“Apa gunanya aku cuti kalau kita cuma di rumah seperti ini?” protes Axel dengan wajah ditekuk. Matanya menatapku lurus. Nyaris saja aku tertawa karena tingkah konyol Axel. Lagi pula, siapa yang salah dan mengambil cuti mendadak. Dia bahkan tidak memberi tahuku lebih awal mengenai rencana yang telah disusun. Aku sedang menyiapkan desain terbaru untuk butik. Mana mungkin aku meninggalkannya. Axel seharusnya menanyakan dulu padaku mengenai hal ini. Atau paling tidak dia bisa mencari informasi dulu, apa yang sedang aku kerjakan, apa aku sedang sibuk atau tidak. Bukankah dia sangat ahli dalam hal penyelidikan. Mengapa kali ini dia justru ceroboh? Entah apa yang mengubahnya jadi begitu. Oke. Axel mungkin ingin memberikan sebuah kejutan untukku. Sesuatu yang sebenarnya bukan ciri khas seorang

