"Aku juga berpikir seperti itu sebelumnya. Aku rasa tempat ini membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya lebih terkesan indah. Paling tidak terlalu menyeramkan. Seperti yang kau bilang hidup seperti rumah hantu," kata Juan.
Juan dalam mengeluarkan semua barang bawaan yang ia beli. Ia lalu mulai memasang mereka satu persatu di tempat yang sudah seharusnya. Begitu selesai memasang ia tak sabar untuk menyalakan mereka semua. Begitu ia hendak menyalakan lampu tersebut tiba-tiba Diego datang menghampirinya. Menjadikan Juan mengurungkan niatnya untuk menyalakan lampu lampu tersebut.
"Juan! Sepertinya kau kedatangan tamu lagi mereka mencarimu," kata Diego berteriak dari jauh.
"Mencariku? Siapa memangnya mereka? Apa mereka memiliki urusan denganku?" Tanya Juan merasa bingung ada yang mencarinya.
Diego tak menjawab apapun. Karena Tak lama kemudian orang-orang yang mencari Juan sudah berada di depan pintu bar. Juan yang melihat karena mereka mulai menyadari siapa yang telah mencarinya. Wajah mereka tak asing sepertinya Juan pernah bertemu mereka atau menghajar mereka. Terlihat dari salah satu wajah mereka yang babak belur.
"Mana orang itu! Keluarlah! Jangan sampai ngobrak abrik tempat ini!"teriak salah satu dari mereka dengan keras.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mereka datang lalu berteriak? Apa mereka ada sangkut-pautnya denganmu Juan?" tanya Sanchez.
"Kelihatannya begitu. Tidak ada satu hari tanpa ia berkelahi dengan orang sepertinya padahal seharusnya ia tahu, di sini hampir setiap orang yang memiliki bekingan seorang mafia yang melindungi mereka sehingga mereka leluasa melakukan sesuatu," ujar Artur.
"Tapi aku tidak berkelahi dengan mereka. Aku hanya membantu salah seorang remaja yang sedang dibully oleh mereka," kata Juan.
"Aku percaya padamu Juan! Tapi apa kau bisa menjelaskan itu pada mereka?" kata Artur.
Pria yang berteriak tadi kembali membuat kegaduhan. Ia terus berteriak memanggil siapa pelaku yang sudah melakukan pemukulan terhadap rekannya. Sambil terus menebarkan ancaman kalau tidak ada yang segera mengaku. Ia tak segan-segan menghancurkam tempat tersebut.
"Kau hanya akan terus diam? Sampai mereka menghancurkan tempat ini? Atau kau akan membereskan mereka?" tanya Artur yang mulai khawatir. Kalau mereka benar-benar akan menghancurkan tempat tersebut.
"Baiklah. Aku akan segera bereskan. Tunggu saja di sini," kata Juan pergi menghampiri mereka.
"Sekali lagi ku katakan pada kalian semua! Siapa yang sudah bertanggung jawab atas pemukulan mereka?! Mengakulah dan keluarlah! Jangan jadi pengecut! Jangan sampai karenamu, kuhancurkan semua yang ada di sini! Lebih baik kau mengaku!" kata pria itu.
"Hei! Jangan terlalu berisik. Ayo kita selesaikan semuanya di luar. Agar aku bisa kembali bekerja dan melayani para pelangganku," kata Juan mengajak pria itu keluar bar.
"Siapa kau?! Berani-beraninya memotong perkataanku," tanya pria itu kesal.
"Nanti kau juga akan tahu. Cepatlah! Aku tak punya banyak waktu." Juan keluar lebih dulu disusul pria itu.
Ketiga temannya dan beberapa orang pelanggannya melihat aksi pertarungan Juan dari dalam bar. Juan menutup pintu bar agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Membuat para penonton yang hendak melihat aksinya harus menonton dari balik jendela yang tak terlalu lebar.
"Siapa menurutmu yang akan memenangkan pertarungan kali ini?" tanya Artur.
"Sudah pasti Juan! Mereka pasti bercanda. Menjadikan Juan sebagai lawan tarung mereka. Aku kalau jadi mereka saja akan berpikir dua kali," kata Diego.
"Kalau kau Sanchez?"
"Aku memilih Juan dengan catatan mereka tidak keroyokan. Satu lawan satu. Kalau satu lawan banyak. Aku takut Juan akan dikeroyok oleh mereka."
