Bertemu

1759 Kata
"Kak, apa kamu sudah mendengar ada kompetisi Banana Coffee?" tanya Carla sambil mencuci gelas di wastafel. Felove yang masih asik memblender pisang tak begitu mendengar pertanyaan itu. "Kak, kenapa kamu diam? Apa kamu tidak tertarik dengan kompetisi Banana Coffee?" Carla sedikit berteriak. Felove langsung menghentikan blendernya,  "Pelankan suaramu!Kompetisi Banana Coffee? Dimana kamu mendengarnya?" Felove terlihat terkejut. "Ku kira kamu tidak tertarik, Kak?" Carla melanjutkan mencuci gelas. "Tidak, aku mau ikut kompetisi itu! jarang ada kesempatan seperti ini! Aku juga ingin mewujudkan cita-cintaku untuk memasarkan minumanku lebih luas lagi. Cepat katakan!dimana kamu mendengarnya?"  "Baiklah, aku membacanya di ujung jalan outlet ini, " jelas Carla. Tanpa menunggu waktu Felove melepaskan celemeknya lalu berlari dengan membawa handphonenya.  "Dia selalu bersemangat, jika berhubungan dengan Banana Coffee,"  Felove membaca pengumuman yang ditempel di dekat tiang, dia benar-benar sangat bahagia. Felove mengambil Foto pengumuman itu lalu membawanya ke outlet, sepanjang perjalanan dia tersenyum girang. "Kak, jangan terlalu bahagia! Kamu baru akan ikut kompetisi, bukan jadi pemenang kompetisi!" jelas Carla yang sedang menggarap minuman pelanggan. "Kamu harus menemaniku untuk ikut dalam kompetisi ini, kompetisinya hanya menunjukkan hasil karya banana Coffee. Ini kompetisi yang tidak sulit," Felove terlihat sangat bersemangat. "Iya kak, iya." jawab Carla sambil membersihkan kulit pisang. *** Tiga hari kemudian, kompetisi dimulai. Semua peserta membawa bahan dan alatnya sendiri-sendiri, panitia kompetisi hanya menyediakan meja dan kursi serta kulkas besar berisi es batu. Peserta diharapkan, dapat membuat kreasi banana Coffee sekreatif mungkin dan yang pasti rasanya harus enak. Perusahaan juga memberikan hadiah untuk juara pertama akan mendapatkan tropy, sertifikat, uang tunai sebesar seratus juta dan berkesempatan untuk mendapatkan kontrak dari perusahaan Magezone, kemudian juara kedua akan mendapatkan tropy, sertifikat, uang tunai sebesar lima puluh juta dan tiket tour keliling Indonesia, kemudian juara ketiga akan mendapatkan tropy, sertifikat, uang tunai sebesar dua puluh lima juta dan tiket tour keliling Indonesia. Ketika jam menunjukkan pukul delapan tepat, peserta sudah mulai berdatangan dan mempersiapkan diri sesuai dengan nomor urut mereka masing-masing. Peserta yang hadir tercatat ribuan orang dan juri yang terlibat sekitar seratus orang untuk tahap seleksi awal. Felove dan Carla tergopoh-gopoh membawa banyak barang dan dilihat oleh semua peserta karena mereka berpakaian sangat tidak elegan di even besar seperti ini. "Apa mereka sedang memperhatikan kita? Apa kita lupa membawa parfum?" Felove terlihat memperhatikan penampilannya sendiri. "Sepertinya begitu, kak. Lihatlah mereka! Pakaian mereka terlihat begitu rapi dan sangat elegan, walaupun mereka hanya seorang koki," Carla berkomentar. "Sudah tidak ada waktu memikirkan penampilan, ayo kita siapkan semuanya untuk babak penyisihan!" Felove menarik Carla dan mulai berjalan cepat, sepertinya Felove tidak ingin menghiraukan pandangan orang saat itu, semuanya akhirnya siap di tempat mereka masing-masing, kompetisi Di mulai! Marel berjalan perlahan masuk ke acara kompetisi, dia sangat berharap bertemu wanita itu agar dia bisa menemukan Banana coffee yang sedang dia cari. Saat Marel sampai ke tempat duduknya, seratus juri bergerak ke semua meja peserta untuk menilai secara langsung cara pembuatan, tingkat kebersihan dan kecekatan orang yang membuatnya. Dalam dua puluh menit minuman mereka sudah tersedia diatas meja, para juri merasakan semua banana coffee buatan para peserta. Babak penyisihan ini sangat ketat, bahkan mereka akan menyisakan hanya seratus orang pertama yang lolos ke babak selanjutnya. Tanpa menunggu waktu, mereka menempelkan hasil di depan aula gedung, kemudian yang gagal di persilahkan pulang dan yang berhasil dipersilahkan masuk kembali ke dalam gedung. "Carla, kita berhasil!" teriak Felove begitu bahahia karena dia lolos ke babak selanjutnya. Kompetisi semakin sengit dan semakin ketat, beberapa waktu berlalu, sampailah akhirnya Felove ke babak Final. Saat yang paling menegangkan karena babak ini sangat menentukan, Marel sudah tidak sabar untuk mencicipi satu persatu banana coffee dari peserta yang tersisa. "Mr, kearah mana lagi aku harus berjalan? Disini begitu ramai," tanya Marel yang berulang kali berhenti mempersilahkan orang lewat. "Berjalanlah perlahan ke sebelah kiri dan bergerak luruslah!" arahan Mr Park. Marel berjalan kedepan dengan sangat mulus, kemudian Felove keluar dari mejanya untuk menata banana coffee dari arah depan. Tiba-tiba Marel yang tidak melihat langsung menabrak Felove yang ada di depannya. "Bruk,"  Banana Coffee tumpah mengenai wajah Felove dan wajah felove semunya tertutup oleh kentalnya banana coffee. Felove yang sudah berbaring dilantai akhirnya tertimpa tubuh Marel. "Cup" Bibir Marel tidak sengaja menyentuh bibir Felove, mata Felove terbelalak dan hampir tak berkedip. Marel tidak sadar jika dia sedang menyentuh bibir wanita, Marel mencium aroma banana coffee sama seperti waktu itu, mulutnya tak sengaja bermain dan sebentar menikmati diatas bibir Felove. Setelah merasakan sejenak dengan kasar, Felove mendorong Marel untuk menjauh. "Berhenti!" Felove terlihat sangat marah. "Plak!" Felove menampar Marel untuk kedua kalinya. "Aww, kenapa kamu menamparku?Aku tidak asing dengan aroma dan rasa banana coffee ini," kata Marel memegangi pipinya dan masih duduk di sebelah Felove yang masih mencoba mengusap mulutnya dan matanya yang juga tertutup kentalnya banana coffee. "Apa kamu tidak punya mata?Seenaknya mencium bibir wanita!Dasar m***m!" Felove mulai marah, masih berusaha membuka matanya yang terasa pedih karena banana coffee itu. mesum?Aku barusan mencium bibir wanita? Bayangan Marel kembali saat dia dan wanita itu bertubrukan, tidak salah lagi! Apakah dia wanita itu? Marel sangat penasaran. "Maafkan aku, aku buta dan aku sama sekali tidak bisa melihat!" Marel dengan jujur mengatakan keadaan yang sebenarnya. Setelah mata Felove sedikit terbuka, dia melihat jelas pria dihadapannya itu adalah pria yang sama seperti waktu itu. "Kamu?"Felove terkejut dan terlihat lebih kesal. "Maafkan aku! ternyata kamu benar wanita itu," ucap Marel yang mencoba untuk berdiri. "Kenapa setiap bertemu denganmu, aku selalu sial? Kenapa kamu harus muncul disaat seperti ini? Ini babak Final, semua banana coffeeku tumpah, apa yang harus kulakukan? Aku akan meminta ganti rugi atas segala yang telah kamu lakukan kepadaku, banana coffee saat itu, tindakan m***m itu dan juga ciuman pertamaku," Felove terlihat begitu sedih. "Kejadian saat itu sungguh aku tidak sengaja, aku tidak bisa melihat dan aku benar-benar buta," Marel mencoba membela diri. "Jangan bohong disaat seperti ini!" Felove masih tidak percaya. "Periksa sendiri! Apakah aku bisa melihat atau tidak?" Marel menunjukkan kedua matanya yang sudah tidak memakai kaca mata lagi. Tiba-tiba Mr Park dan beberapa bodyguard merangkul mereka berdua dan membawa mereka pergi. "Apa yang kalian lakukan?lepaskan aku!" Felove berteriak untuk kabur, tapi beberapa bodyguard itu tidak peduli dan tetap membawa Felove pergi. "Loh, kak?Aduh bagaimana ini? Aku harus menelpon polisi," ketika Carla hendak menelpon polisi, tiba-tiba Peter mengambil handphone yang dipegang Carla. "Apa yang kamu la ... ku ... kan?" Carla tiba-tiba bengong melihat Peter dihadapannya. "Tidak usah menelpon polisi, temanmu akan baik-baik saja, dia bersama boss perusahaan Magezone dan beliau orang baik," jelas Peter yang memang memiliki paras ganteng itu sambil mengembalikan handphonenya. Carla yang masih bengong hanya menganggukkan kepala, Peter pun pergi meninggalkan Carla yang belum sadar melihatnya. "Kok ganteng banget!Apa? Boss Perusahaan Magezone?Kak Felove sangat beruntung, ya sudah, biarkan saja! Tapi bagaimana dengan kompetisi ini?" Carla sangat terkejut sekaligus bingung. ***  Felove sampai di rumah Marel dengan mata tertutup, Marel juga kebingungan dibawa kemana. "Kenapa kalian menutup mataku!" Felove belum juga berhenti memberontak. Setelah sampai dirumah, mereka berdua di dudukan di sofa. "Kalian akan mengacakukan semuanya, jika seluruh orang sadar bahwa Marel Caprion benar-benar buta. Apa kalian tidak sadar tadi menjadi pusat perhatian? Mereka akan meremehkanmu, jika melihatmu terlihat tidak berdaya seperti tadi karena kebutaanmu," Mr Park ikut duduk di sofa lain tepat dihadapan mereka berdua. "Apakah tadi semua orang melihat kita? Lalu bagaimana tanggapan mereka? Maafkan aku, aku tidak tahu dengan keadaan sekelilingku," Marel sadar akan perbuatannya jujur di tempat umum. "Marel Caprion? Siapa Marel Caprion? Apa urusannya denganku? Tolong buka ikatan mataku! Buka juga ikatan tanganku!" Felove tiba-tiba bersuara. "Nona, jangan berlaku sembarangan dengan pria buta itu, dia adalah CEO perusahaan Magezone. Apa nona tidak tahu?" Mr Park akhirnya memberitahukan siapa Marel sebenarnya. "Magezone, bukannya perusahaan minuman yang terkenal itu? Tidak mungkin! Apa dia benar-benar buta?Dia telah dua kali melecehkan aku, lalu aku harus berlaku sopan kepadanya? Cih! CEO macam apa itu? " Felove terlihat sangat kesal. Mr Park memberikan kode kepada bodyguard untuk melepaskan ikatan di mata Felove dan ditangannya. "Dia buta nona, di benar-benar kehilangan penglihatannya, maafkan Marel nona, waktu itu dia tidak sengaja dan hari ini dia juga tidak sengaja," Mr Park mencoba meyakinkan Felove. "Lalu buat apa, kalian membawaku kemari? Gara-gara boss kalian itu, aku gagal masuk final, aku gagal mewujudkan cita-citaku untuk memasarkan minumanku lebih luas dan lagi aku dilecehkan di depan banyak orang untuk kedua kalinya, setiap bertemu dengannya, aku selalu sial!" Felove langsung berjalan pergi melewati Marel. Dengan cekatan Marel meraih tangan Felove, lalu Marel ikut berdiri. Felove langsung berhenti ketika tanganya di genggam erat oleh Marel. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud melecehkanmu, aku akan berusaha bertanggung jawab dengan kerugian yang kamu terima!" Marel mencoba untuk merendah di depan wanita itu. Entah apa yang aku lakukan?Aku terbiasa mencium wanita, memegang pinggul mereka tapi wanita ini, sangat marah, dia merasa dilecehkan hanya karena dicium dan di sentuh. Padahal aku tidak pernah sengaja, gumam Marel yang belum pernah sekalipun menemukan wanita baik-baik di dalam hidupnya. Felove melepaskan tangan itu, tanpa berkata apapun Felove tetap berjalan pergi, sebelum langkahnya semakin jauh, Marel bersuara agak keras, "Aku menyukai Banana Coffee buatanmu, aku membuat kompetisi ini hanya untuk mencarimu!" jelas Marel singkat. Felove berhenti sebentar lalu tersenyum nyinyir tanpa berbalik, "Semua pria sudah pasti akan mengatakan hal seperti itu untuk mendapatkan hati wanita, tapi tidak dengan wanita sepertiku! Jangan bercanda dengan ucapanmu, gunakan kalimat itu untuk menahklukkan hati wanita lain, dasar pria m***m!"   Felove melanjutkan langkah kakinya lalu berjalan meninggalkan Rumah Marel. Mr Park sedikit tersenyum mendengar ucapan Marel dan wanita tadi. Marel masih bengong ditempat tanpa bisa menyanggah perkataan wanita itu. Mr Park tetap memberikan perintah bodyguard untuk mengikuti wanita itu diam-diam agar mengetahui dimana wanita itu tinggal. Mr Park mendekati Marel yang terlihat sangat terpukul. "Apa kamu merasa dicampakkan?" tanya Mr Park. "Bisa di bilang begitu, tiba-tiba dadaku terasa sakit mendengar ucapannya. Ini pertama kalinya, aku merasa terhina karena seorang wanita. Dia tidak terbujuk sama sekali dengan kata-kataku, padahal aku hanya berusaha jujur dengan perasaanku. Dulu, tidak ada wanita yang akan melepas tanganku seperti itu, tidak ada yang berani marah padaku, tidak ada yang berani menyindirku dan tidak ada yang mengataiku pria m***m, tapi dia?" Marel memegang dadanya. Mr Park, merangkul Marel. "Itulah mengapa, aku harus mengajarimu untuk memperlakukan wanita, mereka yang kamu tiduri memiliki maksud dan tujuan untuk mendapatkan imbalan darimu, karena kamu adalah CEO yang kaya raya. Tapi wanita yang sebenarnya, mereka tidak akan mudah untuk di tahklukan. Wanita tadi yang kamu temui bukan w************n, dia wanita berpendidikan, dia juga seorang pengusaha. Wanita seperti itu tidak akan pernah mempan dengan rayuan p****************g, pria playboy atau pria manapun yang mengumbar rayuan. Tapi, mereka akan luluh dengan satu kata yaitu Cinta,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN