Juan berjalan menyusuri tiap lorong hingga ia akhirnya menemukan jalan keluar. Dia kemudian menyusuri tepi jalan besar hingga tibalah ia di halte bus. Di halte dirinya sudah ditunggu oleh pria yang berlari meninggalkannya pergi. Melihat pria tersebut, Juan mendekatinya dengan wajah penuh amarah.
“Tunggu sebentar, aku bisa jelaskan semuanya padamu,” ujar pria itu ketika melihat Juan mendekatinya dalam keadaan murka.
“Aku tidak butuh penjelasanmu! Sekarang berikan barangku!” Juan lalu melayangkan tangannya ke arah si pria.
Pria itu mencoba berlindung dengan tangannya. Tangan pria itu menggenggam sebuah kantong plastik yang membuat perhatian Juan seketika terfokus pada barang tersebut. Ia lantas mengurungkan aksinya memukul pria itu. Ia lebih memilih mengambil barang yang digenggam pria itu. Si pria tak bisa menahan Juan untuk mengambil barang itu dari tangannya.
Juan kemudian memeriksa barang yang terdapat di dalam kantong plastik hitam tersebut. Ia ingin memastikan benda yang berada di dalamnya adalah barang yang ia pesan. Begitu selesai memastikan barangnya tepat, Juan berniat segera pergi dari halte tersebut. Akan tetapi, ia dihadang oleh si pria yang meminta imbalan dari Juan.
“Sekarang mana imbalanku? Kau sudah mendapatkan barang yang kau cari. Sekarang berikan imbalan itu padaku,” pinta pria itu sambil berdiri di depan Juan. Menghadangnya agar tak bisa pergi begitu saja.
Juan menghela nafas, lalu mengeluarkan sebuah barang yang dipinta dari dalam kantong plastik yang ia bawa. Begitu hendak memberikannya, pria itu tiba-tiba menolaknya. Membuat Juan bingung dan tak jadi memberikan beberapa batang cerutu seperti yang pria itu harapkan sebagai imbalan.
“Bukan yang ada di kantong itu yang kupinta. Aku meminta imbalanku. Sesuatu yang kumasukkan ke dalam jaketku. Itu milikku. Kumohon kembalikan padaku,” kata pria itu sambil menujuk saku Juan.
Pria itu mendapat tatapan datar dari Juan. Juan kemudian mengeluarkan barang yang dimaksud dari sakunya. Ia kemudian memberikannya pada si pria sebagai imbalan sudah membantunya mendapatkan obat penenang. Juan yang sudah selesai berurusan dengan pria itu pun hendak pergi dari halte. Baru beberapa langkah ia pergi, dirinya tiba-tiba berhenti. Tepat ketika mendengar si pria itu berucap beberapa kata.
“Akhirnya kau kembali ke pelukanku uangku. Aku sangat merindukanmu. Memang orang-orang seperti mereka tak pantas memilikimu,” ucap si pria.
Juan berbalik badan dan kembali mendekati pria itu. Si pria lantas terkejut ketika melihat Juan yang kembali mendekatinya. Dengan wajah datar dan tatapan tajam. Juan seolah meminta penjelasan tentang apa yang sudah terjadi pada mereka.
“Apa? Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu? Kau sudah mendapatkan barangmu, kan? Lalu apalagi? Kenapa kau masih di sini?” tanya si pria dengan wajah gugup.
“Kenapa kau lakukan hal ini? Kau mencari masalah dengan mereka dan melibatkanku di dalamnya. Kau bahkan terkesan menjebakku juga semata-mata untuk kepentinganmu. Apa maksud dari semua ini? Jelaskan semuanya padaku dan aku akan melepaskanmu,” desak Juan.
”Aku tidak bermaskud menjebakmu. Aku hanya berniat membantumu untuk membeli apa yang kau perlukan. Kalau kau merasa aku menjebakmu aku minta maaf. Aku hanya ingin mengambil barangku yang mereka ambil.”
“Barang apa? Uang itu? Jangan-jangan kau memang bagian dari mereka dan sengaja menjebakku untuk kepentinganmu sendiri.”
“Aku memang bagian dari mereka awalnya, lebih tepatnya bekerja untuk mereka. Tapi tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok mereka. Aku hanya ditawari sebagai kurir oleh mereka dan selama menjadi kurir, aku belum mendapatkan hakku. Untuk itu aku ingin mengambil apa yang mereka rebut dariku itu saja. Kau juga sudah mendapatkan apa yang kau cari, kan? Kau tidak menyalahkanku dan menyudutkanku sepihak. Kita sama-sama punya kepentingan. Jadi, tidak ada yang merasa dirugikan di sini. Apa semuanya sudah jelas,” kata pria itu menjawab pertanyaan Juan dengan gamblang.
Juan tak memberikan sahutan apa-apa. Ia pergi begitu saja meninggalkan pria itu di halte. dirinya lebih memilih kembali ke tempat persembunyiaannnya. Hari sudah semakin larut, cepat atau lambat The Son of Lucifer akan mencarinya jika ia masih berada di luar. Barang yang ia butuhkan sudah ia dapatkan. Ia bisa melalui sisa malam ini dengan perasaan tenang.
Setibanya di depan tempat persembunyian, Juan memeriksa sekitar terlebih dahulu. Memastikan kondisi di sekitar tempat persembunyiannya aman tidak diketahui orang. Tidak ada orang yang mengikutinya atau mengintai keberadaannya. Dirasa sudah aman, barulah ia masuk ke dalam. Juan meletakkan barang-barang belanjaannya di atas meja, sedang ia duduk di sofa sambil membawa beberapa kaleng minuman bersoda.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Membuat posisi senyaman mungkin ia bisa. Membakar beberapa batang cerutu. Ia lalu mengeluarkan obat penenang yang susah payah ia dapatkan. Ia memegangi obat tersebut sambil terus berpikir. Perlukah ia mengonsumsi obat tersebut untuk membantunya melalui sisa malam.
Juan sudah terlalu lelah. Ia tak sempat meminum obat penenangnya. Tubuhnya yang sudah sangat letih pun tertidur. Dalam keadaan duduk bersandar pada sofa. Begitu Juan memasuki alam mimpi, ia merasa semuanya tidak akan terulang lagi. Juan merasakan mimpi buruk akan kejadian itu tak akan datang menghantuinya kali ini.
Mimpinya berjalan dengan normal pada awalnya. Juan bisa menikmati mimpi yang datang. Hingga tiba-tiba semuanya berubah. Mimpi buruk itu tiba-tiba datang menyerang. Membuat Juan kembali merasa ketegangan dalam tidurnya. Tubuhnya berkeringat, jantungnya berdegup kencang. Juan menunjukkan reaksi mengigau dalam dunia nyata. Ia terus memanggil nama adiknya hingga tiba-tiba dirinya kembali tersadar dari mimpinya.
Nafasnya tak karuan begitu terjaga dari tidurnya. Mimpi buruk benar-benar menghantuinya. Ia menjadi takut untuk tidur di kala malam tiba. Takut kembali teringat kejadian yang menyakitkan itu menimpa dirinya. Ia pun duduk dengan wajah berkeringat. Jantungnya berdegup dengan kencang.
Ia teringat obat penenang yang sebelumnya ia beli. Tanpa berpikir panjang ia langsung meminum obat tersebut. Berharap obat tersebut segera bereaksi dan memberikan ketenangan pada dirinya. Juan kemudian membuka minuman bersoda yang berada di depannya. Ia meneguk minuman tersebut, tak menghiraukan meski habis meminum obat.
Ketegangan yang ia rasakan perlahan mulai reda seiring dengan obat yang bereaksi di dalam tubuhnya. Jantung yang sebelumnya berdegup kencang, kini sudah perlahan lebih baik. Kondisi Juan perlahan-lahan mulai stabil. Ia pun menghela nafas lega, setelah merasakan ketenangan mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.
Merasa dirinya sudah agak tenang, ia pun berniat keluar dari tempat persembunyian. Sekedar menghirup udara di luar. Ia juga masih penasaran dengan bus putus asa. Ia ingin mengunjungi halte lagi dan berharap bisa bertemu dengan bus tersebut. Juan pun segera bangkit dari sofa, bersiap keluar dari persembunyiannya. Sambil terus memperbaiki penyamarannya.
Selesai dengan penyamaran yang ia lakukan, ia pun segera keluar. Berjalan perlahan-lahan sambil menyalakan cerutu menuju ke halte bus. Dengan harapan bisa bertemu dengan bus putus asa.