Jalan Buntu

1180 Kata
Juan yang terkejut mendengar seseorang berteriak dari arah dalam. Disusul dengan suara langkah kaki yang tampak tengah berlari ke arah luar. Membuat Juan memutuskan untuk ikut lari menyelamatkan diri. Dirinya berlari ke arah yang berbeda dengan pria itu. Mengakibatkan dirirnya juga ikut dikejar oleh beberapa orang di belakangnya.                Pria itu pun bernasib dengan Juan. Ia dikejar oleh beberapa orang lainnya, tapi si pria lebih sigap dan tampak lebih bisa mengelabui gerombolan orang yang mengejarnya. Ia yang hafal medan dan sudah terbiasa melalui tempat itu membuatnya dengan sangat mudah bisa lolos dari kejaran orang-orang yang mengejarnya.                Berbanding terbalik dengan Juan. Ia baru pertama kali ke tempat seperti ini. Tidak tahu tiap jalan dan tiap lorong yang ia lalui. Ia hanya bisa mengikuti instingnya sambil terus berlari. Melalui tiap lorong dan orang-orang yang hanya bisa menyaksikannya berlari. Dikejar orang-orang yang tengah marah karena barangnya dicuri.                “Sampai kapan aku harus berlari seperti ini. Kalau terus-terusan begini aku akan tertangkap. Aku harus segera memikirkan cara untuk memberikan perlawanan tanpa harus diketahui oleh mereka,” gumam Juan sambil terus berlari.                Juan berlari dengan zig zag sambil menjatuhkan beberapa barang yang bisa menghambat orang-orang yang berlari di belakangnya. Ia terus berlari terus sampai lorong yang ia lalui kian sempit. Juan pun akhirnya menemukan penghujung dari lorong yang ia lalui bukan jalan raya terbuka melainkan sebuah tembok. Ia terjebak di jalan buntu.                Pelariannya pun terhenti di lorong tersebut. Ia terpaksa menghentikan langkahnya, menatap ke arah tembok yang menghalangi jalannya. Sementara di belakangnya orang-orang yang mengejarnya pun telah sampai di lorong tersebut. Nafas yang sama-sama terengah-engah di antara mereka. Juan berbalik badan dan mendapati tiga orang berdiri di hadapannya sekarang. Dua di antara mereka membawa senjata tumpul sementara yang satunya tidak membawa apa pun.                Juan mengambil posisi bersiap untuk bertarung dengan mereka. Satu dari ketiganya mencoba mengajak Juan berdialog. Mencoba menghindari pertarungan pecah di antara mereka.                “Kembalikan barang yang kau curi dan kami akan membebaskanmu. Kau tidak punya pilihan lagi. Menyerahlah! Kau sudah terkepung sekarang,” ujar salah satu dari gerombolan.                “Aku tidak mencuri apa pun dari kalian. Yang mencuri itu bukan aku melainkan pria yang lain. Pria itu berlari ke arah yang berlawanan denganku. Kalian harusnya mengejar ia dan meminta barang tersebut darinya dan bukan dari aku. Kalian tidak akan mendapatkan apa pun dariku,” jawab Juan sambil posisi tubuhnya bersiap untuk bertarung.                “Kau pikir aku akan semudah itu percaya dan melepaskanmu begitu saja? Cepat kembalikan apa yang kau curi!”                “Sudah kukatakan dengan jelas bukan aku yang mengambil barang kalian. Aku tidak memiliki apa pun.”                “Oh, ya? Kalau begitu, apa yang ada di saku mu itu? Kau kira kami bodoh dan membiarkanmu pergi dengan barang yang ada di sakumu itu?! Cepat berikan atau kau akan menyesal!”                Juan kemudian memeriksa sakunya dan menemukan uang yang diikat dengan karet. Ia terkejut, tak menyangka ada sesuatu di sakunya. Juan seketika mengingat kejadian ketika pria itu berlari keluar dari dalam. Pria itu sempat berpapasan dengan Juan sebelum menyuruh Juan untuk lari. Juan baru ingat kalau pria itu sempat menarik sakunya. Saat itulah pria itu memasukkan uang yang kini Juan pegang.                Mendapati kenyataan kalau ada barang bukti lain pada dirinya. Juan hanya bisa tertawa kecil. Ia tak menyangka akan dikerjai oleh pria itu. Membuatnya mau tidak mau harus melawan mereka untuk bisa keluar dari tempat tersebut. Mereka yang melihat Juan tertawa mulai merasa heran.                “Kau sudah kehilangan akal, ya?! Cepat berikan atau kau akan menyesal!”                “Sudah bicaranya! Maju kalian semua! Aku tak punya banyak waktu lagi!” ujar Juan yang menantang mereka.                Pertarungan yang tak berimbang pun dimulai. Juan yang jelas kalah jumlah tak merasa takut sedikitpun. Ia hanya kalah jumlah bukan kalah dari kualitas bertarung. Bahkan lima orang sekalipun sekelas mereka bukan tandingannya.                Satu orang dari mereka maju mendekat. Sambil memegang stik baseball di tangan kanannya. Pria itu dengan perlahan maju mendekat. Ia lalu mencoba memukul Juan seperti sedang memukul bola dalam permainan baseball. Juan dengan mudah menghindari pukulan tersebut.                Ia mencoba kembali memberikan pukulan. Stik yang ia pegang diayunkannya. Tapi tetap saja tak dapat menjangkau Juan. Juan masih terlalu sigap untuk menghindar. Juan lalu menangkap stik tersebut lalu menariknya. Dengan cepat memberikan pukulan ke arah pria itu. Membuat genggamannya terhadap stik itu pun terlepas. Kini, benda tersebut berpindah tangan.                Juan lalu memukulkan ke pria itu. Ia mengarahkan pemukul itu ke arah perutnya. Lalu memukulkannya tepat ke punggung dari pria itu. Membuatnya merasakan kesakitan yang luar biasa hingga tersungkur. Juan tak menuntaskannya, membiarkannya tersungkur di tanah sambil merasakan sakit.                Kedua rekannya yang berada di belakang tampak terkejut. Melihat temannya dengan mudah dijatuhkan oleh Juan. Juan tersenyum ke arah mereka sambil memegang stik yang berada di tangannya. Juan meminta mereka untuk maju dan melawannya. Pria yang tak membawa apa-apa tadi meminta rekannya yang membawa senjata untuk maju. Sambil menelan ludah, pria itu pun kembali maju dengan penuh hati-hati.                Juan menunggu pria itu melancarkan serangannya. Juan yang sudah lihai memegang senjata pun tampak hanya memegang senjatanya dengan tangan satu. Sedangkan pria yang ia hadapi tampak sudah bergetar. Memegang sebuah balok kayu dengan kedua tangannya. Pria itu pun melancarkan serangan. Juan pun segera menangkis serangan tersebut. Membuat kedua benda tumpul itu saling beradu. Suaranya cukup keras begitu kedua benda tersebut berbenturan.                Pria itu dan Juan kembali saling serang. Membenturkan senjata yang mereka miliki. Hingga akhirnya pria itu pun kalah dan senjatanya terlempar dari tangannya. Juan tersenyum melihat hal tersebut.                “Kau harus memegang dengan benar senjatamu ketika sedang bertarung. Jangan sampai terjatuh atau lawan akan menghabisimu,” ujar Juan yang langsung menghadiahi pria tersebut pukulan keras tepat di kepalanya.                Pria itu pun terjatuh tepat setelah Juan memukul kepalanya. Membuat tersisa satu orang lawan yang kini Juan hadapi. Si pengecut yang sejak tadi mengorbankan dua temannya. Pria itu tampak gemetar dan berkeringat melihat dua rekannya terjatuh dengan mudah di hadapannya.                “Aku akan laporkan kejadian ini pada El-Chapo. Kau akan menyesal sudah membuat masalah dengan kami! Kami adalah anggota The Son of Lucifer! Aku akan laporkan! Lihat saja kau!” ancam si pengecut.                Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh pria itu. Juan sama sekali tak gentar. Ia dengan santai menerima ancaman tersebut dan memilih melihat pria itu dengan tatapan penuh. Membuat pria itu semakin ketakutan. Pria itu pun memutuskan untuk lari dari tempat tersebut dan meninggalkan dua rekannya.                Pengecut yang hendak kabur dari medan pertarungan, tak dibiarkan begitu saja pergi oleh Juan. Juan melemparkan senjata yang ia pegang hingga mengenai kaki si pengecut dan membuatnya terjatuh. Pria itu tersungkur sambil merasakan sakit. Juan lalu mendekat menghampirinya.                “Aku beritahu kepadamu tentang satu hal. Pria yang lari dari pertempuran adalah sampah. Tapi pria yang lari dari pertempuran dan meninggalkan temannya, lebih buruk dari sampah,” ujar Juan lalu memukul pria tersebut di kepalanya. Membuat pria itu seketika tak sadarkan diri.                Sebelum pergi dari tempat tersebut, Juan mengambil barang-barang milik mereka. Uang dan beberapa barang yang bisa ia gunakan. Barulah setelah melucuti barang berharga milik mereka, Juan pergi dari tempat tersebut. Ia meninggalkan senjata yang digunakannya untuk melawan mereka. Ia kemudian berjalan mencari jalan keluar. Menuju ke halte, tempat titik temu antara dirinya dengan si pria. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN