Beberapa saat kemudian, Marel dan Felove sampai ke ruang produksi, mereka berdua melihat ke sekeliling ruangan produksi dan mengenang bagaimana banana coffee itu dengan semangat di produksi oleh tim. Apa karirku, memang akan berakhir dalam waktu singkat? tanya Felove dalam hati sembari menyentuh pinggiran-pinggiran mesin yang sudah mati. “Maaf, jika aku membuatmu kecewa. “ Marel tiba-tiba memadang Felove dengan penuh rasa bersalah. “Kenapa kamu minta maaf?ini semua bukan kesalahanmu,” jawab Felove yang langsung memandang Marel. Felove kembali berjalan ke dekat gudang, dia menendang sebuah plastik. Felove memungutnya, tanpa sengaja dia membaca plastik yang ternyata adalah sebuah label kemasan, “Marel, apa ini sebuah label kemasan yang pernah di produksi di perusahaan ini?” tanya Felove p

