Satu jam kemudian Marel yang terbaring di rumah sakit sadar dari pingsannya. Pandangan mata itu tidak gelap sudah ada seberkas bayangan tapi masih samar dan sangat kabur, keadaannya itu semakin membuatnya pusing, Marel meraba kesekelilingnya dan tidak menemukan siapapun, dia mengingat wanita pembuat banana coffee itu.
"Apa yang terjadi? Aku kehilangan wanita itu lagi, Aww!" Marel memegangi kepala bagian atas yang terasa nyut-nyutan.
"Kehilangan wanita itu lagi?" Felove datang dengan segelas s**u dari suster rumah sakit.
Marel sedikit terkejut, mendengar suara itu. Apa dia disini? Marel tiba-tiba mematung.
"Dasar konyol! Gara-gara kamu lagi, aku tidak bisa berjualan banana coffee, untung aku masih punya rasa kasian melihatmu pingsan tertimpa buah kelapa, apakah sudah baikan? Dimana pengawal dan orang yang tidak pernah jauh darimu itu? Aku ingin segera mengantarmu pulang, kamu ini sangat merepotkan!" Felove kembali dengan komentarnya yang selalu nylekit layaknya cabe rawit yang masuk di mulut untuk pertama kali.
"Syukurlah, kamu masih disini," Marel menghela nafas.
"Bisa-bisanya kamu bersyukur?setiap bertemu kamu, nasibku selalu sial!Ini, segelas s**u hangat dari suster!" Felove menyodorkan segelas s**u dihadapan Marel.
Marel mengambil s**u itu dengan perlahan,
"Aku heran, kamu buta tapi tingkahmu seperti punya mata!" Felove duduk di kursi plastik tepat disebelah Marel.
Marel menyerutup s**u hangat itu,
"Terimakasih, aku harus seperti itu karena aku seorang CEO perusahaan," Marel kembali menikmati s**u hangatnya.
"Sepertinya tidak perlu berbelit-belit, aku sudah membayar administrasi rumah sakit dengan uang modalku, untuk itu aku harap kamu menggantinya! Lalu apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Aku juga ingin pulang dan beristirahat," penjelasan singkat dari Felove.
"Aku ingin membeli resep banana coffee spesialmu itu!" Marel langsung to the point.
"Tidak, tidak ada yang akan kujual untuk resep minumanku! Jika kamu hanya memerlukan hal itu cari saja orang lain!" Felove menjawab dengan tegas lalu beranjak dari tempat duduknya untuk pergi.
Marel kembali meraih tangan Felove untuk menahannya pergi.
"Baiklah, apakah kamu ingin minumanmu masuk ke beberapa supermarket yang dimiliki Magezone?Kamu juga akan terkenal dalam hitungan waktu, mobil mewah, rumah dan segala fasilitas akan dengan sangat mudah kamu miliki karena perusahaan ini akan membuatmu dalam sekejap menjadi milyarder," Marel dengan kepala yang masih terasa sakit itu memutar otaknya untuk membuat penawaran.
Felove berbalik dan melihat Marel.
Kenapa tawarannya begitu menggiurkan? Dia benar-benar memiliki mulut manis yang memikat, walaupun itu adalah cita-cintaku tapi, aku bukan w**************n! Felove mempertimbangkan segala penawaran Marel.
"Aku yakin kamu pasti tertarik, bekerjasamalah denganku!" tambah Marel.
"Bagaimana bisa aku percaya dengan perkataanmu? Apakah kamu yakin tidak akan berbuat curang?" Felove sedikit menelisik untuk melihat apakah Marel benar-benar serius.
"Marel Caprion tidak akan pernah berbuat curang dan akan selalu menepati segala perkataannya, aku belum pernah mengotori tanganku dengan berbagai macam kecurangan," ucapan Marel terlihat begitu meyakinkan.
"Baiklah, beri waktu aku untuk berfikir!Aku harus mempertimbangkan segalanya dengan baik,"Felove memperhatikan sikapnya sebagai pemilik bisnis Banana Coffee ini.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu sampai besok pagi," Marel tersenyum melihat wajah wanita itu samar-samar.
Wanita ini sangat menarik, walaupun aku tidak paham wajahnya seperti apa, batin Marel.
"Baiklah, telepon pengawal dan orang kepercayaanmu itu! Aku lelah dan aku ingin pulang, aku meletakkan nomor rekening di meja itu, transfer aku secepatnya, untuk mengembalikan uang modalku!" Felove langsung mengambil tasnya dan meninggalkan Marel di kamar rumah sakit itu.
"Tap-tapi? Dia tidak bilang bajuku diletakkan dimana? Astaga!" Marel gagal menghentikan langkah Felove.
Dengan segera Marel meraba tempat tidur itu lalu mengambil handphonenya untuk menelpon Mr Park.
"Mr Park, jemput aku di Rumah sakit Y, Bawakan aku baju ganti!"
"Tunggu, sebentar! Aku akan segera membawakannya untukmu!" Jawab Mr Park.
"Terimakasih," ucap Marel lalu menutup telponnya.
Mata Marel bisa melihat cahaya tapi masih samar dan belum jelas seperti memiliki mata minus.
"Kenapa kepalaku sakit sekali? Aku baru sadar aku bisa melihat, cuma semua masih belum terlihat jelas, ini terasa sangat pusing. Tapi kenapa sebelum pingsan aku seperti melihat wajah seorang wanita? Apakah itu wanita tadi?Ah, Sudahlah! Kepalaku jadi semakin sakit, aku akan tidur lagi saja sambil menunggu Mr Park datang," Marel membaringkan tubuhnya ke ranjang dan terlelap.