"Kau sendiri pilih siapa, Artur?" tanya balik Diego.
"Aku hanya berharap keributan ini segera berakhir. Untuk itu aku memilih Juan yang keluar sebagai pemenangnya. Aku harap ia bisa mengalahkan pria itu dengan cepat."
Ketiga temannya Juan memberikan dukungan pada Juan sekaligus menjadikan Juan bahan taruhan untuk mereka. Sementara di luar bar, Juan dan pria itu sudah saling berhadapan satu sama lain. Juan melihat beberapa orang di belakang pria itu. Ia mulai menyadari satu hal, pria itu tak akan main bersih. Pasti akan ada hal kotor yang ia lakukan untuk menenangkan pertarungan.
"Kau akan menerima akibat dari mencari gara-gara dengan orang yang salah! Akan kupastikan kau merasakan balasan yang setimpal!" kata pria itu menebar ancaman.
"Kita selesaikan ini dengan cepat. Banyak pelanggan yang harus aku layani."
Pertarungan pun dimulai. Pria itu mengambil inisiatif menyerang Juan lebih dulu. Ia melepaskan tendangan satu kaki sambil agak melompat. Juan menangkis tendangannya. Membuat pria tersebut terjatuh. Juan lalu menunggu pria tersebut kembali berdiri. Pria tersebut kemudian melancarkan beberapa pukulan dengan cepat. Juan berusaha menangkis tiap pukulan yang di arahkan padanya. Saking cepatnya pukulan membuat ia harus mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Pertarungan mereka memancing decak kagum dari para penonton yang melihatnya. Mereka senang disuguhkan pertarungan yang menarik. Juan terus menahan pukulan pria itu hingga pukulan pamungkasnya membuat Juan terpental beberapa langkah.
"Sepertinya Juan menemukan lawan yang seimbang," kata Artur.
"Tidak! Juan bahkan belum melakukan serangan apa pun. Kita harus memberikannya semangat! Juan semangat! Kalahkan dia! Kami mendukungmu! Ayo, Juan!" Diego berteriak dari dalam bar. Teriakannya terdengar sampai keluar.
Juan menoleh ke arah jendela bar. Ia terkejut ketika melihat banyak orang yang menontonnya termasuk teman-temannya. Juan hanya bisa mengernyitkan dahi sembari tersenyum. Tak menyangka dirinya jadi bahan tontonan yang menarik untuk mereka.
"Hanya segitu kemampuanmu?! Kau sudah menyerah?!" kata pria itu.
"Aku bahkan belum mulai," balas Juan.
"Sekarang giliranku!"
Juan lantas balik menyerang pria itu. Ia menunjukkan kemahirannya dalam bertarung. Pria yang tadi sempat sesumbar, mulai kewalahan menghadapi serangan yang dilontarkan Juan. Beberapa pukulan tak berhasil ia hindari. Membuat beberapa bagian tubuhnya terkena pukulan dan tendangan dari Juan.
Pria tersebut berhasil Juan pukul mundur. Sama seperti dirinya sebelumnya yang dipaksa mundur beberapa langkah. Pria tersebut pun dipaksa mundur beberapa langkah sampai mendekati rekan-rekannya. Ia yang sudah terdesak, mulai melancarkan aksi kotornya. Ia meminta rekan-rekannya ikut andil dalam pertarungan tersebut.
Mereka lantas menyebar dan membuat lingkaran mengelilingi Juan. Juan tak risau melihat aksi kotor pria tersebut. Ia sudah memperhitungkan akan terjadi hal seperti ini. Ia lantas memasang posisi siap untuk bertarung sambil terus memandangi sekelilingnya. Menunggu serangan yang akan dilancarkan padanya.
"Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Pria itu pasti mengajak teman-temannya untuk bertarung bersamanya. Benar-benar licik," kata Sanchez geram.
"Ini curang! Juan bisa kalah kalau melawan mereka semua. Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang. Kita lihat saja. Juan pasti punya solusi untuk mengalahkan mereka." Artur mencoba menenangkan Diego yang kesal.
"Menyerah lah! Kau tidak akan menang melawan kami?!" Pria itu kembali sesumbar.
"Iya, aku menyerah. Kalau kalian bisa mengalahkanku!" balas Juan.
Bersambung