Menggapai cita dan Cinta

2497 Kata
Hari kembali gelap, Felove terus memikirkan penawaran itu, antara takut resepnya di curi, tapi penawaran itu sangat menggiurkan, karena sekali dia menyetujui maka cita-citanya akan tercapai dalam satu genggaman. Felove yang masih berada di kamarnya, berjalan mondar-mandir seperti setrika baju yang baru saja di pakai ibunya. Aku masih bingung, ini pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan seperti ini, pria itu, ada apa dengan pria itu? Aku pikir pria itu bukan pria jahat, kenapa aku banyak berfikir? Apa aku mengajukan syarat saja?sepertinya harus seperti itu, aku harus membuat diriku dan bisnisku ini aman, Felove berhenti mondar-mandir kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur beberapa menit kemudian terlelap di tempat tidurnya. *** Pagi itu Marel bangun dan mencoba membuka matanya yang sedikit lengket, mengusap matanya perlahan, bayangan masih kabur dan belum terlihat jelas. Saat selesai mandi dengan ceria keluar dari kamar untuk menuju ke meja makan, tanpa sadar Gedi lewat dan mereka saling bertubrukan. "Makanya kalau jalan pakai mata?oh maaf Marel Caprion tidak punya mata," kalimat Gedi sedikit mengiris dan menyindir Marel. "Apa kamu tidak bisa sedikit saja menampilkan sopan santunmu padaku? Aku lelah berdebat denganmu, bukankah lebih enak jika kita menjadi kakak dan adik yang akrap?" Marel mencoba untuk tidak tersinggung dengan ucapan adiknya itu, karena bagaimanapun Marel menyayanginya. "Angin apa yang membuatmu sebijak itu? Kamu ingin berdamai denganku? Maka, Lepaskan jabatan CEO-mu itu!" Gedi tanpa basa-basi mengungkapkan tujuannya dan berjalan pelan meninggalkan Marel. "Apa kamu seambisi itu untuk menduduki CEO?Apakah dengan cara seperti itu kita bisa berbaikan?" Marel memastikan kembali perkataan adiknya itu. Gedi menghentikan langkahnya tanpa berbalik,  "Aku sedang membuat perusahaan besar juga di Amerika, jika kamu mau jadi CEO, aku akan bilang kepada kakek untuk menjadikanmu CEO di Amerika!Aku tahu tujuanmu adalah kasih sayang kakek, kakek sangat menyayangimu," Marel menunjukkan sikapnya sebagai seorang kakak. "Kenapa kakak begitu baik? Kamu biasa acuh padaku, tidak peduli denganku, kakek juga begitu, tapi tiba - tiba kamu baik padaku, sekarang! Apa kamu sedang mempermainkan aku, kak? Tidak, kakek tidak menyayangiku, aku menolak tawaranmu! Aku tidak ingin berada dibawah bayang-bayangmu," Gedi menunjukan beban yang di pendamnya selama ini lalu meninggalkan Marel. "Maafkan aku," ucap Marel yang tidak bisa mengikuti Gedi karena dia masih belum bisa melihat dengan jelas. Perlahan Marel turun untuk menuruni tangga, menggeleng-nggelengkan kepalanya karena sangat terasa pusing saat ingin melihat. Kakeknya melihat Marel menjadi sangat khawatir. "Apa yang terjadi? Apakah sakit?" Kakek beranjak dari meja makan. "Tidak perlu khawatir, Kek. Aku baik-baik saja, aku sudah bisa melihat cahaya tapi pandangan kabur belum begitu jelas dan lebih sering pusing, " Marel masih merasakan sakit yang begitu di kepala belakangnya. "Kamu sudah bisa melihat cahaya? Sungguh?" Kakek tersenyum terlihat begitu bahagia. "Iya, Kek." Marel menarik tempat duduknya untuk bersiap sarapan. "Syukurlah, apa kita harus ke rumah sakit? Jika kepalamu terasa pusing, lebih baik kita periksa dulu, takut ada sesuatu yang parah nanti, bagaimana?" Kakek sedikit khawatir. Marel mengunyah roti isi kesukaannya dan secepatnya kilat menghabiskannya. "Tidak, Kek. Kurasa nanti juga hilang, masih banyak yang harus aku selesaikan, aku berangkat, Kek!" Marel meminum segelas susunya lalu berjalan menuju ke mobil. Ada apa dengan anak itu? Hari-hari ini sering sekali berangkat sangat pagi, tapi biarlah! Dia akan bisa melihat, aku sangat bahagia, Tuhan berkatilah cucuku agar selamat diperjalanan sampai pulang kembali, gumam kakek lalu meneruskan sarapannya. Marel terlihat ceria tapi terlihat sangat pucat, dia lebih memilih memakai kaca mata hitamnya, disaat cahaya matahari begitu terik, matanya terasa silau dan sangat menyakitkan. Marel akan mengunjungi setiap supermarket untuk melakukan kontrol, hari ini sekitar lima supermarket yang harus Marel datangi. Mr Park dan Peter yang selalu mendampinginya itu, terlihat begitu sibuk kali ini karena Marel butuh banyak bantuan saat melakukan pengecekan. Hari yang semakin siang membuat Marel, Mr Park dan Peter terlihat kelelahan. Mereka masih berada di dalam mobil sekarang, meminum sebotol kecil air putih lalu melakukan perjalanan lagi ke sebuah supermarket yang terakhir. Saat turun dari mobil, kepala Marel sangat tidak bisa berkompromi, pusing itu melanda lagi dan sangat hebat, Marel tiba-tiba terhuyung dan menabrak sebuah pagar. "Kamu Kenapa?" Mr Park terlihat begitu khawatir segera menangkapnya. "Tidak, aku tidak apa-apa, aku mungkin kelelahan,"Marel terlihat makin pucat "Kita mencari minum dulu! Bagaimana jika kita ke outlet banana coffee itu?" Mr Park teringat jika supermarket ini sangat dekat dengan outlet Felove. "Outlet banana coffee?" Marel sedikit terkejut tapi menuruti Mr Park yang merangkul tangannya di pundak. Setelah Marel di dudukan pada sebuah tempat duduk di depan outlet itu, Felove terlihat terkejut dan keluar untuk menemui Marel yang lemas di tempat duduk. "Ada angin apa kalian ke Outletku? kalian berdua tidak berniat untuk membeli outletku ini kan?" Felove mengernyitkan dahi tampak sangat waspada. "Bisakah tidak berprasangka buruk padaku?" Marel menjawab masih memegang kepalanya. "Nona, bisakah kamu membuatkan banana coffee?" kata Mr Park to the point. Felove sedikit bengong. "Apa kamu tidak punya telinga?" Marel sedikit emosi. "Uang modalku kemarin, kamu belum mengembalikannya, bagaimana aku bisa percaya, kamu bisa membayar banana coffee ini?" Felove mengingatkan. "Astaga, perhitungan sekali!Bawa kesini mesin itu!" Marel menunjuk alat pindai QR untuk mengembalikan uangnya sekaligus membeli banana coffee. Dengan segera Felove mengambil alat itu. Pembayaran Berhasil!  Tulisan di mesin QR. "Apa kamu membayarku dua kali lipat?" Felove terkejut melihat nominal yang baru saja masuk. "Jangan banyak bertanya, buatkan aku banana coffee!" Marel terlihat tidak sabar. "Iya, iya," Felove berangkat membuat banana coffee itu. Lima menit kemudian dua cangkir banana coffee akhirnya di sajikan. Marel mencium aroma yang sangat dia rindukan, Mr Park sudah mulai mencicipi banana coffee itu. Aku baru tahu ada bahan coffee seperti ini?penampilannya hanya seperti secangkir kopi, tapi ada rasa pisang yang sangat terasa disana, banana coffee ini sungguh unik. Mr. Park menggelengkan kepala sambil menyerutup banana coffee itu lagi. Tanpa sadar Marel sudah menghabiskan secangkir banana coffee itu. Entah mengapa, kepala yang terasa pusing sedari tadi, perlahan menghilang pusingnya. "Sudah kuduga, banana coffee ini memang sangat nikmat," Marel bangkit berdiri lalu berjalan perlahan sambil sedikit meraba untuk menemui Felove yang sedang melayani pembeli. Setelah pembeli itu pergi. "Bagimana keputusanmu?" Marel sudah tidak sabar. "Aku ingin mengajukan persyaratan," Felove terlihat serius. "Baiklah, apa persyaratannya?" tanya Marel yang terlihat antusias. "Aku ingin tanda jadi berupa uang muka lima puluh persen dan kontrak kerja yang jelas!"  "Hanya itu? Baiklah, itu bukan hal yang sulit, apakah ini pertanda kamu setuju?" tanya Marel memastikan. "A-aku setuju, oh ya, perkenalkan namaku Felove," Felove menyenggol tangan Marel untuk mengajaknya bersalaman. Marel tersenyum dan menjabat tangan Felove. "Aku sudah mempersiapkan sebuah apartement dilengkapi sebuah dapur modern yang besar, kamu akan tinggal disana dan membuat resep itu, aku minta buatkan aku resep yang original! Kamu masih bisa bebas mengelola outletmu dan mungkin membuat cabang tapi mulai sekarang kamu harus menulis logo sponsor Magezone. Temui aku di apartement Y di pusat kota, aku akan menyiapkan dokumen untuk tanda tangan kontrak, malam ini juga! Siapkan semua barang- barangmu!aku akan mengirim sebuah mobil untuk mengambilnya," Marel menjelaskan panjang lebar. "Apakah harus malam ini juga?Tunggu! Aku pagi kuliah, apakah pagi, aku harus bekerja?"tambah Felove. "Setelah selesai kuliah kamu bisa memulai pekerjaanmu! Aku sudah menyiapkan beberapa asisten yang tidak akan pernah membocorkan resepmu, mereka dibawah pengaruh hukum. Jadi, kamu tenang saja! Kamu juga bos dari perusahaan minumanmu sendiri, Magezone adalah partner bisnis, aku harap kita bisa bekerja sama!" Marel menjelaskan dengan sangat terperinci. "Baiklah, Terimakasih." Felove akhirnya pasrah setelah segalanya dijelaskan oleh Marel. Marel dan Mr. Park meninggalkan outlet Felove. Carla mendekati Felove dan memegang pundaknya. "Kak, apa kamu tidak bercanda? Apakah yang aku dengar nyata?" Carla terlihat sangat terkejut. "Iya, itu nyata. Aku masih tidak percaya, mimpiku jadi nyata!" Felove tampak tertegun karena mimpinya sudah ada di depan mata. "Selamat Kak, kita harus merayakannya! Pulang dari sini kita mampir makan di restoran langganan kita!" Carla memeluk Felove dari belakang. "Okey, ayo kita rayakan!Tapi, selesaikan pekerjaanmu dulu!" jawab Felove mengingatkan. "Siap bos,"  Setelah outlet mereka tutup, Felove dan Carla makan bersama di restaurant langganan mereka lalu membicarakan Carla yang mulai besok akan resmi menjadi kepala toko, semua tanggung jawab akan di berikan sepenuhnya kepada Carla. Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing Felove terlihat bahagia dengan perjuangan selama ini, sampai harus kuliah kedokteran demi sebuah outlet dan jatuh bangun yang menguras keringat. Segalanya berbuah pada satu titik menuju puncak, segala sesuatu di persiapkan. Ayah dan ibu Felove sedikit heran ketika putrinya itu memutuskan untuk pindahan. "Ve, kamu nggak marah sama ibu, kan?kamu mau tinggal dimana?" tanya ibu sambil berdiri melihat anaknya mondar-mandir mengeluarkan banyak barang dari kamarnya. "Aku pindah ke apartemen di pusat kota, tenang ibu, kali ini cita-cita Felove akan terwujud, sebuah perusahaan besar menawarkan untuk memasarkan banana coffeeku ke semua supermarket di seluruh Indonesia," Felove masih terengah-engah untuk mengangkat beberapa barang-barangnya. Ayahnya yang masih bersantai di kursi sambil membaca sebuah koran itu, akhirnya andil untuk berbicara, "Tidak apa-apa kamu pindah dari rumah ini, tapi syarat dari ayah, jangan lupa selesaikan kuliahmu di kedokteran, jangan hamil di luar nikah dan beri ayah alamat apartementmu itu!" Ayahnya berkata masih meneruskan bacaan korannya. "Baik ayah, aku menuruti semua kemauan ayah! Aku akan berikan hasil terbaik saat wisuda nanti," jawab Felove yang selesai menarik koper terakhirnya dan meletakkan di teras depan. "Tapi Ve, kamu tega membiarkan ibu sendirian?Ve, bisa kan, tidak usah pindah?Ayah cegah putri kita untuk pindah!" Ibu Felove terlihat begitu khawatir. "Bu, putri kita sudah dewasa, biarkan dia belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab, " ayah Felove lagi-lagi bersikap santai. Felove yang sudah selesai mengeluarkan barang-barangnya, langsung memeluk ibunya dan memanjakan dirinya sejenak di dalam pelukan ibunya. "Ibu tidak perlu khawatir, nanti kalau ibu kangen, ibu bisa datang ke apartemenku, sekarang Felove sedang berjuang, bersabarlah, ya bu!" jelas Felove sambil menciumi pipi ibunya. "Janji pada ibu, jaga pola makanmu, jangan lupa untuk menelpon ibu!" Ibu Felove sedikit meneteskan air mata. "Ibu, Felove nggak pergi jauh hanya di pusat kota saja. Jangan menangis ibu! Felove jadi ikut sedih," Felove kembali memeluk ibunya itu. "Baiklah bu, aku berangkat! Ayah aku berangkat!" Felove melepaskan pelukannya sembari mengambil tas ranselnya lalu berangkat dengan mobil yang menjemputnya di depan. Ayah merangkul ibunya yang masih menangis lalu melambaikan tangan untuk Felove yang berangkat dengan mobil jemputan itu. Saat perjalanan, melihat beberapa gedung pencakar langit dan akses jalan yang begitu ramai, membuat pandangan mata Felove tidak berkedip, terbayang dimatanya saat gambar dirinya dan minuman itu terpasang disepanjang jalan dan di tempel di banyak tempat. Pundi-pundinya pun pasti akan bertambah, sepanjang perjalanan itu Felove terus tersenyum, hingga akhirnya mereka sampai ke tujuan. "Nona, sudah sampai, " kata supir itu dengan sangat sopan. "Baik pak. Terimakasih." jawab Felove masih memandangi apartemen yang begitu tinggi dan terlihat mewah itu. Tiba-tiba seorang pelayan menggunakan sebuah jas hitam membukakan pintu mobil. "Silahkan turun, Nona! Pak Marel sudah menunggu di atas."  Felove terlihat begitu terkejut, keluar dengan sambutan hangat oleh pelayan. Kaki Felove keluar dari mobil membawa ransel besarnya kemudian, Felove mulai memasuki lantai loby apartement dan naik menggunakan lift di pandu oleh pelayan yang setia disampingnya sejak tadi. Tibalah Felove di sebuah lorong yang hanya tersedia tiga pintu, pelayan itu berjalan ke arah kiri dan memencet nomor sandi lalu membukakan pintu apartement, Felove di persilahkan masuk oleh pelayan itu lalu menutup pintunya ketika Felove sudah berhasil masuk. Felove masih tampak kebingungan, pintu yang sama ukurannya seperti rumahnya tapi di dalamnya seperti rumah mewah yang terdiri dari dua lantai dengan tangga layaknya istana negeri dongeng, kakinya berjalan dan membawanya untuk keliling setiap ruangan, ditemukan berbagai macam perabot rumah antik dengan desain yang unik, kamar mandinya sangat luas, ruang tamu di desain sangat minimalis tapi begitu elegan, terdapat kolam renang pribadi yang tidak terlalu besar dan satu tempat untuk mandi air panas, dilengkapi dengan taman yang hijau dan terlihat sangat terawat, selanjutnya, Felove menuju ke ruang tengah dimana terdapat sebuah tv led besar dengan sofa panjang berwarna putih di sana, Felove merebahkan dirinya di sofa lalu bersandar sejenak disana. Apa yang ku pikirkan? Tak pernah terbayangkan, aku bisa tinggal di tempat semewah ini, guma Felove dalam hati sambil memejamkan mata. "Apakah kamu sudah berkeliling?" suara Marel terdengar dari lantai atas. "Kamu juga ada disini?" Felove menata cara duduknya. "Bukankah kita akan tanda tangan kontrak?" Marel menjawab sambil meraba pegangan tangga pelan-pelan. "Oh, iya, ya!" Felove tersadar. Marel sampai di lantai bawah membawa map dengan pena, tanpa basa-basi setelah menemukan keberadaan Felove, Marel menyodorkan map dan pena. "Sepertinya kita sudah sepakat, kamu tinggal menandatanganinya saja," ucap Marel sambil meraba sofa di dekatnya lalu duduk. "Baiklah," Felove membuka map lalu menandatangani semuanya tanpa membaca dengan detail. "Aku sudah selesai menandatangani, " Felove menyerahkan kembali Mab dan pena itu kepada Marel. "Baiklah, besok aku akan memeriksanya, karena semua karyawan termasuk Mr Park sudah pulang,"Marel menerima map itu sambil menata kertasnya lalu kembali map itu di tutup. "Lalu? Apa yang kamu lakukan disini?" Felove sedikit terkejut melihat Marel tidak dengan siapapun. "Aku?" "Ya, kamu?"  "Aku penghuni kamar atas, ada di dalam kontrak sebagai pengganti biaya hidup selama minuman itu belum menghasilkan untuk perusahaan, maka kamu akan bekerja sebagai asistenku dan membantu untuk melayani segala kebutuhanku disini, apa kamu tidak membacanya?" Marel berkomentar dengan cukup santai. Felove mengernyitkan dahi, terlihat begitu emosi. "Kamu gila?kamu benar-benar tidak waras, kamu akan menjadikan aku pembantu?Aku tidak terima di perlakukan seperti ini!" Felove beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil tas ranselnya lagi dan berjalan menuju pintu keluar. Marel tahu Felove pasti akan pergi,  "Apakah kamu akan menyanyi-nyiakan kesempatan ini? Aku bukan seorang tuan rumah yang semena-mena, aku juga hanya akan meminta tolong menyiapkan banana coffee untuk dibawa ke kamarku dan menjadi asistenku untuk tugas kantor karena peter mengambil cuti tiga bulan untuk skripsinya, sedangkan pekerjaan lainnya aku tetap akan menggunakan layanan apartement, aku tidak akan mengingkari perjanjian di dalam kontrak untuk memasarkan produk banana coffee, kamu akan sukses dan kaya raya, kamu juga akan terkenal. Lagian, kontrak sudah di tanda tangani dan jika kamu pergi, maka denda lima ratus juta harus kamu bayar hari ini juga! Jika kamu mengajukan syarat, apa aku juga tidak boleh memiliki syarat? Padahal itu hanya sementara, setelah sukses apartement ini akan menjadi milikmu," Marel menjelaskan dengan terperinci. Sial!Pria ini sangat licik, kalau ayah dan ibu tahu aku tinggal dengan seorang pria matilah aku! Bagaimana ini?denda lima ratus juta, itu akan membuatku bangkrut dengan mendadak, Pikir Felove yang masih terlihat bimbang. "Aku bukan p****************g, aku tidak akan berbuat tidak senonoh dan diluar batas padamu, sepertinya usia kita tidak berbeda jauh, jika orang tuamu datang kita bisa melakukan skenario, aku akan bersembunyi," tambah Marel. Dia seperti bisa membaca pikiranku, mau tidak mau aku harus menerima kontrak ini, batin Felove yang masih terlihat kesal. "Kamu benar-benar tidak memberiku pilihan, baiklah, selama kamu tidak berbuat macam-macam dan memperlakukan aku sebagai pembantu, demi bahana coffee aku akan melakukannya!" Felove dengan berat hati menerima syarat itu. Tiba-tiba sakit kepala Marel kambuh, Marel jatuh ke lantai, kepalanya terbentur dan pingsan. "Hei, bangun! Jangan menakut-nakutiku!" Felove menggoyangkan kedua pipinya. Felove dengan susah payah membaringkan Marel di atas sofa, Felove yang membawa minyak angin, menuangkan sedikit di tisu lalu mendekatkan tisu itu ke hidup Marel. Perlahan matanya terbuka, kepalanya masih terasa pusing, dia melihat seorang wanita cantik masih memandanginya sejak tadi. Apa dia Felove?Apa ini nyata? Apa aku bisa melihat? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN