Ketika Janis pergi, Marel segera menghabiskan minumannya lalu pergi ke kamar atas. Entah mengapa, pikirannya sangat kalut saat ini. Dia terus memikirkan Felove, dia tidak berani berspekulasi mengapa Felove mabuk?mengapa sorot matanya mengisyaratkan bahwa dia sangat menderita tapi disisi yang lain dia terus mengingat bagaimana Zen mengutarakan perasaannya kepada Felove dan dia selalu memikirkan betapa mesra mereka berpelukan. “Kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakannya?kenapa dia menolakku?Kenapa dia begitu?Kenapa dia harus mabuk?” Marel terlihat begitu tidak mengerti dengan keadaan ini, “Arrggghhh,” Marel melempar semua barang di atas meja. “Pyar!” suara lampu tidur yang pecah tidak terelakkan. Marel terduduk di pinggir ranjangnya sendiri, memikirkan bagaimana cara menghilangkan per

