Pertarungan Kembali Dimenangkan Juan

1086 Kata
Pertarungan kembali dilanjutkan. Kali ini keadaannya tak seimbang. Juan di hadapkan posisi pada jumlah lawan yang tak seimbang. Setelah sebelumnya menghadapi lawan yang sendirian. Kini, ia harus menghadapi pria itu dan teman-temannya. Ditambah mereka semua mengeluarkan senjata dari balik pakaiannya. Mereka membawa senjata tumpul untuk melawan Juan. Ketiga teman-temannya yang melihat hal tersebut. Semakin cemas ketika melihat Juan dalam bahaya. Ketegangan meliputi mereka tergambar dari wajah ketiganya. Haraph-harap cemas akankah Juan bisa memenangkan pertarungannya kali ini. Sedangkan Juan, ia masih berusaha sebisa mungkin tetap tenang. "Bagaimana sekarang? Apa kau mulai ketar-ketir?" Tanya pria tersebut ketika melihat Juan yang mulai berkeringat. Pria tersebut merasa berhasil membuat Juan merasa gentar menghadapinya. "Ketar-ketir? Bahkan aku merasa gemetar pun tidak. Cuaca disini sangat panas membuatku berkeringat. Ayo kita selesaikan dengan cepat aku ingin segera masuk agar kulitku tidak terlalu lama terbakar di tempat seperti ini," kata Juan menepis kesombongan dari pria tersebut. Pria tersebut kemudian melancarkan serangan menggunakan senjata tumpul. Senjata tersebut dia pukulan ke arah Juan namun berhasil ia hindari. Alhasil pukulannya justru mengenai rekannya yang berada di belakang Juan. Serangan pria tersebut berlangsung dengan cepat sehingga temannya yang berada di belakang Juan kaget hingga tak dapat menghindar. Juan yang memiliki refleks yang bagus, diunggulkan dalam pertarungan kali ini. Ia bisa dengan mudah membaca serangan lawan meskipun jumlah mereka lebih banyak darinya. Ditambah mereka yang menyerang Juan maju satu persatu meskipun mereka sudah mengelilingi Juan. Padahal mereka bisa secara serempak menyerang Juan. Dengan begitu ada kesempatan mereka menang dari Juan. Perbedaan jam terbang dan mental dalam bertarung berpengaruh. Melihat rekannya dapat dilumpuhkan dengan mudah membuat mental mereka menjadi ciut. Terutama beberapa orang yang sebelumnya memang sudah dihajar oleh Juan. Mereka akan berpikir dua kali untuk kembali menyerang Juan. Mereka tentu tidak ingin wajahnya kembali babak-belur atau tubuhnya kembali merasakan rasa sakit akibat pukulan dari Juan. Pria tersebut tak tinggal diam meski telah jatuh. Ia kembali bangkit dengan perasaan semakin marah. Pria tersebut berteriak lalu kembali menyerang Juan serangan yang sporadis ia mengayunkan senjata yang ia gunakan kan tanpa tahu bagaimana mengenai Juan. Ayunan dari senjatanya hanya terkesan dipukulkan dengan keras tanpa mengenai sasaran. Tentu hal tersebut memudahkan Juan untuk menghindari serangan serangan yang bertubi-tubi darinya. Juan bahkan tak harus mengeluarkan lebih banyak lagi energi untuk melawannya. Ia hanya cukup menghindar dan menghindar. Hingga menemukan celah untuk memberikan serangan Pamungkas untuk menjatuhkan pria tersebut. Begitu Juan melihat kesempatan tersebut ia tak menyia-nyiakan hal tersebut. Satu pukulan aperkat ia arahkan tepat mengenai dagu dari pria tersebut. Membuat pria tersebut terpental hingga membuat senjatanya terlempar. Setelahnya pria tersebut terkapar tak berdaya. Pria tersebut mencoba untuk bangkit namun hanya kepalanya yang bisa untuknya gerakan. ubuhnya seolah tak bisa lagi diajak bekerjasama untuk menyerang Juan. Tubuhnya seolah telah menyerah untuk tetap melanjutkan pertarungan. Iya lantas meneriaki teman-temannya yang sejak tadi hanya menonton. Merasa teman-temannya tidak memiliki fungsi sama sekali. Mereka hanya membiarkan ia bertarung sendirian melawan Juan. Padahal, Ia mengajak mereka agar lebih mudah memenangkan pertarungan melawan Juan jika menang jumlah. Teman-temannya yang sejak tadi hanya terpaku aku masih berpikir dua kali untuk menyerang Juan. Meski terus diteriaki dan dicaci maki oleh temannya yang terkapar. Mereka tetap tak bergeming. Bahkan mental mereka semakin hancur berantakan begitu melihat Juan tersenyum kearah mereka. Senyuman dengan aura pembunuh. Juan bahkan meminta mereka untuk maju dan melancarkan serangan kepadanya. Ia dengan senang hati akan meladeni mereka. Mereka masih tak melakukan apapun. Juan tak punya pilihan selain menyerang mereka duluan agar pertarungan ini segera berakhir. Juan sambil membentangkan tangannya berlari ke arah mereka. Gerakannya seperti elang yang sedang menerkam mangsanya. Gerakan tersebut sukses membuat 2 orang yang dihadapannya jatuh terkapar. Tinggal beberapa orang tersisa dari formasi lingkaran yang mereka buat. Segera ia mengambil senjata dari salah satu orang yang telah berhasil ia jatuhkan. Menyerang mereka dengan membabi buta. Memukuli mereka di area perut hingga kepala mereka. Mereka tak kuasa menahan serangan dari Juan hanya sedikit serangan yang berhasil mereka tangkis. Selebihnya mendarat dengan mulus pada bagian tubuh mereka yang Juan pukul kan. Mereka teriak kesakitan karena mendapatkan serangan dari Juan Hingga pada akhirnya mereka semua melarikan diri dari sana sambil memapah temannya yang sebelumnya jatuh terkapar lebih dulu. Sekali lagi Juan memenangkan pertarungan nya. Juan kemudian masuk kembali ke dalam barnya. Ia disambut meriah dengan tepuk tangan dari para penonton yang sejak tadi menyaksikan aksinya. Juan yang mendapat sambutan tersebut tersipu malu. Antara senang dan jengkel karena dijadikan bahan tontonan oleh mereka. Juan kemudian berjalan menuju meja bartender lalu disusul oleh ketiga temannya. Mereka hendak mengucapkan selamat kepada Juan karena berhasil memenangkan pertarungan. "Selamat untukmu Juan! Aku sudah tahu sejak awal kalau kau akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah," kata Diego mengucapkan selamat pada Juan atas kemenangannya. "Terima kasih kembali untukmu Diego. Semua ini juga berkat dukungan mu. Teriakanmu memotivasiku untuk kemenangan pertandingan ini. Aku tidak akan mengecewakanmu yang sudah menyaksikan ku dan memberikan dukungan untukku," ujar Juan. "Awalnya aku sempat berpikir kalau kau akan kalah. Jujur saja, kau kalah jumlah sejak awal. Aku yakin mereka tidak akan main bersih ketika bertarung denganmu. Pasti ada kecurangan yang akan mereka lakukan. Dan itu terbukti benar bahkan sampai mereka menggunakan senjata untuk menyerang mu. Yang aku tidak habis pikir kau tetap bisa memenangkan pertandingan ini. Selamat sekali lagi untukmu," kata Sanchez yang sempat melakukan kemenangan Juan atas mereka. "Aku sepertinya tidak harus meragukanmu. Kau orang yang sama seperti ketika kita bertemu di awal. Kau selalu menepati omonganmu. Kau sudah membereskan semuanya. Terima kasih banyak," kata Artur. "Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Semua ini juga berkat karena dukungan dari kalian. Aku mendapatkan suntikan semangat untuk bisa mengalahkan mereka semua. Semoga saja ini yang terakhir. Tidak ada lagi orang-orang yang hendak mengganggu kita dan mencoba membuat kekacauan di tempat ini. Aku ingin tempat ini memiliki kedamaian setelahnya mungkin kota ini," ucap Juan. "Aku juga mengidap idamkan kedamaian itu. Bahkan sejak lama sekali. Bahkan sejak sebelum kau ada disini. Entah kapan tempat ini mendapatkan kedamaian dan ketenangan layaknya kota-kota lain di luar sana tapi aku tak pernah berhenti berharap. Semoga saja suatu saat hal tersebut bisa terwujud," kata Artur yang mengharapkan sejak lama kota yang ia tinggali dihinggapi rasa kedamaian dan keamanan. "Tapi aku rasa orang-orang seperti mereka akan datang kembali cepat atau lambat. Bukan karena aku tidak percaya kalau kedamaian itu akan datang. Tapi biasanya mereka akan mengadu kepada salah seorang yang lebih kuat di antara mereka. Untuk itu kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari," ujar Sanchez mengingatkan kepada teman-temannya agar selalu waspada. "Kita lihat saja bagaimana nanti aku akan mempersiapkan segalanya," kata Juan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN