Mengenal Cinta

1863 Kata
"Cinta?" Marel balik bertanya. "Benar sekali, apa kamu sudah pernah benar-benar jatuh cinta dengan seorang wanita?" tanya Mr Park. "Jatuh cinta?" Marel masih bingung. "Baiklah, sekarang aku bertanya, melihat dia menyakitimu tadi, apa kamu merasakan sakit?" tanya Mr Park mulai menelisik. "Cukup jelas, aku merasakan sakit," jawab Marel dengan mantap. "Apakah kamu merasakan, gejolak untuk mengabaikan wanita itu atau malah sebaliknya, kamu semakin penasaran dengan wanita itu?" Mr Park sepertinya tahu poin pentingnya disini. Apa yang aku rasakan?Sudah jelas, aku penasaran tapi dengan wanita itu atau dengan banana coffee? pikir Marel. "Aku tidak menyuruhmu diam," Mr Park membuyarkan lamunan Marel. "Aku tidak tahu apa yang membuatku penasaran, banana coffee atau wanita itu?"  "Baiklah, pikirkan nanti! aku sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu, dia telah gagal masuk final, apa rencanamu dengan kemenangan kompetisi yang kamu buat?" tanya Mr Park. "Oh iya, aku sampai lupa. Tidak mungkin aku mengontrak juara pertama, karena bukan dia yang kucari! Begini saja, biarkan juara pertama mendapatkan promosi pemasaran di salah satu supermarket," jelas Marel sambil mengganti posisi duduk. "Baik, sudah kusampaikan. Apa yang harus kulakukan dengan informasi tentang wanita itu?" tanya Mr Park sambil mengetik di handphonenya. "Besok pagi, aku akan pergi kesana!informasi apa saja yang Mr Park dapatkan?"  "Alamat outlet, alamat rumah dan tempat kuliahnya," Mr Park masih mengutak-atik handphonennya. "Bagus kalau begitu," Marel tersenyum. *** Felove sampai di rumahnya, wajahnya masih terlihat kesal, dia membuka pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa sadar, Felove membayangkan Marel, entah angin apa, yang membuat kata-kata Marel masuk ketelinganya dan secepat kilat mulai mempengaruhi pikirannya. Masih di dalam kamar mandi dengan shower yang masih menyala, Felove berulang kali memikirkan kejadian saat pertama bertabrakan dan saat ciuman pertamanya dicuri oleh CEO buta itu. "Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa harus dia lagi, dia lagi!Berapa banyak pria yang jauh lebih baik dari pada pria buta itu, mengapa harus dia yang bertemu denganku?Setiap bertemu dengannya, banana coffeeku selalu tumpah dan lagi-lagi membuatku rugi," ujar Felove sambil mematikan shower lalu membalut tubuhnya dengan handuk dan keluar kamar. Keesokan harinya, seperti biasa Felove berangkat kuliah kedokteranya. Dia menikmati kuliahnya itu sekarang, karena dia berniat kelebihannya nanti akan menghubungkan dirinya dengan kesuksesan. "Felove, kamu sudah mengerjakan tugas dari Pak Yanuar?" tanya Hasle sahabatnya yang blasteran dari Amerika dan Padang itu. "Sudah, tapi baru lima puluh persen. Kamu?" Felove menjawab sambil berjalan keruang kelas seperti biasanya. "Kenapa sikapmu itu selalu santai, padahal dosen banyak menegurmu karena tugasmu selalu tidak lengkap?" Hasle mencoba mengingatkan sahabatnya itu. "Kemarin aku super duper sibuk, le. Aku tidak ada waktu untuk ngerjain tugas," Felove yang super cuek itu, beralasan hal yang sama setiap harinya. "Kebiasaan, kamu selalu menyebutkan alasan yang sama!" Hasle menghela nafas. "Ya, udah. Masuk yuk!Setidaknya aku masih ada semangat untuk kuliah," jawab Felove dengan semangat membawa tiga buku tebal ditangannya lalu masuk ke kelas dan kuliah. "Aku cukup heran denganmu, Felove. Sepertinya kamu tidak punya rasa Jera," Hasle mulai menyerah. Mereka akhirnya mengikuti kuliah. *** "Bagaimana, sudah rapikah?" Marel meminta pendapat Mr Park yang selalu mendampinginya. "Sudah, apa rencanamu?" Mr Park penasaran. "Mengejar tujuanku, aku harus diakui oleh perusahaan. Aku tidak peduli cinta atau tidak dengan wanita itu! Tapi aku harus menyelamatkan perusahaan!" Marel terlihat cukup bersemangat pagi ini. "Baiklah," Mr Park mengambil tas Marel yang tergeletak di Kursi. "Ayo Berangkat!" Marel terlihat terburu-buru. "Awas, Pintu!" Mr Park mengingatkan. "Brak!" "Aww, kepalaku!" Marel menggelengkan kepala untuk sadar. "Kemampuanmu masih belum sempurna," "Iya, aku benci dengan hal ini!" Marel meraba pintu dan membukanya lalu berjalan keluar dan turun. "Anak itu," Mr Park mengikutinya. Setelah menuruni tangga dengan penuh hati-hati, Marel berjalan menuju ke meja makan, dia sudah sedikit hafal dengan keadaan rumahnya. "Lusi, ah tidak, bu Lusi, Tolong buatkan aku roti isi dan s**u hangat, Terimakasih," Perintah Marel lebih sopan dari biasanya. "Jika Tuan Muda tidak terbiasa, tidak usah memanggilku bu, itu juga tidak apa-apa," Lusi mencoba memberi penawaran sambil mengaduk s**u panas yang dibuatnya dan mengambil roti isi di meja. "Tidak bu Lusi, sudah sepantasnya aku memangilmu begitu, aku tidak tahu cara bertata krama yang baik tapi, dengan cara seperti ini, mungkin aku bisa memperbaikinya," Jawab Marel masih menunggu di mejanya dengan wajah yang lapar. Roti isi dan s**u hangat sudah disediakan oleh Lusi di hadapan Marel, dengan penuh semangat Marel yang kelaparan itu menyantap roti isi dan meminum s**u hangatnya.  "Kek, aku berangkat!" Marel yang masih penuh dengan makanan di mulutnya itu, mencoba berjalan cepat lalu berangkat. "Ada apa dengan anak itu, mau pergi kemana dia?" kakek Penasaran. Mr Park pun tidak bisa menjawab pertanyaan kakek, dia langsung mengejar Marel yang tidak mau menunggu. Setelah sampai di dalam mobil. "Mr Park, aku ingin pergi ke universitas kedokteran!" Marel mengungkapkan keinginannya. "Baiklah, Pak tolong antarkan kami ke Universitas kedokteran dekat dengan kampus A!" perintah Mr Park kepasa supir pribadi Marel. "Baik, Tuan," jawab supir itu. Apa yang direncanakan bocah ini?Entah, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Batin Mr Park sambil berpura-pura memainkan handphonenya. Marel yang sejak tadi diam akhirnya, sampai ke depan universitas kedokteran. Tanpa memberitahukan apa keinginannya, Marel keluar dari mobil, lalu menutup pintu dan bersandar di pintu mobilnya sendiri. Aku yakin, wanita itu pasti akan keluar lewat sini!Aku harus bertemu dengannya, aku benar-benar ingin banana coffee itu. Aku sudah berbicara dengan mantap didepan dewan direksi, jika kali ini aku gagal, tamatlah riwayatku sebagai CEO! gumam Marel masih berdiri di depan pintu mobilnya. Mr Park juga turun dari mobil, "Apa yang akan kamu lakukan disini!" tanya Mr Park yang sangat penasaran sejak tadi. "Aku harus bertemu dengan wanita itu!Bisakah kamu mendampingiku saat masuk ke universitas ini?" Marel masih mencari sumber suara Mr Park untuk bebicada dengannya. "Aku di sebelah kanan. Baiklah, kali ini aku tidak akan terlalu menurutmu, aku ingin pendengaranmu lebih peka," jelas Mr Park sambil berjalan bersama memasuki gerbang universitas. "Baik Mr, aku tidak akan mengecewakanmu!" jawab Marel yang berjalan tegap layaknya pria yang bisa melihat. Dari lantai dua, Felove tidak sengaja duduk di sebelah jendela. Seperti biasa dia hanya menggunakan handphonenya untuk merekam penjelasan Dosen.Dari kursi paling depan dan dekat jendela, tiba-tiba berbisik dengan teman sebelahnya. "Itu bukannya Marel Caprion? Dia CEO perusahaan Magezone yang buta itu kan? Mungkin, sekarang dia buta tapi, visualnya itu lo, artis korea lewat deh, aku tetap mau jika dijadikan istrinya suatu hari nanti, dia kan tajir melintir," Kata Nansi tiba-tiba menoleh dan memperhatikan Marel yang baru saja memasuki gerbang universitas. "Hiss, pacarmu mau kamu buang kemana? Jangan halu! Tuh dosen melihatmu!" komentar teman di belakangnya yang bernama kiki sambil mengingatkan. "Nansi! Apakah kamu ingin nilaimu langsung D atau F?" Dosen mulai memarahi. "Tidak pak, maaf!" Nansi penuh dengan ketakutan akhirnya kembali menatap ke depan. "Baik, Perhatikan!" Dosen itu kembali menjelaskan. Felove penasaran dengan yang di lihat Nansi, dia tidak begitu mendengar nama yang di bicarakan Nansi. Saat Felove menoleh kebawah, dia tidak menemukan siapapun. Ngomong-ngomong Nansi lihat apaan ya? Felove penasaran. Jam kuliah berakhir, saatnya Felove meneruskan kesehariannya yaitu menjual Banana Coffee. Sambil bercengkrama dengan Hasil Felove turun ke bawah untuk keluar dari Universitas, betapa terkejutnya dia melihat banyak orang berkerumun dan berlari menabrak Felove dan Hasli sampai buku Felove hampir saja terjatuh dari tangannya. "Ada apa dengan mereka?" Felove bertanya dengan Hasle. "Entah, apa ada artis yang sedang berkunjung ke universitas, ya?" Hasle mencoba menebak-nebak. Karena sangat penasaran Felove langsung menerobos kerumunan orang itu untuk melihat siapa yang datang,  "What?" Felove terkejut bukan kepalang. Setelah melihat Felove datang, semua mata tertuju pada Felove, Marel berdiri di tengah halaman dengan satu buket bunga besar dengan foto Felove yang terpasang di depan buket bunga itu sesuatu saran Mr Park yang sudah pergi menunggunya di mobil. Dia benar-benar kurang waras! Apa yang dia lakukan? Felove bingung harus berbuat apa. "Felove, terima bunganya! Sayang kalau cowok ganteng di anggurin," Komentar Hasile sambil mendorongnya untuk mendekat ke Marel. "Hei, aku tidak mau menerima bunga itu! Stop jangan dorong aku lagi!" Felove meminta Hasle menghentikan tangannya yang terus mendorongnya mendekat. Tiba-tiba orang di belakang Hasle membantu mendorong Felove untuk mendekat lagi ke Marel, alhasil, Felove terdorong cukup keras tanpa bisa menghentikan langkah kakinya yang sedikit kesrimpet kakinya sendiri. "Bruk!"  Kali ini buket bunga besar itu terjatuh kebawah dan kecekatan tangan Marel sudah lebih baik, Marel menangkap tubuh Felove yang sangat proporsional itu ke dalam pelukannya. Indera pendengaran Marel terhadap sesuatu yang bergerak semakin baik. Felove yang sudah tidak bisa berkutik di pelukan Marel, sedikit berkedip karena jarak wajah yang begitu dekat. Perasaan yang tidak bisa di jelaskan itu menyelimuti mereka berdua, jantung yang berjalan normal seperti terkena bom waktu dan berdentum lebih cepat, nafas mereka semakin terasa sesak. Riuh tepuk tangan dari semua mahasiswa yang melihatnya membuat Felove tersadar, "Bisakah kamu lepaskan pelukanmu!" Felove berbisik pelan. "Tidak," Marel menjawab dengan cukup jelas. "Apa kamu ingin berdebat denganku, Tuan Marel Caprion?" Felove mencoba melepaskan pelukan Marel dengan paksa. "Kita sudah terbiasa berdebat," Jawab Marel sambil tersenyum. "Lepaskan!" Felove masih mencoba melepas pelukan Marel. Dengan sengaja Marel mempererat pelukan itu lalu mendekatkan kepalanya hingga hidungnya bersentuhan dengan Felove. Felove berhenti meronta, ludahnya tertelan seketika, Apa yang pria ini lakukan? Apa dia sudah tidak waras?Kenapa jantungku berdebar? Felove terpaku sejenak dengan mata yang terbelalak dan tidak berani berpindah. "Akhirnya, kamu tenang. Aku ingin mengenalmu dan banana coffee buatanmu! Mungkin ini terdengar sangat norak, tapi aku mencoba mengikuti kata hatiku, rasa penasaranku, entah kepadamu atau ke minuman banana coffee itu. Aku tidak bohong jika kemarin aku bilang, aku membuat kompetisi itu untuk mencarimu, karena aku buta, untuk mencari banana coffee yang tidak sengaja aku rasakan saat tumpah di bajuku waktu itu pasti sangat sulit. Untuk itulah aku mengumpulkan semua pembuat banana coffee dan itu untuk menemukanmu!" Jelas Marel mencoba memberikan pengertian kepada Felove. "Ehem, bisakah kamu melepaskan aku dulu?" tanya Felove yang mencoba tetap mengatur jarak dengan Marel. "Berjanjilah untuk tidak kabur!Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," Marel mulai bernegosiasi. "Baiklah, aku berjanji!" jawab Felove. Marel perlahan melepaskan pelukannya, angin yang sepoi-sepoi perlahan sedikit lebih kencang. Diatas Marel tepat berdiri sebuah pohon kelapa yang besar tanpa sadar sebuah kelapa ukuran kecil jatuh dan menimpa Marel tepat diatas kepalanya. "Pluk!"  Kecelakaan yang terlihat sangat konyol, tubuh Marel terhuyung, kepalanya seperti piring terbang seolah tidak bisa berhenti bergoyang, berulang kali Marel menggoyangkan kepalanya untuk sadar, Felove yang melihatnya sedikit menahan tawa sekaligus kasian, hampir semua orang yang melihat menutup mulut mereka untuk menutupi kegelian mereka melihat kejadian itu.  Marel mencoba mendapatkan lututnya dan melihat kebawah, samar terlihat seberkas cahaya yang membuat Marel terkejut. "Cahaya!Cahaya!" Marel tergeletak di tanah dengan tatapan ke langit. Felove yang melihat hal itu langsung memegang pipi Marel, mata Marel hampir terpejam tapi belum. "Hei, apa kamu tidak apa-apa?" Felove kembali menyentuh pipinya kemudian wajah Felove tepat berada di atas Marel. Marel merasa sangat lemas, Mr Park terkejut melihat Marel tergeletak tapi melihat Felove disana, Mr Park mengurungkan niatnya. Mata Marel terbuka dan tertutup beberapa kali, hingga akhirnya dia menemukan bayangan wanita cantik di depan matanya mulai semakin jelas, mencoba menyadarkan lagi kepalanya yang cukup pusing itu. Pendengarannya mulai samar, tapi masih terdengar suara wanita menanyakan keadaannya. Apakah aku berhalusinasi? Cahaya itu begitu jelas! Apakah ini mimpi? Wanita itu sangat cantik, ini nyata atau mimpi?Apakah wanita itu pembuat banana coffee?Tanya Marel dalam hati sambil terus memandangi Felove di hadaapannya. Setelah berfikir cukup keras, Marel akhirnya pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN