“Ah, iya kak,” “Aku seperti mendengar suara pria, kamu sedang berada dimana sekarang?” Zen sedikit penasaran karena seperti tidak asing dengan suara itu. “Oh tadi, tetangga apartementku.” Felove berusaha mencari alasan dengan cepat. “Oh tetangga? tapi, aku seperti mengenali suara itu,” Zen sedikit curiga. “Ah, eng-nggak mungkin kak, tetanggaku baru saja pulang dari Amerika. Ada perlu apa, kak? “ Felove mencoba mengalihkan pikiran Zen. Lagi-lagi aku berbohong, keluh Felove dalam hati. “Jadi begitu, aku hanya ingin memastikan, kamu sudah membaca pesannya!” “Aku sudah membacanya, kak. Iya besok kita ketemu di kantin kampus!” “Oke, sampe besok Felove.” “Iya, Kak. Sampai besok.” Zen menutup teleponnya, setelah meletakkan handphone di sebelah tempat tidurnya. Felove membaringkan tubuhn

