Dia meledak di dalamku hingga berkeping-keping. Membuatku menjerit-kan namanya. Cengkeramanku pada bed cover semakin menguat saat dia mengulang prosesnya lagi. Kenikmatan itu terhenti ketika seseorang memukul pipiku. Mata pun terbuka dan menemukan objek mimpi itu ada di sana. Ia menatap heran dengan dahi berkerut. Napasku masih memburu dan merasakan telah basah di bawah sana. Mimpi yang aneh. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya menempelkan telapak tangan ke keningku. Upayanya itu menaikkan gairah yang muncul akibat mimpi. Aku menepisnya dengan kasar. Bahkan hanya tangannya mampu membuatku terangsang. Sepertinya ada yang salah dengan hormonku. “Hari ini kamu ada janji dengan pembimbing skripsi, ‘kan?” tanyanya. Lagi. Tanpa menyadari aku yang memperhatikan bibirnya. Bibir itu pernah

