti ini kau justru menghilang,” gumam Juan.
Tak menemukan keberadaan si pria, Juan pun melangkah masuk. Perpisahan tak jadi ia lakukan. Begitu masuk menaiki bus, Juan melihat pemandangan yang mengejutkan. Ia melihat wajah-wajah dari penumpang bus yang benar-benar jauh dari harapan. Wajah mereka seolah tak memiliki semangat lagi untuk hidup.
Hal yang pada akhirnya membuat Juan menyadari kenapa bus tersebut dinamai bus putus asa. Sebab, orang-orang yang menaikinya adalah mereka yang sudah berputus asa dalam hidupnya. Juan pun segera mencari tempat duduk yang kosong untuknya. Ia duduk di kursi yang dekat jendela. Bus pun berjalan tepat setelah Juan duduk.
Juan melihat ke luar jendela. Menikmati malam terakhir di kota tersebut. Selang beberapa menit bus tersebut melaju. Juan melihat pria tersebut berada di tepian jalan sedang berdiri. Pria itu pun menatap ke arah Juan sambil tersenyum. Seolah-olah pria itu tahu jika Juan akan pergi dan berpisah dengannya malam ini. Pria itu melambai ke arah Juan dan dibalas juga olehnya. Lambaian tangan keduanya menjadi salam perpisahan.
Bersambung