Nasha tampak terkejut dengan ucapanku. Sebenarnya sangat terkejut. Aku bisa melihat tangannya yang sedikit bergetar saat meletakkan gelas di meja tadi. Suaranya juga menjadi aneh. Aku yakin jika dia sedang menahan air mata. Mengapa begitu? Bukankah seharusnya Nasha senang karena aku menawarkan perceraian? Itu yang diinginkannya, bukan? Tetapi reaksi Nasha membuatku bertanya-tanya, apakah ada hal lain yang mengejutkannya? "Kenapa Mas mau bercerai?" Keningku berkerut mendengar pertanyaan Nasha. Seolah aku yang menginginkan perpisahan kami, padahal dia sudah menyiapkan segalanya. Jangan senang dulu. Aku tidak benar-benar ingin menceraikan Nasha. Sudah aku bilang kalau aku menginginkannya, bukan? Aku tidak sudi melepaskannya sampai kapan pun. Seberapa besar keinginan Nasha berpisah, tidak a

