“Tenangkan dirimu, Fe!Kamu harus tenang agar kamu bisa berfikir jernih, aku tahu semua tidak mudah.” Hasle membelai punggung sahabatnya itu. “Kenapa aku sangat sulit menghapusnya dari pikiranku?Kenapa aku masih terus mencintainya?Tapi kenapa dia melukaiku?” Felove terus meluapkan emosinya dengan berbagai macam pertanyaan di kepalanya. “Sudah, tenangkan dirimu dulu, Fe.” Hasle masih terus memeluk Felove dengan erat. Marel sampai di apartementnya, dia membuka kamar Felove sekali lagi. Dia mengingat semua kenangan bersamanya, dia mengingat semua ucapan Felove tadi. Bahkan dia merasa bersalah dengan seluruh ucapannya yang menyakiti Felove. Marel menangis, dia memukul dadanya yang terasa sakit. “Bodohnya aku, kenapa aku tidak mempercayainya waktu itu. Kenapa kamu sangat bodoh, Marel!” Saat

