Disisi lain ada pembicaraan yang cukup asik antara Marel dan ayah Felove, mereka bercanda bersama sembari menikmati hidangan dimeja. “Ternyata kamu memang pengusaha yang jenius, kalau begitu apa kamu ada ketertarikan dengan putriku?” Ayah Felove tiba-tiba to the point seperti sedang mempromosikan putrinya. “Uhuk,” Felove tiba-tiba tersedak mendengar ucapan ayahnya. “Hati-hati sayang! Ini minumanmu,” Ibu Felove menyodorkan segelas air putih. Kali ini aku yakin Marel tersenyum penuh kemenangan, apa yang ayah lakukan? Aku jadi malu, gumam Felove sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya lalu meminumnya lagi. Marel tersenyum, dia tahu Felove malu. “Aku serius dengan ucapanku, karena jika kamu tertarik dengan putriku. Aku akan menyetujuinya,” tambah ayahnya yang membuat Felove semakin m

