“Buun! Yogi dari tadi lihatin Ay. Ih kenapa, ya? Aku kakak iparnya.” ”Dia cuman senang aja, Ay. Kamu sudah lama nggak datang.” Lewat ujung mata aku melihat Yogi memperhatikanku. Saat aku menatap balik, dia arahkan matanya ke tempat lain. Aku sangat ingin dia membalas tatapanku. Bicara padaku tentang acara televisi kesukaannya. Bertanya kepadaku tentang kebiasaan abangnya semenjak menikah. Eh kurasa yang terakhir tidak perlu. Namun, Yogi takkan bisa melakukannya. Kedua bola mata Yogi tak pernah bisa membalas tatapan siapa pun. Bunda Mala membawa piring besar berisi buah semangka yang telah dipotong-potong. Dia duduk di sebelah Yogi dan mengelus puncak kepala anak bungsunya. ”Dia sayang kamu juga. Dia senang punya kakak yang cantik.” Bunda menjelaskan. Aku pindah duduk ke sebelah Bun

